Inilah Sosok Orang Minang Pendiri Partai Solidaritas Indonesia

5804

TOPIKINI.COM – Lama tak muncul ke permukaan, tahu-tahu nama Jeffrie Geovanie, pengusaha muda berdarah Minang, muncul di sebuah partai baru, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang bernomor urut 11, atau lebih dikenal sebagai partainya generasi milenial alias kawula muda. Di situ ia duduk sebagai Ketua Dewan Pembina.

Mungkin banyak yang belum tahu siapa pria yang kini duduk sebagai Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia periode 2014–2019 setelah terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari daerah pemilihan Provinsi Sumatera Barat pada Pemilu Legislatif 2014 ini.

Jeffrie tercatat sebagai alumnus lulusan dua perguruan tinggi di Jakarta yaitu jurusan Sastra Indonesia, Universitas Nasional serta Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta.

Kedua orang tuanya berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan seorang profesional dengan tugas terakhir di Yayasan milik PBB yang mengurus soal pengungsi Vietnam di Pulau Galang yang wafat ketika Jeffrie masih kecil sementara ibunya bekerja sebagai seorang PNS.

Tentang ibunya ini, Jeffrie pernah bercerita ketika diwawancarai oleh M Guntur Romli dari Islamlib.com sebagai tipikal perempuan Minang yang fanatik soal agama Islam dalam mendidik anak-anaknya.

“…Saya dari kecil memang diasuh oleh ibu karena ayah sudah almarhum. Jadi bagi kami apapun kata ibu harus dilaksanakan.”

Sebelum menekuni usahanya sendiri di bidang properti dan perhotelan, Jeffrie pernah bekerja di American Express Bank Ltd Jakarta, Direktur Trego Holdings Ltd Singapore, serta Direktur Bank Artha Prima Jakarta.

Pada tahun 2002, Jeffrie mendirikan Syafii Maarif Foundation atau lebih dikenal sebagai Maarif Institute, sebuah LSM yang aktif mengkaji masalah kebudayaan dan kemanusiaan di mana ia duduk sebagai Ketua Yayasan.

Jeffrie juga aktif sebagai salah seorang Dewan Penasehat Center for Strategic and International Studies (CSIS). JG, begitu dia dikenal, pernah menjadi Ketua Umum PB. Percasi, dan menjadi salah seorang anggota Dewan Redaktur Penerbitan Balai Pustaka.

Dikutip dari situs pribadinya Jeffriegeovanie.id, disebutkan bahwa karier politik Jeffrie dimulai ketika ia menjadi anggota Muhammadiyah dan kemudian bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN).

Pada tahun 2005, karier politiknya menanjak saat dicalonkan sebagai kandidat Gubernur Sumatera Barat oleh Koalisi Sakato yang berisikan 16 partai politik, berpasangan dengan Dasman Lanin sebagai wakilnya.

Dalam Pilkada tersebut, meski belum berhasil menjadi yang pertama, namun Jeffrie berhasil menduduki peringkat ketiga di bawah pasangan Gamawan Fauzi-Marlis Rahman serta Irwan Prayitno-Ikasuma Hamid.

Pada musim pemilihan 2009, Jeffrie berkampanye di bawah naungan Partai Golkar. Kali ini kiprahnya bersama Golkar menuai sukses dengan terpilihnya Jeffrie sebagai anggota DPR periode 2009 – 2014.

Jeffrie Geovanie

Namun pada Maret 2012, Jeffrie mengejutkan publik melalui pernyataan pengunduran dirinya dari Golkar. Beberapa sinyalemen media mengungkap kaitan pengunduran diri ini dengan rencananya berkonsentrasi di organisasi masyarakat, yakni Nasional Demokrat (Nasdem).

Karier politik Jeffrie berlanjut pada Pemilu 2014. Dia berhasil terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia dari daerah pemilihan Provinsi Sumatera Barat dengan raihan 195.930 suara, terbanyak ketiga setelah Irman Gusman dan Emma Yohana.

Meski dididik secara fanatik keagamaan oleh ibunya, Jeffrie termasuk tipe yang memiliki toleransi tinggi dalam beragama, terbukti ketika ia tidak memaksakan pelaksanaan ritual keagamaannya kepada keluarganya termasuk terhadap istrinya yang mualaf dan anak-anak.

Dalam naskah yang ia tulis berjudul “Melawan Politik Kebencian” di situsnya itu Jeffrie dengan sangat gamblang menentang politisasi agama yang terlalu berlebihan, termasuk cara-cara kotor seperti memproduksi fitnah dan kabar-kabar bohong (hoax).

Di PSI, partai berlambang bunga mawar, Jeffrie seperti berada di habitat alaminya di mana banyak bergabung orang-orang yang masuk dalam kategori kelompok yang “sudah selesai dengan dirinya sendiri.”

Kelompok orang-orang seperti itu diyakini tidak akan mudah tergiur dengan godaan korupsi dan akan lebih banyak meluangkan sisa umurnya untuk aktualisasi diri dan pengabdian kepada kepentingan orang banyak.

Selain itu, dalam laporan wawancara berjudul: Jeffrie Geovanie: “Tuhan Dapat Diajak Dialog” itu dapat disimpulkan bagaimana kedalaman pengalaman spiritual Jeffrie dalam mencari ‘wujud’ Tuhannya.

Dia menjadikan keseharian hidupnya sebagai wacana dialog dengan Sang Pencipta, semacam pengalaman spiritual ini oleh Buya Hamka disebut sebagai “tasawuf” yang mana tiap orang boleh jadi menjalani perjalanan spiritual yang berbeda-beda pula.

Bagaimanapun, kehadiran Jeffrie di PSI lebih pas diletakkan sebagai formalitas struktural semata, tanda apresiasi kepada dia karena telah memberi dukungan penuh bagi PSI, sebagai salah seorang donatur utamanya.

Hal itu penting, mengingat di tubuh PSI berlaku aturan main yang ketat bahwa pengurus harian partai atau orang-orang yang mengelola segala kepentingan partai dalam day-to- day basis (skala harian) mesti bebas dari partai lama manapun.

Karena itu, bisa dimaklumi jika nama Jeffrie Geovanie tidak dimunculkan dalam struktur pengurusan harian partai di situs resminya http://www.psi.id, kecuali dalam dokumen arsip di KPU dan Kemenkumdang.

Karena memang Jeffrie tidak memiliki kendali langsung apapun terhadap partai, selain sebagai pembina atau lebih tepatnya penasehat semata.

Sebetulnya, ketokohan Jeffrie yang sudah malang melintang di sejumlah partai memiliki nilai tambah tersendiri.

Ini penting mengingat kondisi perpolitikan di Tanah Air yang kini tengah dilanda kevakuman tokoh berintegritas, selain Jokowi, untuk berlaga di Pemilu 2019.

Bukan tak mungkin, kehadiran Ketua Umum PSI, Grace Natali, beserta Sekjen Raja Juli Antoni dan Ketua Tsamara Amany di Istana Negara belum lama ini sempat menyinggung masalah siapa cawapres ideal pendamping Jokowi.

Kenapa Jeffrie adalah figur yang pas untuk pasangan Jokowi maju di Pemilu 2019? Beberapa poin berikut menjadi bahan pertimbangan strategis:

Satu. Jeffrie terhitung sebagai tokoh muda yang berintegritas tinggi, bisa diterima oleh beragam kalangan termasuk elite-elite politik dan ormas-ormas.

Dua. PDIP tidak mungkin mencalonkan cawapres dari partainya sendiri setelah Jokowi, kalau tidak ingin dinilai ‘rakus’ dan ditentang oleh partai-partai lain dalam koalisi.

Tiga. Sejak pasangan Bung Karno dan Bung Hatta, orang Minang punya pengalaman traumatis pasca PRRI dan menghindari jadi orang nomor satu karena dianggap sebagai ‘umpan peluru’ dan cenderung menjadikan nomor dua sebagai karir tertinggi di negeri ini.

Artinya, Jeffrie tidak punya ambisi untuk menjadi RI 1 pada pemilu 2024 seperti yang dikhawatirkan jika jabatan cawapres dipegang oleh tokoh-tokoh muda lain yang lebih ambisius.

Empat. Jeffrie dikenal memiliki kedekatan hubungan dengan sejumlah pengusaha keturunan, sehingga kehadirannya diharapkan bisa mengikis habis potensi menguatnya dikotomi dan sentimen SARA di tengah masyarakat.

Lima. Jeffrie menjadi simbol perlawanan terhadap kelompok oposisi yang notabene dikomandoi oleh orang sekampungnya sama-sama dari Sumbar, Fadli Zon bersama Partai Gerinda-nya.

Kehadiran Jeffrie di kubu Jokowi diperkirakan akan bisa menarik kelompok milenial dari Gerindra untuk berpaling mendukung Jokowi.

Hal itu bukanlah sesuatu mustahil terjadi. Contoh terbaru akhir-akhir ini adalah dirilisnya tulisan gubernur Sumbar Irwan Prayitno, seorang kader PKS, yang mengelu-elukan Jokowi sebagai tokoh ideal, hanya karena takjub dengan ketulusan Jokowi berbuat untuk rakyatnya, setelah seharian menemani Presiden blusukan ke beberapa tempat.

Dalam artikel berjudul “Blusukan Presiden Jokowi” yang dimuat di Harian Singgalang, 15/2, Irwan dengan tegas mengatakan apa yang dilakukan Jokowi sama sekali bukan pencitraan, tapi layaknya kerja seorang pemimpin yang mengayomi rakyat.

Karena itu, bisa disimpulkan bahwa Jeffrie sebagai pasangan untuk cawapres Jokowi pada pemilu 2019 adalah pilihan yang sangat logis.

Penulis: Ali Cestar (Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik untuk sementara berdomisili di Hambalang, Bogor)

Nama: Ali Cestar
Alamat: Haji Ramin no 38 Radar AURI, Kp Tipar Rt 01 Rw 09 Mekarsari,
Cimanggis, Depok 16952
Pekerjaan: Konsultan Media
Facebook: http://www.facebook.com/cestar
Twitter: @ali_cestar
Instagram: ali_cestar
Blog: http://cestarweb.wordpress.com
Whatsapp: 0821-5531- 5751
Bank: BCA Rek No 084-037- 5811 a.l. Ali Cestar Drs

Loading...