Membangun Moderasi Beragama di Kalangan Pelajar Sebagai Upaya Mencegah Intoleransi di Era Digital
TOPIKINI, PADANG - Pada saat ini, globalisasi dan perkembangan teknologi semakin berkembang yang menyebabkan batas antara negara – negara semakin transparan dan arus informasi yang semakin cepat.
Hal ini berdampak pada gaya hidup, cara berinteraksi, berperilaku dan berpikir individu – individu khususnya para pelajar yang sering berinteraksi dengan media sosial.
Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp menjadi ruang baru bagi pelajar sekarang dalam membentuk opini sekaligus tempat penyebaran berbagai budaya dari luar, termasuk yang bersifat intoleran.
Dilansir dari SETARA Institute 2023, sebanyak 24,2 % para pelajar menjadi intoleran pasif yang dapat berpotensi menjadi intoleran aktif jika tidak dilakukan pencegahan.
Moderasi beragama hadir sebagai cara nyata dalam mencegah sikap intoleran di kalangan pelajar dengan menekankan keseimbangan, toleransi, sikap terbuka, serta penerimaan terhadap keberagaman sebagai realitas sosial negara kita kepada para pelajar.
Upaya membangun moderasi beragama di lingkungan pelajar merupakan langkah strategis untuk mencegah berkembangnya sikap intoleransi di era digital.
Pentingnya Moderasi Beragama di Kalangan Pelajar
Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menekankan pada keseimbangan antara teks dan konteks, antara keimanan dan kemanusiaan, serta antara identitas keagamaan dan kehidupan berbangsa.
Moderasi beragama mengajarkan kita untuk tetap teguh dalam nilai nilai ajaran agama namun tidak berlebihan yang damai, adil, dan menghargai sesama.
Melalui moderasi, pelajar akan diberikan pemahaman dan diajak untuk melihat bahwa hidup berdampingan dalam perbedaan sangat penting dalam menjaga persatuan dan kedamaian di sekolah maupun di masyarakat luas.
Kementerian Agama RI merumuskan empat indikator utama moderasi beragama, yaitu: Komitmen Kebangsaan, Toleransi, Anti – Kekerasan, Penerimaan terhadap Tradisi Lokal.
Dalam ruang lingkup pelajar, indikator – indikator ini dapat diterapkan melalui sikap menghargai teman yang berbeda agama, mendorong kemampuan kritis siswa untuk dapat memilah informasi yang mengandung intoleransi, berpartisipasi melakukan kegiatan kebudayan lokal, dan melalui sikap moderat lainnya.
Pancasila Menjadi Fondasi Penting Dalam Moderasi Beragama
Indonesia merupakan negara multikultural yang memiliki keberagaman luar biasa, mulai dari suku, agama, ras, dan bahasa yang menjadi kekayaan dan kekuatan bangsa kita.
Namun, juga dapat menjadi ancaman bagi negara kita jika terjadi konflik akibat keberagaman yang ada sehingga kita membutuhkan alat persatuan dan pedoman dalam bernegara.
Pancasila merupakan ideologi dan pedoman bagi masyarakat indonesia untuk hidup dalam keberagaman yang ada.
Nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi fondasi etika bagi masyarakat indonesia dalam berperilaku.
Melalui moderasi ini, kita dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan mengulas kembali kepada para pelajar tentang upaya yang dapat dilakukan untuk bersikap toleransi sesuai dengan nilai – nilai Pancasila, seperti dalam sila pertama yang mengajarkan untuk menghargai setiap keyakinan agama lain dan bebas untuk memilih keyakinan yang mereka yakini.
Dengan demikian, nilai leluhur bangsa ini tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman dan rasa persatuan dalam masyarakat multikultural ini tetap terjaga sampai pada generas berikutnya.
Moderasi Beragama menjadi aksi nyata bagi kita dalam mencegah terjadinya sikap intoleransi yang menjadi ancaman bagi Indonesia sebagai negara multikultural.
Para pelajar sebagai generasi penerus bangsa sangat memerlukan upaya ini sebab mereka berada di era digital dimana arus informasi dari belahan dunia sangat cepat memungkinkan masuknya intoleransi.
Melalui pendidikan karakter, literasi digital, dan kolaborasi antar lembaga pendidikan, moderasi beragama dapat dibangun sebagai benteng kuat untuk mencegah intoleransi.
Penulis : Rindiani Zulaykah, Mahasiswi Jurusan Administrasi Publik Universitas Andalas Padang.

