Kisah "Bunga", Susu Pertama, dan Tim yang Menembus Hutan demi Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat, Titik Balik yang Menyelamatkan "Bunga" dari Lingkaran Narkoba
(Catatan: "Bunga" bukan nama sebenarnya)
TOPIKINI, PADANG - Di Sumatera Barat, ada seorang siswi Sekolah Rakyat yang kami sebut saja namanya "Bunga".
Hari pertama masuk asrama, ia tidak berhenti menangis. Berhari-hari air mata itu jatuh, membasahi bantal di ranjang bertingkat kamar asrama Sekolah Rakyat. Ia rindu neneknya. Satu-satunya orang yang masih memeluknya erat ketika dunia terasa runtuh.
"Bunga" adalah anak korban perceraian. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, ia tinggal dengan sang nenek. Sementara sang ayah, orang yang seharusnya menjadi pelindung, mendekam di balik jeruji besi karena kasus narkotika.
Lingkaran paling kelam itu justru dimulai dari rumah. "Bunga" pernah diajak ayahnya sendiri untuk mencoba barang haram itu.
"Di awal-awal, aku sempat coba," akunya pelan, menunduk. Rasa bersalah itu menghantui setiap malamnya.
Sekolah Rakyat memutus rantai itu.
Sejak "Bunga" bersekolah dan tinggal penuh di asrama, ia dijauhkan dari lingkungan yang dulu menyeretnya. Di sini, tidak ada ruang untuk diam dan tenggelam.
Jam empat pagi ia sudah bangun untuk sholat tahajud dan sholat subuh berjemaah. Pagi hingga siangnya sekolah. Sorenya, tangannya sibuk dengan berbagai kegiatan seperti merangkai buket, belajar memasak, menari, atau olahraga. Rutinitas padat dan pendampingan guru menggantikan kekosongan yang dulu diisi rasa takut dan kenangan buruk.
"Banyak kegiatan yang aku suka. Di asrama, aku punya kegiatan terus. Jadi nggak sempat mikir yang aneh-aneh," kata "Bunga".
"Awalnya sangat berat. Tapi sekarang, aku malah betah. Di asrama rasanya seperti punya keluarga baru yang menjaga dan tempat berbagi."
Dora Indriyanti dari Direktorat Anak Kemensos RI yang mendampingi "Bunga" melihat dampaknya langsung.
"Dulu dia tidak percaya diri, sering menutup diri, dan terjebak di masa lalu. Sekarang, setelah tinggal di Sekolah Rakyat, semangatnya mulai tumbuh. Dia berani bercerita, lebih ceria, berani bermimpi lagi," ujarnya.
(Di Sekolah Rakyat sholat 5 waktu berjemaah)
Perubahan "Bunga" juga dirasakan keluarganya.
Idul Adha tahun ini, sang ayah menghirup udara bebas. Ia sempat bertemu "Bunga" saat anaknya libur.
Dengan menyesal ia meminta maaf atas kehilafannya. Kini ia bekerja serabutan. Ia justru yang paling paham pentingnya jarak itu. Pesannya untuk anaknya: "Rajin-rajin belajar di Sekolah Rakyat. Ini tempat yang aman buat kamu, jauh dari lingkungan lama."
Nenek yang membesarkan "Bunga" sejak kecil pun lega. "Nenek senang. Bunga gemuk dan lebih cerah sejak sekolah di Sekolah Rakyat," tutur "Bunga" menirukan ucapan neneknya.
Ketika ditanya cita-citanya, ia ingin jadi pramugari atau polwan. "Aku ingin membuktikan pada orang di luar sana, aku bisa mengubah nasib keluarga," katanya.
Dari anak yang hampir terjerumus, menjadi anak yang punya mimpi.
Di Sekolah Rakyat, "Bunga" yang hampir layu, mulai tumbuh lagi.
Karena bagi anak seperti "Bunga", yang dibutuhkan bukan hanya sekolah. Tapi tempat aman, jadwal yang mengisi, dan orang-orang yang tidak lelah mengulurkan tangan.
"Sekolah Rakyat adalah program strategis nasional yang tidak bisa kita tunda. Ini tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Di Solok masih banyak anak-anak kita yang terpaksa putus sekolah, bukan karena malas, tapi karena ekonomi dan keluarga yang rapuh. Sekolah Rakyat hadir untuk memutus mata rantai itu," tegas Bupati Solok, Jon Firman Pandu.
(Belajar di Sekolah Rakyat dengan layar sentuh)
Ruang Minat Jadi Kelas Kehidupan di SRMP 4 Padang
Di halaman belakang Kantor BBPPKS Kota Padang, Sumatera Barat, di saat sekolah lain libur, ada pemandangan berbeda di sekolah ini. Sabtu pagi berubah jadi kelas terbuka di halaman yang teduh dan hijau. Ibu Yessy mengajarkan anak-anak meronce bros dan gantungan HP. Selain meronce, yang mau belajar merajut, bahasa Inggris, menari, karate, semua dibuka sesuai minat.
"Saya senang berbagi ilmu, karena jika serius, bisa menghasilkan uang, apalagi anak-anaknya juga antusias belajar," ujar Ibu Yessy yang sengaja didatangkan pihak SR.
Kepala Sekolah Rakyat (SRMP) 4 Padang, Azizah Batubara, mengatakan selain proses belajar mengajar, ada banyak kegiatan sesuai minat anak. Ada kelas memasak, meronce, merajut, bahasa Inggris, membatik, menari, olahraga, dan lain-lain.
"Setiap siswa ketika masuk Sekolah Rakyat melewati tes minat, bakat, dan karakter. Untuk mempermudah mendidik masing-masing siswa," ujar mantan guru di SMA 7 Padang ini.
Di Padang, SRMP 4 Padang saat ini menampung 145 siswa dengan 14 wali asuh, 6 wali asrama, dan tenaga pengajar.
(Suasana siswa SRMP 4 Padang)
Anak Kuli Angkat yang Ingin Jadi KOWAD
Erzizah Febrianigun Chanigo, 14 tahun, masih ingat hari pertama masuk SRMP 4 Padang.
"Awalnya sedih. Jauh dari rumah, jauh dari orang tua dan harus tinggal di asrama."
Kini hampir setahun berlalu. Erzizah jadi Ketua OSIS. Hobinya olahraga dan menari tersalurkan. Sholatnya lebih rajin, tutur katanya lebih santun. Ia bercita-cita jadi KOWAD.
"Dulu ibu yang mencuci dan menyetrika baju. Sekarang setelah sekolah di SR, diajarkan jadi mandiri," ujarnya tersenyum.
Andriani, ibu Erzizah, bercerita sambil menahan air mata. Di rumah, keluarganya kadang makan sekali sehari dari upah bapaknya yang jadi kuli angkat di Jalan Bypass Padang. Berkali-kali Andriani mengucapkan rasa syukur, anaknya bisa sekolah di Sekolah Rakyat.
"Yang paling membuat saya haru, saat kunjungan orang tua ke sekolah, anaknya minta dibacakan Al-Fatihah di kepalanya sebelum ujian," ujarnya dengan nada bicara menahan tangis.
Wali Asrama Muhammad Afandi menambahkan, "Menghadapi anak-anak, saya selalu mempelajari dulu latar belakang masing-masing anak, agar bisa menghadapi dengan sabar dan empati."
(Erzizah, siswi berprestasi SRMP 4 Padang, Andriani (ibu) & Kepsek SRMP 4 Padang, Azizah Batubara)
Dukungan terhadap program ini juga datang dari pemerintah kota. Wali Kota Padang, Fadly Amran, menegaskan komitmennya.
"Sekolah Rakyat adalah bukti bahwa kesetaraan menjadi prioritas pendidikan. Kami memastikan setiap anak di Kota Padang berhak mendapatkan pelayanan pendidikan terbaik, di mana pun ia berada," tegas Wali Kota Padang, Fadly Amran.
Lain Lagi Cerita Siswa Sekolah Rakyat (SRMP) 5 Solok, sekolah yang berada sekitar dua jam dari pusat Kota Padang.
Makan Susu dan Daging Pertama Kali di Asrama Sekolah Rakyat
Di SRMP 5 Solok, Kepala Sekolah Vera Herlily bercerita tentang awal-awal sekolah berdiri 14 Juli 2025.
"Hati saya sedih sekali, ketika mengetahui ada anak-anak yang selama ini belum pernah makan daging, belum pernah minum susu."
Ketika pertama kali mendapat susu kotak, ada anak yang tidak langsung meminumnya. Ia menyimpannya untuk adik di rumah.
"Nanti susu kotak itu agar dikasih ke adiknya," ujar Vera menirukan.
Di awal-awal, banyak anak mengeluh sakit perut. Setelah diperiksa Dinas Kesehatan, makanan dinyatakan aman dan layak.
"Ternyata selama di rumah, mereka hanya makan sekali sehari. Kadang sehari tidak makan sama sekali. Jadi perutnya tidak terbiasa makan tiga kali sehari," jelas Vera.
Dua minggu pertama, tangis dan keluhan sakit jadi pemandangan sehari-hari. Rata-rata butuh dua bulan hingga mereka merasa nyaman.
"Anak-anak di sini datang dengan luka dan latar belakang beraneka ragam. Tugas saya mendampingi dengan sabar dan kasih sayang, sampai mereka percaya bahwa mereka berharga dan layak bermimpi besar," ujar Try Wahyu, Wali Asuh SRMP 5 Solok.
18 Tahun Baru Masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas di Padang
Di SRMA 4 Padang, ada 43 siswa yang dapat kesempatan kedua. Dari yang baru masuk SMA di usia 18 tahun, sampai yang bercita-cita ingin jadi guru seperti Aulia Zahwa dari Bungus Teluk Kabung, Padang.
"Bahkan ada siswa yang sudah 18 tahun baru masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas. Tidak masalah, asalkan anaknya punya semangat sekolah," kata Kepala Sekolah Yulindra.
Dua bulan pertama, siswa tidak langsung belajar mata pelajaran. Mereka belajar empati dulu, saling mengenal latar belakang masing-masing.
Aulia Zahwa, 16 tahun, masuk Sekolah Rakyat karena ingin hidup lebih disiplin dan mengejar cita-citanya menjadi guru.
"Guru SD saya sangat baik, ngomongnya sangat lembut. Jadi ingin jadi guru seperti beliau," ujarnya malu-malu.
Pernah juga ada siswa yang kabur setelah sholat berjemaah di masjid. Guru-guru sempat khawatir, mengecek CCTV hingga ke rumah sakit. Ternyata ia pulang ke rumah karena rindu orang tua, ujar Kepsek yang sudah mengabdi 30 tahun sebagai tenaga pendidik.
(Siswa-siswa Sekolah Rakyat MP 5 Solok)
Tahukah Anda, bagaimana anak-anak bisa sekolah di Sekolah Rakyat?
Panas menyengat. Jalan setapak kiri kanan hutan karet membentang. Tidak ada motor yang bisa lewat. Satu-satunya cara hanya berjalan kaki.
Inilah medan yang harus ditempuh tim Kemensos RI, Dinsos, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Solok selama beberapa hari. Tujuannya satu: memastikan 60 anak calon siswa Sekolah Rakyat benar-benar layak dan siap belajar dari 170 anak yang diajukan.
Untuk sampai ke rumah Meisya Octavia, 13 tahun, tim harus turun ke lembah, menaiki bukit, dan melewati kebun karet warga. Kurang lebih setengah jam. Tidak ada papan nama jalan. Tidak ada akses mobil. Hanya ada satu petunjuk: "Rumah anak yang mau sekolah itu di ujung sana, Bu."
Begitulah survei calon siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 5 Kabupaten Solok berjalan di pertengahan Juni 2026.
Panas jam satu siang di Kabupaten Solok menusuk kulit. Di ujung tanjakan Jorong Kubang Tigo, Batu Lirik, Desa Tanjung Balik, Kecamatan X Koto Di Atas, tim survei tengah memverifikasi kondisi calon siswa.
Di depan rombongan, Dora Indriyanti Trimurni memimpin langkah. Pegawai Direktorat Anak Kemensos RI ini sudah basah kuyup oleh keringat. Di tangannya, map cokelat berisi daftar 170 nama anak calon siswa SRMP 5 Kabupaten Solok.
"Hari ini targetnya tiga rumah. Kalau kuat, empat," katanya sambil mengatur napas. Di sampingnya, tim dari Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan Kabupaten Solok mengangguk. Sesekali mereka berhenti untuk istirahat, diselingi gelak tawa.
Jalan untuk motor berhenti di bibir kebun karet. Setelah itu hanya ada jalan setapak selebar satu telapak kaki. Turun, naik, turun lagi. Akar pohon mencuat jadi pijakan alami.
"Lewat sini cepat, Bu. Tapi kalau hujan, licin sekali. Pernah ada yang jatuh," ujar warga yang menemani tim.
Setengah jam kemudian, rumah pertama terlihat. Pondok kayu sederhana dengan atap seng karatan. Di teras, seorang ibu setengah baya langsung berdiri, wajahnya tegang bercampur harap.
"Benar dari Kemensos, Bu? Anak saya yang namanya Meisya Octavia?"
Dora tersenyum dan mengulurkan tangan. "Iya, Bu. Kami mau lihat kondisi rumah dan tanya-tanya sedikit. Boleh masuk sebentar?"
Di dalam, tidak ada kursi. Hanya tikar. Meisya duduk di sudut. Matanya besar, menatap tim survei tanpa berkedip. Ia lulus SD tahun ini. Ongkos dan biaya sekolah jadi tembok tinggi bagi keluarganya.
Di sinilah Sekolah Rakyat masuk. Gratis. Asrama, makan, seragam, buku, semua ditanggung negara. Tapi sebelum itu, tim harus memastikan: apakah keluarga ini benar-benar membutuhkan? Apakah anaknya layak dan bersedia?
Dari 170 anak yang diusulkan, hanya 60 orang yang lolos verifikasi. "Kami bukan mencari yang miskin ekstrem saja. Kami mencari yang butuh, yang punya semangat, dan yang benar-benar akan memanfaatkan kesempatan ini," jelas Dora.
Di rumah kedua, seorang bapak paruh baya takut anaknya berhenti di SD saja. Suaranya bergetar.
Dora hanya mengangguk, lalu menulis di mapnya: _Orang tua sangat mendukung. Anak mau sekolah. Kondisi ekonomi di bawah garis miskin._
"Panas, capek, kaki sakit, sesak napas naik turun bukit, itu biasa. Tapi kalau ingat anak-anak ini, rasanya ringan lagi," kata Dora saat tim kembali ke jalan besar.
(Di Kabupaten Solok, tim Kemensos RI, Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan Kabupaten Solok menuruni lembah dan menaiki bukit melakukan verifikasi ke rumah calon siswa Sekolah Rakyat.)
Sekolah Permanen di Kabupaten Dharmasraya, di Kota Padang Menyusul 2027
Pemerintah tengah membangun Sekolah Rakyat permanen di Kabupaten Dharmasraya di atas lahan 10 hektare. Fasilitas ini akan jadi pusat layanan pendidikan bagi siswa Sekolah Rakyat di Sumbar.
Kepala BBPPKS Padang, Wildan, mengatakan siswa dari sekolah rintisan akan dipindahkan bertahap setelah operasional dimulai. Pembangunan Sekolah Rakyat permanen di Koto Tangah, Padang, ditargetkan mulai 2027.
Sekolah Rakyat dirancang sebagai program pendidikan berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan rentan. Tujuannya satu: memutus rantai kemiskinan antar generasi.
Di SRMP 5 Kabupaten Solok, di SRMP 4 Padang, di SRMA 4 Padang, anak-anak di Sekolah Rakyat membuktikan satu hal: terlambat tidak pernah berarti hilang. Selama masih ada tangan yang mau menembus hutan, selama masih ada asrama yang mau disebut rumah, maka mimpi akan selalu punya tempat untuk tumbuh lagi.(Zulia Yandani/lia)

