Kurir JNE dari Ujung Sumatera: Menembus Hutan dan Ombak Laut, Menjaga Amanah Pelanggan
TOPIKINI, MENTAWAI – Di ujung barat Sumatera, dua titik JNE menjadi urat nadi pengiriman paket di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Di Tua Pejat, 9 tahun mengabdi. Di Siberut, 15 tahun mengabdi.
Dua angka itu bukan sekadar waktu, tapi bukti bagaimana amanah menembus ombak, menyeberangi anak sungai, menaklukkan hutan, mendaki bukit, dan melintasi jalan berlubang serta berlumpur.
Jam 7 pagi, Kendoro yang akrab disapa Afdal, sudah berdiri di depan kantor JNE Tua Pejat dengan helm di tangan dan kardus laptop. Ia ditemani seorang rekan. Hari itu tujuannya Betumonga, Sipora Utara, untuk mengantar laptop bantuan pemerintah bagi sekolah-sekolah di Kepulauan Mentawai.
“Berangkat pagi-pagi sekali. Kalau lancar, sekitar jam 12 siang sudah sampai di sekolah-sekolah di Betumonga. Kalau hujan, bisa sore baru tiba,” katanya.
Kendoro, 27 tahun, anak ke-4 dari 8 bersaudara. Ia merantau dari Siberut ke Tua Pejat sejak lulus SMA karena di kampungnya lapangan kerja hampir tidak ada. Kini, ia menjadi salah satu dari 4 kurir JNE yang setiap hari bertarung dengan beratnya geografis Mentawai.
Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah kabupaten termuda di Provinsi Sumatera Barat. Wilayahnya mencakup 10 kecamatan: Pagai Selatan, Pagai Utara, Siberut Barat, Siberut Barat Daya, Siberut Selatan, Siberut Tengah, Siberut Utara, Sikakap, Sipora Selatan, dan Sipora Utara. Tua Pejat adalah ibu kotanya.
Dari Padang ke Tua Pejat dibutuhkan 4 jam menggunakan kapal cepat, atau 8 hingga 10 jam jika naik kapal Ambu-Ambu. Namun perjuangan sebenarnya baru dimulai setelah tiba di Tua Pejat.
(Foto: Perjuangan kurir JNE antar paket ke pelosok Mentawai)
6 Jam di Hutan, 1 Jam di Laut, Jutaan Rupiah untuk Satu Paket
Sejak 9 tahun lalu, JNE Tua Pejat dikelola oleh Tupal Pasoran, 47 tahun.
Tantangan terbesar ada di daerah Betumonga, Pukarayat, dan Beriulou di Kecamatan Sipora Utara.
Alternatifnya jalur laut menggunakan speedboat yang ditempuh dalam 1 jam. Namun biayanya bisa mencapai jutaan rupiah untuk sekali sewa.
“Selain perlu tim tangguh, kami harus hati-hati memilih kurir karena mereka membawa amanah pelanggan,” ujar Tupal.
Laptop dan TV untuk Anak Sekolah
Pengalaman yang paling diingat Kendoro adalah mengantar laptop bantuan Pemerintah ke pelosok.
“Berangkat jam 7 pagi, melewati jalan setapak, tepi pantai, sungai, bukit, dan lereng. Sekitar jam 12 siang, kami sampai di sekolah-sekolah di Betumonga,” ceritanya.
Jalan tidak beraspal, berlubang, berlumpur, dan licin. Bertemu ular dan biawak sudah biasa. Jika warga biasa butuh 8 jam, kurir berusaha lebih cepat agar tidak pulang kemalaman.
Pernah juga Kendoro mengantar televisi besar lewat laut.
Sesampai di sekolah, barang dicek terlebih dahulu. Kendala lain adalah jaringan seluler yang sering mati, sehingga nomor penerima tidak bisa dihubungi.
(Video: Barang dengan ukuran besar, diantar kurir JNE Tua Peijat menggunakan jalur laut ke Betumonga, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai.)
Terdampar 2 Hari di Bataet
Cerita serupa terjadi di Siberut. JNE Cabang Siberut sudah 15 tahun mengabdi melayani warga dengan 3 orang di kantor dan 3 orang di agen. Mencari kurir di sana tidak mudah.
“Faktor kepercayaan menjadi utama. Kami takut uang COD disalahgunakan jika tidak kenal dekat,” kata Elmiyati, 47 tahun, yang mengelola JNE Siberut bersama suaminya, Edi, 47 tahun.
Salah satu daerah terberat adalah Bataet, Siberut Barat. Perjalanan 4 jam menggunakan speedboat berkapasitas 10 orang menghabiskan biaya sewa hingga Rp15 juta.
“Pernah kami berangkat saat cuaca baik, tapi saat pulang badai datang dan kami terdampar dua hari di Bataet,” kenang Elmiyati.
Mereka pernah membawa 80 laptop bantuan pemerintah untuk sekolah-sekolah di Siberut Utara, Selatan, Tengah, dan Barat. Karena itu, cuaca harus diperhitungkan dengan sangat teliti.
Bukan Sekadar Kirim Barang
Di Mentawai, JNE menjadi jembatan antara warga dengan dunia luar. Awalnya hanya untuk dokumen, kini membantu warga mengantar barang kebutuhan sehari-hari.
Ombak tinggi, badai, jalan buruk, hujan lebat, dan jaringan yang tidak ada menjadi kendala terbesar. Namun Kendoro tetap bersyukur.
“Saya merantau untuk mencari kerja dan bisa membantu warga Mentawai. Alhamdulillah, selama bekerja di JNE belum pernah mengalami kecelakaan,” katanya.
(Foto; Kantor Cabang JNE Tua Peijat)
Suara Pelanggan
Andre, 26 tahun, warga Sikabaluan yang kini bekerja di Tua Pejat, Mentawai, mengaku sudah menjadi pelanggan setia JNE sejak kuliah di Padang hingga bekerja di Mentawai.
“Dengan adanya JNE, walaupun tinggal di kepulauan, saya tetap bisa berbelanja online dari daerah mana saja. JNE menjadi satu-satunya jasa pengiriman paket yang saya percayai,” ujar Andre.
Ratusan paket, ribuan kilometer, dan satu janji yang tak pernah dilanggar: “sampai”.
Di ujung barat Sumatera, di antara ombak dan hutan, ada kurir-kurir yang tak pernah menyerah. Karena bagi mereka, setiap kardus yang dibawa bukan sekadar barang. Ia adalah titipan, harapan, amanah, dan doa seseorang yang menunggu di ujung jalan yang sulit.
Kepala JNE Sumatera Barat, Ahmad Junaidi, menegaskan komitmen JNE untuk terus berinovasi dan memperluas layanan hingga ke pelosok negeri.
“Kami ingin memastikan setiap pelanggan merasakan pengalaman terbaik, karena itulah makna Connecting Happiness yang kami bawa,” ujarnya.(Zulia Yandani/Lia)

