Pesan Ayah Tunanetra Yang Mengantarkan Kompol Jon Hendri Menjadi Terang Bagi Sesama
TOPIKINI, PADANG PARIAMAN – Dari gelapnya seorang ayah tuna netra, lahirlah seorang polisi yang paling jeli melihat air mata warga.
Di balik baju dinas dan pangkat di pundaknya, Kompol Jon Hendri masih menyimpan luka: tidak sempat membahagiakan ayahnya.
Pria kelahiran Sungai Sariak, 14 Juli 1973 ini dibesarkan oleh Juari, seorang ayah tuna netra yang setiap hari berjualan kopi, membuka 1000 butir kelapa, dan merajut atap rumbia dengan tangan yang penuh tusukan duri.
Dari gelapnya dunia sang ayah, lahirlah satu kalimat yang jadi kompas hidup Jon Hendri hingga saat ini: "Nak... jadilah berguna untuk orang banyak."
Kalimat itu ia genggam erat hingga kapan pun.
Masa kecil Jon penuh perjuangan. Tinggal di rumah kayu berpenyangga bambu, Jon sudah memikul 15-20 kg kopra sejak SD untuk membantu sang ayah dan biaya hidup keluarga.
Saat duduk di bangku SMP ia mengantar kopra pakai pedati kerbau sebelum berangkat ke sekolah.
Tamat SMA, ia banting tulang di Terminal Aur Kuning, Kota Bukittinggi demi mencukupi biaya kuliah Hukum di UMSB. Tahun 2000, ia lulus sebagai perwira polisi.
Tapi ayahnya keburu dipanggil Tuhan sebelum melihat anaknya menjadi polisi. Ibunya menyusul tahun 2008.
"Paling sakit itu, saat pelantikan menjadi polisi perwira pertama di ruang yang sakral itu... Ayah sudah tiada..tidak bisa menyaksikannya ," ucapnya lirih.
Pulang ke Rumah, Pulang ke Kebun Untuk Menepati Janji
Kini sebagai Kasubdit 3 Ditintelkam Polda Sumbar, Jon Hendri tidak sendirian. Ada istri tercinta, Engsih Zelvina, dan tiga anaknya, Arfa Faizasyah Hendri, Zafran Faizasyah Hendri, dan Sainala Sanum Hendri yang jadi penyemangat sekaligus saksi perjuangannya.
"Setiap pulang dinas, hal pertama yang saya lakukan adalah sujud syukur. Lalu peluk istri dan anak-anak. Karena saya tahu, tidak semua orang punya kesempatan itu," ujar mantan Wakapolres Pariaman ini.
Dari gaji yang dikumpulkan bersama Engsih dan hasil bertani sejak tahun 2000, mereka membeli tanah di Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Belasan hektare. Tanah yang tidak produktif di beberapa titik ia sulap jadi kebun pepaya. Sekitar 12 ribu pohon pepaya ia tanam, dengan mempekerjakan setidaknya 12 orang setiap harinya.
Warga memanggilnya "Jon Batiak". Bahasa Minang "batiak" artinya pepaya. Jon polisi yang juga dikenal sebagai petani buah pepaya.
Tak sampai di situ, 27 kapling tanah hasil kerja kerasnya, ia wakafkan kepada keluarga kurang mampu dan korban bencana di Sumbar. Bukan karena ia kaya. Tapi karena ia dan keluarga ingin menepati pesan ayahnya.
Bahkan anak-anaknya, Arfa, Zafran, dan Sanum, sering ikut ke kebun saat libur. "Saya ajarkan kepada anak anak , rezeki itu untuk berbagi," ujar Jon.
Ia juga aktif dalam program sosial "Cik Uniang Berbagi" yang membantu pemasangan listrik gratis bagi rumah warga yang 30 tahun gelap gulita belum menikmati aliran listrik di pelosok Kabupaten Pariaman.
"Rumah warga yang belum menikmati listrik itu lumayan jauh di pelosok Pariaman. Kita yang siapkan kabelnya hingga biaya pemasangan listrik," ujar Jon Hendri.

Foto : Kompol Jon Hendri sedang berada di kebun pepaya
Saat Pamsimas Mati, Ia Jadi "Jon Batiak" Penyalur Air Bersih
Ujian terbesar datang akhir tahun 2025. Banjir dan longsor menerjang Nagari III Koto Aur Malintang Utara, Kabupaten Padang Pariaman. Jaringan Pamsimas jebol. Pipa pecah.
Sumber air tertutup material. Ratusan warga kesulitan air bersih untuk masak, mandi dan MCK.
Di tengah krisis air bersih itu, Zai, 60 tahun meninggal dunia. Warga bingung karena tak ada air bersih pun untuk memandikan jenazah.
Saat itu Jon Hendri masih menjabat Wakapolres Pariaman. Ia langsung mengangkut air bersih dari bukit.
"Saat itu saya cuma mikir: kalau ini ayah saya, saya juga mau ada yang menolong," katanya.
Hitra Riyanto, Wali Jorong Padang Lariang Barat, menuturkan: "Beliau nggak pernah nunggu diminta untuk membantu. Lihat warga susah, langsung turun. Saat Pamsimas kami mati, beliau datang bawa air untuk memandikan jenazah dan toren untuk kebutuhan air warga."
Amri Besman, Wali Nagari III Koto Aur Malintang Utara, menambahkan: "Tak hanya untuk memandikan jenazah. Berton-ton air bersih setiap hari dipasok beliau untuk mandi dan MCK warga, sampai krisis selesai. Bagi kami beliau bukan polisi. Beliau keluarga."
Bahkan usai bencana, Jon membuat sumur pompa sebagai sumber mata air alternatif warga jika krisis air bersih terulang kembali.
Zai sendiri, 8 bulan sebelum meninggal, juga pernah mendapat bantuan rumah layak huni dari Jon. Dulu almarhum tinggal di gubuk sangat sederhana.
Herman Malai, anggota DPRD Padang Pariaman, menyebutnya "Jon, polisi masyarakat".
Polisi yang mau kotor-kotoran bersihkan lumpur, yang mau jalan kaki antar air ke rumah warga.
Kompol Jon Hendri merupakan polisi yang sudah banyak mendapat penghargaan. Mulai dari tiga Kapolda Sumbar berturut-turut memberi penghargaan sebagai polisi inovatif, inspiratif hingga polisi yang bisa melakukan gerakan ketahanan pangan . Penghargaan juga banyak ia terima dari sejumlah kepala daerah di Sumbar, Kapolresta Padang maupun Kapolres Pariaman.
Jon Hendri tahu, pangkatnya suatu saat bisa lepas. Jabatannya akan pensiun. Tapi pesan ayahnya dan doa istri Engsih serta anak-anaknya tidak.
Dari seorang ayah yang tidak bisa melihat, lahirlah seorang polisi, suami, dan ayah yang paling jeli melihat air mata warga.
Di tanah Aur Malintang, Jon menanam pepaya bersama Engsih, Arfa, Zafran, dan Sanum. Di hati warga, ia menanam harapan. Dan di langit, ia sedang menunaikan janji kepada ayahnya: "Ayah... anakmu ingin menjadi polisi yang berguna bagi warga dan Negara".(Zulia Yandani/Lia)

