Pasca Gagal Perundingan, Seperti Apa Kondisi Terkini Perang Iran vs Amerika - Israel?

Pasca Gagal Perundingan, Seperti Apa Kondisi Terkini Perang Iran vs Amerika - Israel?
Angkatan Laut Iran patroli di selat Hormuz ( topwar.ur)

TOPIKINI, 13 April 2026 - Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan hampir 900 serangan dalam 12 jam — menargetkan rudal, pertahanan udara, infrastruktur militer, dan kepemimpinan Iran. Gelombang pertama serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei beserta puluhan pejabat senior. (Encyclopedia Britannica) Ini adalah momen yang mengubah segalanya.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan misil dan drone yang belum pernah terjadi sebelumnya ke negara-negara Teluk — untuk pertama kalinya dalam sejarah, Iran menyerang semua negara anggota GCC: Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UAE. (ACLED)

Gagalnya Perundingan Pakistan (11–12 April)

JD Vance memimpin delegasi AS dalam perundingan tatap muka selama 21 jam di Islamabad — pertemuan paling tinggi levelnya antara Washington dan Tehran sejak Revolusi Islam 1979. Namun hasilnya nihil. Vance menyatakan Iran "memilih untuk tidak menerima syarat kami." (Al Jazeera)

Apa saja yang bikin macet?

AS menetapkan sejumlah red lines yang tidak bisa ditawar: Iran harus menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya, membongkar fasilitas pengayaan utama, mengizinkan AS mengambil uranium yang sudah diperkaya, mengakhiri pendanaan untuk Hamas/Hezbollah/Houthi, dan membuka Selat Hormuz tanpa memungut tol. (Time)

Sementara Iran menuntut kompensasi perang, pelepasan aset beku senilai miliaran dolar, kontrol atas Selat Hormuz, hak pengayaan uranium untuk tujuan damai, dan penghentian serangan Israel ke Lebanon. (Al Jazeera)

Eskalasi Baru: Blokade AS di Hormuz — HARI INI

Ini yang paling kritis. Hari ini, Senin 13 April, militer AS mulai memberlakukan blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz, mulai pukul 14:00 GMT. (Al Jazeera)

Sebagai respons, IRGC Iran memperingatkan bahwa kapal militer mana pun yang mendekati Selat Hormuz "akan ditangani dengan keras dan tegas." (CNN)

Harga minyak kembali menembus $100 per barel pada Minggu kemarin, naik 8%, sementara pakar energi memperingatkan harga minyak akan tetap tinggi hingga akhir 2026. (CNN)

Skor Korban Saat Ini

Angka sementara: 2.076 tewas di Iran, setidaknya 26 di Israel, 13 tentara AS, dan 28 tewas di negara-negara Teluk. Di Lebanon, lebih dari 1.497 orang tewas akibat serangan Israel yang terus berlanjut. (Al Jazeera)

PREDIKSI KE DEPAN

Skenario 1: Eskalasi Semakin Meluas (Kemungkinan: Tinggi dalam jangka pendek)

Indikatornya sangat mengkhawatirkan:

Blokade AS yang baru saja dimulai hari ini berpotensi memicu Iran melakukan serangan balasan baru

Analis dari Institute for National Security Studies menyebut gap antara ekspektasi AS dan persepsi diri Iran sebagai "kebuntuan strategis yang semakin dalam." Iran tidak menunjukkan mentalitas siap berkompromi. (PBS)

Israel secara aktif menolak untuk menghentikan serangan ke Lebanon, yang menjadi tuntutan utama Iran

Iran menyebut kontrol Selat Hormuz sebagai satu-satunya kartu terkuat mereka, dan mereka tidak akan mudah melepaskannya. (Al Jazeera)

Skenario 2: Gencatan Senjata Diperpanjang (Kemungkinan: Sedang)

Analis Ali Vaez dari International Crisis Group menyatakan ia tidak mengekspektasi keruntuhan langsung dari ceasefire, meski jarak antar posisi kedua pihak sangat lebar. (PBS) Pakistan dan Oman terus mendorong agar perundingan dilanjutkan. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan pihaknya akan mencoba memfasilitasi dialog baru dalam beberapa hari ke depan. (NEOS KOSMOS)

Skenario 3: Perdamaian Permanen (Kemungkinan: Rendah saat ini)

Gap posisi kedua belah pihak terlalu lebar. Iran tidak akan menyerahkan program nuklirnya — itu sudah jadi identitas rezim. AS di bawah Trump tidak mau kompromi soal denuklirisasi total. Selama Israel terus hajar Lebanon, Iran tidak akan mau duduk meja perundingan secara serius.

KESIMPULAN PENGAMAT

Situasinya adalah "perang yang terhenti tapi belum berakhir." Ceasefire dua minggu ini berakhir 22 April — dan dengan blokade AS yang baru dimulai hari ini plus ancaman balik Iran, window of opportunity untuk damai sangat sempit. Yang paling mungkin terjadi dalam 1–2 minggu ke depan adalah siklus eskalasi terkontrol — bukan perang habis-habisan, tapi juga bukan perdamaian. Kedua pihak sadar kehancuran total bukan kepentingan siapapun, tapi ego politik dan tuntutan domestik masing-masing membuat kompromi sangat sulit.

Yang perlu diawasi: apakah Pakistan berhasil mengatur babak kedua perundingan sebelum 22 April, dan apakah Trump bersedia menurunkan tuntutan nuklir dari "denuklirisasi total" ke level yang lebih realistis.(sumber: saduran berbagai media international)