Lembaga Sensor Film Ajak Mahasiswa UIN Imam Bonjol Jadi Penjaga Tontonan Lewat Budaya Sensor Mandiri
TOPIKINI, PADANG - Banjir tontonan digital membuat pengawasan film tak lagi cukup hanya dari satu lembaga. Lembaga Sensor Film (LSF) pun mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa, menjadi “sensor” bagi diri sendiri lewat Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM).
Ajakan itu disampaikan dalam program _LSF Goes to Campus_ di UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (25/6/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30–12.30 WIB ini dihadiri 500 an mahasiswa.
GNBSM mendorong publik memilih tontonan sesuai klasifikasi usia: *Semua Umur, 13+, 17+, dan 21+. Tujuannya agar film yang dikonsumsi sesuai tingkat kedewasaan penonton dan memberi dampak positif.
“Pengetahuan masyarakat untuk memilih tontonan sesuai usia menjadi kunci. Surat Tanda Lulus Sensor saja tidak cukup di era digital,” ujar Ketua LSF RI, Dr. Naswardi, M.M., M.E.
Ia mencatat industri film nasional sedang naik. Dari 277 film yang diteliti tahun ini, kualitasnya jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Film lokal bahkan mulai melampaui film impor dengan capaian 80,2 juta penonton.
Namun tantangan baru muncul dari media sosial. Naswardi menyebut pemutaran film di YouTube, Instagram, dan platform lain perlu pengaturan lebih kuat. Saat ini pengawasannya masih berbasis pengaduan masyarakat di bawah kewenangan Komdigi.
Rektor UIN Imam Bonjol, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., menyambut baik program ini. Menurutnya, GNBSM penting untuk melindungi mahasiswa dari dampak buruk konten yang berkembang pesat.
Senada, Kepala Diskominfotik Sumbar, Dr. Ir. Rudy Rinaldy, M.T., berharap masyarakat Padang memiliki panduan menonton yang sehat di tengah arus informasi yang bebas diakses.
Ketua Sub Komisi Sosialisasi LSF RI, Titin Setiawati, S.IP., M.IKom., menekankan bahwa klasifikasi usia bukan sekadar label.
“Dengan mengikuti penggolongan usia, film akan sesuai dengan penonton dan memberi kontribusi positif,” ujarnya.
Acara ditutup dengan penandatanganan MoU antara LSF RI dan UIN Imam Bonjol, serta sesi berbagi pengalaman dari penulis film _Jangan Buang Ibu_, Saskia Chadwick.
Program _LSF Goes to Campus, Goes to School,_ dan komunitas menargetkan 65 titik di Indonesia sepanjang 2026.(Lia)

