Cerita Ketika Lampu Padam di Tengah Meja Operasi

Cerita Ketika Lampu Padam di Tengah Meja Operasi
Warga Padang ramai ramai cas hp dan lampu emergency di Taman Digital, Telkom.

TOPIKINI, PADANG - Jam dinding di ruang operasi itu berhenti berdetak saat lampu mati di Padang. 
Di atas meja, seorang bapak 60 tahun terbaring. Napasnya teratur, tapi hidupnya ada di ujung pisau dr. Farhan. Operasi THT sudah masuk menit-menit akhir. Tinggal beberapa jahitan lagi. 

Lalu gelap.

“Jantung saya seperti berhenti setengah detik,” kata dr. Farhan mengingat Jumat sore itu. Listrik padam bukan cuma di ruang operasinya. Padam se-Pulau Sumatera. Aceh, Sumut, Sumbar, Ria, gelap semua dalam satu waktu.

Ia tidak punya waktu untuk marah. Tim perawat cepat menyalakan lampu darurat. Cahaya kuning redup itu jadi satu-satunya pemandu di ruang yang beberapa detik lalu terang benderang. Tangan dr. Farhan tetap stabil.

Bukan karena ia tidak takut, tapi karena di depannya ada seseorang yang lebih butuh tenang daripada panik.

“Pasien saya sudah 60 tahun. Kalau ada komplikasi karena gangguan listrik, saya nggak tahu harus jawab apa ke keluarganya,” ujarnya pelan. 

Operasi selesai. Selamat. Tapi rasa kecewa itu tetap ada. 

“Saya kecewa. Dirut PLN tidak antisipasi keadaan begini. Gara-gara PLN ini, kesannya negara tidak hadir di pelayanan publik yang sangat dibutuhkan masyarakat.”

Sementara itu, di RS Hermina Padang tidak ikut gelap. Genset langsung menyala. Suara mesin itu pelan, tapi bagi pasien-pasien di ICU dan ruang bersalin, itu suara hidup. 

“Yang penting solarnya ada,” kata Brigjen TNI Purn dr. Iwan T, MARS, Dirut RS Hermina. Bagi rumah sakit besar, krisis listrik adalah soal logistik. Asal bahan bakar cukup, nyawa bisa tetap dijaga.

Tapi tidak semua tempat punya genset. Tidak semua punya cadangan solar untuk berjam-jam.

Keluar dari gerbang rumah sakit, Padang juga gelap. Tapi di sudut kota, cahaya kecil masih menyala.
Di Taman Digital milik Telkom, ratusan warga berkerumun. Bukan untuk nongkrong, tapi untuk satu hal sederhana: mengecas HP. 

Listrik di sana mati juga. Tapi genset Telkom hidup. Dan colokan-colokan itu dibuka untuk umum. 
Seorang ibu tua duduk di bangku besi, memegang powerbank dan HP jadul.

“Anak saya di Jakarta belum tahu listrik mati. Nanti dia panik kalau nggak bisa dihubungi,” katanya sambil tersenyum kecil.

Di situlah kamu lihat: ketika sistem besar gagal, manusia kecil saling menolong dengan cara paling sederhana. Berbagi colokan. Berbagi kabar. Berbagi rasa tenang.

Pemadaman itu pelan pelan akhirnya berlalu. Lampu jalan menyala lagi. Meja operasi di Padang sudah terang seperti sedia kala.

Tapi yang tertinggal adalah pertanyaan yang lebih besar dari sekadar listrik. 

Seberapa siap kita, sebagai negara, menjaga orang-orang yang nyawanya tergantung pada satu saklar? 
Dan di saat yang gelap, siapa yang akan menyalakan lilin untuk orang lain?.(lia)