Dari Lapas ke Bengkel: 29 Eks Napi Teroris Belajar Memperbaiki AC
TOPIKINI, PADANG - Tangan yang dulu pernah salah arah, kini belajar memegang obeng dan tang. Selama lima hari, 29 mantan narapidana terorisme duduk berdampingan di ruang praktik BBPPKS Padang, membongkar dan memperbaiki unit AC.
Mereka bukan sedang menjalani hukuman. Mereka sedang bersiap pulang ke masyarakat sebagai teknisi AC.
Pelatihan ini digelar Densus 88 Anti Teror Polri bersama PT Astra International Tbk pada 2–6 Juni 2026. Peserta datang dari empat provinsi: 14 orang dari Sumatera Barat, 10 orang dari Sumatera Utara, 4 orang dari Jambi, dan 1 orang dari Riau.
“Bagi kami, ini bukan sekadar pelatihan keterampilan. Ini bentuk kehadiran negara untuk mengembalikan mereka ke masyarakat,” ujar Kasatgaswil Sumbar Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Jim Brilliant Bernes.
Ini adalah pelatihan ketujuh. Sebelumnya, program serupa sudah berjalan di Bogor, Solo, Makassar, Palembang, dan Banten. Tujuannya satu: memotong siklus radikalisme dengan memberi jalan keluar ekonomi.
Bukan selesai di vonis
Jim mengakui tantangan terbesar mantan napiter setelah bebas bukan lagi hukum, tapi stigma dan sulitnya mencari kerja.
“Kita tidak selesai hanya dengan proses hukum. Yang penting adalah bagaimana mereka bisa kembali diterima masyarakat, hidup mandiri, bahkan memberi manfaat bagi lingkungannya,” katanya.
Karena itu, Astra tidak hanya mengajarkan cara memperbaiki AC. Peserta juga dibekali cara menghitung modal, mengelola keuangan, dan membangun mental wirausaha. Setiap peserta pulang membawa toolkit lengkap untuk langsung membuka jasa servis AC.
Pendapatan naik, hidup berubah
Dept Head Strategic Business Intelligence PT Astra International Tbk, Jaka Fernando, menyebut program ini sudah menjangkau hampir 300 orang sejak dimulai 2023.
“Berdasarkan laporan, rata-rata pendapatan peserta naik Rp2 juta sampai Rp3,5 juta per bulan. Bahkan ada yang lebih,” ujar Jaka.
Setelah pelatihan, pendampingan tidak berhenti. Astra dan Densus 88 memasukkan alumni ke komunitas teknisi AC binaan, supaya mereka punya jaringan kerja dan pelanggan.
Selain teknisi AC, Densus 88 juga menggandeng kementerian dan lembaga lain untuk pelatihan sertifikasi juru sembelih halal. Tujuannya sama: memberi keterampilan nyata agar mantan napiter bisa hidup mandiri.(Lia)

