Belasan Tahun JAPFA di Batang Anai: Dari Rehab Sekolah Akibat Gempa Hingga Memasok Ribuan Telur untuk Turunkan Mal Nutrisi
Program terintegrasi JAPFA telah menjangkau 201 ribu siswa di 28 provinsi, dengan tingkat keberhasilan 62,5% pada 2025
TOPIKINI, PADANG PARIAMAN - Warga sekitar sudah lama tidak lagi menyebutnya SDN 06 Batang Anai. Mereka memanggilnya "SD Japfa".
Tahun 2009, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk datang. Bukan cuma memberi bantuan. Mereka membangun ulang sekolah yang rata dengan tanah karena gempa.
17 tahun kemudian, JAPFA masih di sini. Tiap minggu, truk JAPFA menurunkan hampir 3.000 butir telur ke 12 SD di Sumatera Barat. Salah satunya ke sekolah ini.
Rabu Pagi di "SD Japfa"
Tepat pukul 07.00 WIB, lonceng berbunyi. Ratusan anak berbondong ke lapangan. Anak-anak dan guru melakukan senam, dilanjutkan cek kesehatan, timbang berat badan, dan mengukur tinggi badan. Semua data masuk aplikasi.
Ketika jam istirahat tiba, tak ada yang jajan di luar. Ratusan anak duduk di lantai teras kelas, membuka bekal. Di tengahnya, ada 1 hal yang wajib ada: sebutir telur dari JAPFA.
Kepala SDN 06 Batang Anai, Festi, mengatakan saat gempa ia memang belum memimpin sekolah ini. Namun dokumentasi lengkap tentang sejarah sekolah yang dibangun kembali tersimpan rapi. Hingga kini, JAPFA rutin ikut merawat sekolah hingga memperhatikan pertumbuhan anak-anak.
Saat ini, "SD Japfa" tengah menjalani program JAPFA for Kids. Hampir 3.000 telur dalam seminggu dipasok ke 12 sekolah.
Sebanyak 392 siswa menerima telur setiap hari. Mereka adalah siswa yang hasil screening kesehatannya masuk kategori kurang gizi. Karena itu, mereka mendapatkan sebutir telur setiap hari dari JAPFA.
"Sebelum ini BB anak saya ringan. Sekarang Alhamdulillah sudah naik," kata Leni Marlina, 42 tahun, ibu dari Muhammad Asraf, 11 tahun, siswa kelas 6.
Suaminya kuli. Pendapatan tidak menentu. Kadang ada, kadang tidak. Sejak Asraf masuk program JAPFA for Kids, Leni merasa terbantu dan jadi lebih kreatif. Ia membuat aneka menu telur setiap hari: telur dadar, telur balado, telur kecap. Asal anaknya lahap.
"Senang Bu. Setiap hari makan telur," kata Asraf sambil menyuap nasi. Pipinya memang sudah mulai berisi.
Kepala Dinas Pendidikan Padang Pariaman, Hendro, mengatakan JAPFA memang sejak gempa 2009 sering membantu sekolah-sekolah di sekitarnya. Pemerintah daerah mengapresiasi JAPFA yang telah peduli dan berkontribusi memajukan pendidikan di Kabupaten Padang Pariaman.
PR Baru Setelah Gempa
Dulu PR-nya membangun gedung. Sekarang PR-nya membangun anak.
Itulah inti JAPFA for Kids. Program 18 tahun JAPFA untuk menurunkan mal nutrisi. Sasarannya anak SD di sekitar unit operasional JAPFA.
Caranya tidak cuma memberi telur selama 6 bulan. Tapi lengkap: pemantauan BB/TB digital, edukasi guru, pelibatan orang tua, kerja sama dengan puskesmas, hingga pembiasaan PHBS tiap Rabu.
Bahkan ada bonus: les catur online dan offline bersama atlet.
"Kami tidak mau jadi donatur. Kami mitra," tegas Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA.
"Karena membangun masa depan bangsa dimulai dari memastikan anak kenyang dan sehat."
Angka di Balik Telur
Di "SD Japfa", bencana gempa sudah berlalu.
Yang tersisa sekarang adalah antrean anak-anak... menunggu giliran ditimbang, lalu makan telur.
Tantangan gizi anak di Indonesia masih besar. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator IMT/U.
Sementara data JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada 2024 menunjukkan sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi mal nutrisi.
Hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.
Penulis : Zulia Yandani / Lia

