Wisatawan Malaysia (Ramai) ke Padang
TOPIKINI, PADANG - Saya umroh mandiri melalui Kuala Lumpur. Karena ternyata di bulan yang saya pilih, lebih murah via Kuala Lumpur dibandingkan Jakarta. Dan untuk bandaranya sendiri saya lebih mengerti KLIA dibandingkan bandara Soekarno Hatta. 😁😄😄
Tapi yang saya ceritakan bukan soal umrohnya, tapi soal Padang yang mulai dilirik wisatawan Malaysia. Saat pulang ke Padang, saya awalnya biasa aja. Paling isinya orang Sumbar semua, pemegang pasport hijau. Tapi saat antri masuk pesawat, baru jelas bedanya. Banyak yang pakai pasport merah. Wesss .... Ada kemajuan.
Saya duduk disebelah cewek pemegang pasport merah. Dia yg duluan memulai pembicaraan. "Makcik balik kampung ke atau bercuti? " Saya jawab balik kampung. Kemudian kami berkenalan. Saya lupa namanya sekarang 😄, katanya dia balik kampung juga. Ayahnya orang Pariaman, maknya orang Malaysia. Dalam setahun dia akan beberapa kali balik kampung ayahnya ke Pariaman.
Saya penasaran, banyak orang Malaysia sekarang ke Padang. Menurut dia, banyak yg melancong ke Padang sekarang. Mereka banyak yang rombongan. Pakai travel agen. Waahh... Hebat Padang sekarang. Turis Malaysia ini ke Padang itu mendatangi beberapa tempat seperti Bukittinggi, Batusangkar dan sekarang saya mendengar mereka ke Alahan Panjang. Masya Allah....
Saat saya menunggu taksi di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), mereka juga lagi menunggu jemputan. Saya mendengar mereka sedang menyusun jadwal, makan siang di sebuah rumah makan kemudian lanjut ke Alahan Panjang.
Dalam hati, nasib baik mereka pakai travel agen, karena sejatinya Padang tidak bersahabat dengan solo travel atau travel mandiri. Sistem transportasi masih kacau. Tidak ada terminal, tidak ada bus resmi dan keberangkatannya jelas seperti di Malaysia.
Terminal mereka keren, ruangan ber ac seperti bandara. Toilet bersih, harga makanan tidak mahal, sama aja kayak harga di luar terminal. Dan semuanya sudah serba mesin kalo di Malaysia, beli tiket bisa lewat mesin, bisa online atau bisa antri di konter tiket. Dan koper friendly juga. Hahaha... Geret2 kopernya lancar dan mulus.
Kadang saya suka kesal sama pemerintah di sini, kenapa gak bisa nyontek seperti mereka. Gak usah jauh2 ke Jepang nyonteknya. Samakan dengan Malaysia aja sudah. Udah bangga kita. Gak usah nyontek Singapura juga, terlalu canggih juga. Cukup Malaysia atau Thailand.
Semuanya dikoordinir dengan baik dan memudahkan turis. Soal makanan ada logo halalnya, meskipun kaki lima. Ada harga pastinya, jadi kita bisa milih mau makan apa sesuai kantong. Dan satu lagi soal toilet, toilet mereka bersih euuyyy... Lengkap dengan tisunya. Harga barang mereka sama aja dimanapun dipajang. Bahkan saat beli di bandara yang duty free malah lebih murah dibandingkan tempat lain. Kirain bandara bakalan mehong parah, eh malah lebih murah.
Berharap suatu saat kita berbenah. Sedikit demi sedikit. Mental pedagang-pedagang kita juga harus diubah. Ini kerjaan dinas pariwisata nih, kasih pelatihan kepada pedagang2.
Mungkin sekarang yang banyak datang ke sini turis Malaysia dengan agen travel mereka. Setelah kita berbenah bakalan banyak yg datang ke sini turis dari negara tetangga lainnya dengan memanfaatkan penerbangan dari Kuala Lumpur. Soalnya di tiktok udah banyak travel agen Malaysia yg jualan pariwisata Sumbar. Mana tau FYP di negara lain. Hehehehe.... Kayak kami, dari KL bisa ke Thailand atau Singapura. Eh, kemudian lanjut ke Madinah dan Makkah. Mudah-mudahan saja begitu. Ye kaaan.... Lapangan kerja bakalan banyak terbuka jika Pariwisata dikelola dengan baik. Insya Allah. (Rahma Nurjana)

