Perang AS & Israel ke Iran, Apa Dampak Kepada Sumatera Barat?

Perang AS & Israel ke Iran, Apa Dampak Kepada Sumatera Barat?

TOPIKINI, PADANG - Eskalasi perang yang terjadi di Timur Tengah, semakin meluas. Sejumlah pakar ekonomi menilai, jika perang berlangsung dalam jangka waktu lama, diperkirakan akan berdampak negatif terhadap ekonomi global.

Jurnalis Topikini, mewawancarai Endang Kurnia Sahputra, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat tahun 2023 -2024, terkait dampak perang Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia, khususnya Sumatera Barat.

(Foto: Endang Kurnia Sahputra, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat tahun 2023 -2024)

Berikut salinan wawancara tersebut:

Pertanyaan nya :

Apa analisa Bapak dengan terjadinya perang, terhadap ekonomi Sumbar?

Jawaban nya :

Konflik AS-Israel vs Iran akan mendorong lonjakan harga minyak global karena risiko gangguan pasokan, terutama jika jalur Selat Hormuz terganggu. Iran memang bisa saja dengan mudah menutup Selat ini jika mau.

A. Maka, dampaknya ke Indonesia:

1. Potensi kenaikan subsidi BBM dan tekanan APBN. 

2. Kenaikan biaya logistik dan produksi domestik. 

B. Dampaknya ke Sumbar : 

a. Biaya transportasi, ongkos angkut pangan antar daerah bakal naik.

Distribusi komoditas seperti beras, cabai, bawang, ikan juga akan terdorong naik

b. Inflasi daerah akan meningkat.

Sementara Sumbar termasuk Provinsi di Indonesia yang sensitif inflasi pangannya 

Jika terjadi kenaikan BBM, dampaknya bakal multiplier ke harga harga termasuk pasar tradisional.

Sehingga, jika perangnya panjang ( berjalan dalam waktu yang lama), inflasi Sumbar bisa lebih tinggi dari nasional , seperti pola historis yang sering terjadi selama ini.

Pertanyaan nya :

Apa yg mesti disiapkan warga Sumatera Barat, atas dampak perang ini?

Jawabannya : 

Khususnya inflasi: 

1. Untuk pemerintah Provinsi Sumatera Barat, memperkuat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID Sumbar) untuk mode krisis. Selain itu, pemerintah melakukan operasi pasar intensif seperti untuk beras, minyak goreng, gula, cabai. Monitoring harian harga komoditas  

2. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga sebaiknya mengaktifkan kerja sama dengan provinsi tetangga seperti : Sumut, Riau, Lampung untuk ketahanan pangan beras, cabai, dan bawang.

Operasi pasar fokus pada komoditas sensitif: beras, minyak goreng, cabai, telur.

Kunci menghadapi krisis global bagi Sumbar adalah menjaga stabilitas harga, memperkuat pangan dan energi lokal, melindungi UMKM, serta memastikan fiskal daerah tetap sehat.(lia)