Menyusuri Jejak Roehana Koeddoes, Pahlawan Perempuan dari Ranah Minang

Menyusuri Jejak Roehana Koeddoes, Pahlawan Perempuan dari Ranah Minang
Rumah kelahiran Roehana Koeddoes

TOPIKINI, AGAM - Koto Gadang, Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) saya menyempatkan diri mengunjungi tanah kelahiran Roehana Koeddoes.

Pahlawan  Perempuan dari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Perempuan yang merupakan perintis Pers dan Pendidikan di Sumatera Barat.

Roehana tercatat sebagai Pahlawan yang diberikan Presiden RI Joko Widodo 7 November 1019.  

Negara mencatat sejarah Roehana merupakan perempuan pertama yang mendirikan Sekolah Kepandaian Perempoean Keradjinan Amai Setia pad tahun 1911 dan jurnalis perempuan pertama yang menerbitkan Soerat Chabar Perempoean Soenting Melajoe pada tahun 1912.

Tahun 1892 hampir 99 persen perempuan Melayu masih buta huruf. Roehana kecil sudah menjadi guru kecil diusia 8 tahun. 

Mengajarkan teman teman kecilnya membaca dan menulis. Roehana kecil belajar membaca dan menulis dari sang ayah.

Tanah kelahiran Roehana  merupakan kampung kecil yang diapit Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, Ngarai Sianok, Lembah dan Sawah yang menghijau bak permadani. 

Udaranya sejuk, bikin hati nyaman karena pemandangan yng sungguh indah dan menenangkan.

Beberapa tempat terlihat pengrajin perak, penyulam terawang yang merupakan keterampilan perempuan Timur Tengah turun temurun.

Belum lagi indahnya deretan rumah rumah di Koto Gadang dengan desain rumah penduduk Koto Gadang yang bergaya Belanda yang sudah berusia lebih dari seabad.

Seperti jejak jejak kejayaan yang membawa kita ke masa lalu.

Kesan itu dirasakan banyak orang, saat menyusuri Koto Gadang yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu. 

Untuk mengunjungi rumah kelahiran Roehana Koeddoes, sangatlah mudah. Dari jalan besar Padang - Bukittinggi, tinggal bertanya ke warga dimana Koto Gadang, rumah Pahlawan perempuan Roehana Koeddoes. Anda akan dituntun menuju ke kampung kelahiran nya. 

Sebeleum sampai kerumah Kelahiran Roehana Koeddoes , di perempatan anda akan menemukan Sekolah Kepandaian Perempoean Keradjinan Amai Setia yang didirikan pada tahun 1911.

Rumah Roehana tak jauh dari sekolah yang beliau dirikan.

Rumah kelahiran Roehana sebagian sudah di tambah dengan bangunan batu, namun sebagian besar masih bangunan lama berumur ratusan tahun yang masih berdinding dan berlantai kayu. 

Lonceng Roehana untuk mengajar orang orang dikampungnya ini, menjadi salah satu saksi jika beliau banyak memiliki murid. 

Lonceng guru ini, diperlihatkan kepada saya oleh pihak keluarga Roehana yang merawat rumah peninggalan.

Pit Adi atau nama lengkapnya Yusni Salmawati , yang berusia 63 th, sehari hari merawat rumah Roehana Koeddoes merupakan Istri dari cucu nya adik Roehana yg bernama Ratna.

Menyambut saya dengan sangat ramah dan bersemangat bercerita  menyambut tamu tamu yang ingin mengunjungi rumah Roehana di Koto Gadang.

Ketika menjajaki rumah  kelahiran Roehana Koeddoes di Koto Gadang, saya langsung teringat film " Soenting Melajoe”  yang diproduksi tim TVRI Sumbar tahun 2023 lalu yang diputar saat HPN 2025. 

Karya drama biografi yang mengangkat kisah Pahlawan Nasional Roehana yang lahir dan besar di nagari ini.

Menurut sutradara film Roehana Koeddoes , Maqri Nelvi Lubis yang juga seorang  jurnalis perempuan di TVRI Sumbar mengatakan dalam film ini “tiga wajah” beda generasi yang memerankan Roehana Koeddoes dalam film itu. Mereka adalah Seanna Gyoye Inara, Ardanela dan Zurmailis.

Setahun sebelum pembuatan film Roehana Ade sudah bercita cita ingin membuat film Roehana Koeddoes. 

Gayung bersambut saat Kepsta TVRI Sumbar memberi tantangan untuk memproduksi film. 

Dengan perdebatan panjang akhirnya usulan Ade untuk membuat film Roehana di sambut baik Kepsta TVRI Sumbar. 

Riset dan persiapan matang dilakukan berbulan bulan ,termasuk membuat naskah film oleh seorang jurnalis senior Hendra Makmur.

Dalam film ini, rumah kayu yang dipakai untuk shooting film Roehana dipilih dari rumah yang lebih dekat dengan cerita dan riset yang dibaca penulis dan Sutradara Film.  

Film ini mencoba menggambarkan bagaimana masa masa Roehana mengajarkan  para gadis belajar membaca dan menulis serta membuat keterampilan tangan pada rumah-rumah dengan arsitektur Belanda.

Dalam film ini “tiga wajah” beda generasi yang memerankan Roehana Koeddoes dalam film itu. Mereka adalah Seanna Gyoye Inara, Ardanela dan Zurmailis.

Pemeran  Roehana Koeddoes pada masa tua, Zurmailis pernah aktif di dunia teater itu, mewakili sosok ideal perempuan Minangkabau yang sangat menjiwai perannya di film ini.

Ketika film "Soenting Melajoe” yang di sutradarai nya ditayangkan sebelum diskusi “Tiga Wajah Roehana” oleh Di Forum Jurnalis Perempuan  Indonesia pada Jumat (6/2/2026) ia dan tim TVRI Sumbar sangat terharu dan bangga karya mereka ditampilkan saat hari pers.

"Kerja keras kami, sangat dihargai, berjibaku menyelesaikan film ini berbulan bulan, terbayar karena di tayangkan di depan tokoh tokoh penting di Indonesia",ujar Ade sambil terharu mengenang pembuatan film yang lumayan rumit.

Usai menonton film ini, dimulailah diskusi yang dipandu Jurnalis Senior Uni Lubis itu menghadirkan pembicara Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika, Ketua FJPI Khairiah Lubis, Ketua Yayasan Kerajinan Amai Setia Trini Tambu dan Jurnalis Senior Najwa Shihab. 

Diskusi dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid serta dihadiri sejumlah jurnalis perempuan senior dari perwakilan  seluruh daerah di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di IDN HQ, Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta, mengulas sepak terjang Roehana Koeddoes—Pahlawan Nasional sekaligus pelopor jurnalis perempuan di Indonesia yang bergerak tidak hanya di bidang jurnalistik tapi juga di bidang pendidikan dan ekonomi perempuan.

Dalam diskusi ini, Ketua Umum FJPI Khairiah Lubis mengajak FJPi berkolaborasi bersama Yayasan Amai Setia untuk menghidupkan kembali semangat Roehana Koeddoes.

Roehana punya pengaruh yang besar bukan hanya di bidang jurnalistik tapi juga perjuangan bangsa melalui tulisan, mendirikan sekolah dan gerakan ekonomi perempuan, melalui kewirausahaan di Amai Setia yang ia dirikan, ujar Khairiah.

Sementara itu, Najwa Shihab dalam diskusi ini menyatakan ruang kebebasan pers di Indonesia kian menyempit. 

Terjadi penurunan Indeks Kebebasan Pers Indonesia, pada tahun 2025, Indonesia berada di peringkat 127 dari 180 negara, turun 16 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dan ini alarm bahwa ruang kerja jurnalis semakin terdesak,” ujarnya.

Menkomdigi Meutya Hafid melihat saat ini rasio jurnalis perempuan hanya kisaran 25 persen. 

Di tengah arus digitalisasi, jurnalis perempuan harus pro aktif mengisi ruang publik dengan berita berkualitas untuk melanjutkan perjuangan Roehana Koeddoes menyesuaikan dengan perkembangan zaman ," ujar Meutya Hafid.(lia)