Di Balik Ganasnya Ombak Mentawai, Ada Bank Nagari yang Tak Pernah Absen

Di Balik Ganasnya Ombak Mentawai, Ada Bank Nagari yang Tak Pernah Absen

6 Tahun di Bumi Sikerei: Cara Bank Nagari Hapus Era ‘Titip Uang di Kapal’

TOPIKINI, PADANG - Endang Kurnia Saputra, S.E., M.B.A., ekonom BI dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat 2023–2024, pernah berkata, “Ekonomi lokal hanya tumbuh kalau akses keuangannya hidup.”

Di Kepulauan Mentawai, kalimat itu diuji setiap hari. Bukan di ruang rapat ber-AC, melainkan di atas perahu kayu yang dihempas ombak rata-rata setinggi dua meter. Dunia mengenal Mentawai karena ombaknya termasuk terindah di dunia, yang memanggil peselancar dari berbagai negara.

Bagi David, Kepala Bank Nagari Cabang Mentawai, ombak itu adalah gerbang yang wajib ditaklukkan — bukan untuk berselancar, melainkan untuk mengantar layanan keuangan ke pulau-pulau terluar.

Sudah tiga bulan David menjabat sebagai orang nomor satu di Bank Nagari Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kantornya di Tuapejat, ibu kota kabupaten.

Tapi “kantor” yang sesungguhnya bagi dia adalah 4 kecamatan di 4 pulau besar: Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Untuk menjangkaunya, tak ada jalan tol. Hanya ada laut.  

“Rasa takut? Pasti ada,” kata David, sambil tertawa kecil. “Apalagi kalau BMKG sudah kasih warning gelombang tinggi.”  

Di Bumi Sikerei, ada ibu-ibu di Saibi mau setor Rp20 ribu. Nelayan di Sikakap butuh modal jaring. Tempat mereka mengadu adalah di Bank Nagari Mentawai.

Tak Ada Jalan Tol, Hanya Laut

Transportasi laut jadi urat nadi. Dari Tuapejat ke Siberut bisa 6–8 jam kalau cuaca bersahabat. Kalau tidak, bisa seharian terombang-ambing. Begitu juga ke pulau-pulau lainnya.

David dan tim CS Bank Nagari hafal jadwal kapal perintis yang bisa ditumpangi, bahkan kapan biasanya badai datang. HP selalu berisi dua aplikasi wajib: prakiraan cuaca dan tracking ombak.

Tantangannya bukan cuma ombak. Listrik di Mentawai masih sering hidup-mati. Internet? “Kadang ada, kadang tidak,” ujar David. Padahal layanan keuangan hari ini butuh sinyal.

Di sinilah peran Agen Bank Nagari Link jadi krusial. Agen menyediakan akses perbankan tanpa kantor: setor, tarik tunai, transfer, dan bayar tagihan. 

David dan timnya rutin keliling, mendatangi agen-agen di kampung. Mereka yang jadi “ATM berjalan” bagi warga.

Di Desa Maileppet, Sipora Selatan, Mak Ani, 54 tahun, sehari-hari jual ikan kering. Dulu, uang hasil jualan ia simpan di kaleng biskuit, ditanam di dapur.

“Takut hilang, takut dimakan rayap,” katanya. Sejak ada Agen Bank Nagari Link di warung, Mak Ani rajin setor. “Sedikit-sedikit, lama jadi bukit. Sekarang sudah Rp3 juta. Mau buat benerin atap.”

David sadar, yang ia antar bukan sekadar uang. “Yang kami bawa itu kepercayaan,” ujarnya. Kepercayaan bahwa negara hadir, bahkan di pulau yang peta pun kadang lupa mencantumkan namanya.

Risiko di Mentawai nyata. Kapal, boat, atau perahu yang ditumpangi bisa kapan saja dihantam gelombang saat pergi atau balik ke Tuapejat. Mesin mati di tengah laut sudah jadi makanan orang Mentawai.

“Beratnya geografis bertugas di Mentawai saya nikmati saja. Sebelumnya saya juga terbiasa tugas, jauh dari Kota Padang, seperti di Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat,” cerita David.

“Ini bukan soal berani atau tidak,” katanya pelan. “Bank Nagari itu bank-nya orang Sumbar. Kalau kami tidak datang ke Mentawai, siapa lagi?”

6 Tahun Akhiri Era ‘Titip Uang di Kapal

Lain cerita dari anak-anak Mentawai yang berangkat dari Bumi Sikerei untuk kuliah ke Kota Padang.  

Patris, anak warga Sipora, berkisah kiriman uang dari kampung dulu harus dititip manual lewat kapal laut. Kapal beroperasi satu kali seminggu. Jika cuaca buruk, bisa tidak jalan berminggu-minggu.  

Bisa dibayangkan, kehabisan uang di rantau. Ia terpaksa berjalan kaki berkilo-kilometer di Kota Padang untuk cari pinjaman.

Namun, tahun 2020, anak-anak Mentawai yang merantau mulai lega. Bank Nagari hadir di kabupaten kepulauan itu. Bank Nagari Cabang Mentawai berdiri 12 Juli 2020 di Desa Tuapejat KM 0, Pulau Sipora.

Disusul Cabang Pembantu Siberut di Pulau Siberut, Cabang Pembantu Sikabaluan di Jl. Raya Pokai Sikabaluan Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, dan Cabang Pembantu Sikakap di Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap.

Tak hanya itu, di kampung-kampung juga sudah ada Bank Nagari Link. Orangtua di Mentawai bisa kirim uang ke anak yang kuliah di Padang tanpa tunggu kapal.

Ketua Mahasiswa Mentawai, Guluw, membenarkan. Biasanya orangtua kirim uang dengan cara menitip ke kapal yang akan berangkat ke Padang. Guluw, anak Mentawai dari Siberut Barat Daya, sekarang merasakan mudahnya kirim uang dari kampung.

“Di kampung saya, sudah ada Bank Nagari Link. Nggak perlu tunggu kapal lagi, ga perlu ke pelabuhan, ga perlu risau dengan badaip," ujarnya sumringah.

30 Agen Jadi ‘ATM Berjalan’ di Kampung

Cerita lain datang dari aktivis NGO yang sejak 2000-an keluar masuk kampung di Mentawai. Direktur Yayasan Citra Mandiri (YCM) Rifai mengatakan, awal bertugas di Mentawai , uang pendampingan warga harus dibawa manual. “Sangat merepotkan dan membahayakan bawa uang tunai banyak.”  

Namun sejak 2020, setelah ada Kantor Cabang Bank Nagari dan banyak Bank Nagari Link, bawa uang tunai dalam jumlah besar tak lagi dilakukan.

Salah seorang aktivis YCM, Rinal Suryadinata, merantau dari Jawa ke Mentawai dan langsung jadi nasabah Bank Nagari. Alasannya, di Sipora Utara Bank Nagari sudah ada. Ia sekeluarga jadi nasabah, termasuk ibu kandungnya Yeni Suhaimi yang lebih dulu merantau.  

“Alasan nabung di Bank Nagari, biaya admin bulanan terjangkau cuma sepuluh ribu, buka rekening seratus ribu,” kata Rinal. “Kerja masuk-keluar kampung di Mentawai, nggak risau lagi karena ada cabang dan banyak Bank Nagari Link di pelosok.”

Kepala Bank Nagari Cabang Mentawai mengatakan, selain kantor di Tuapejat sejak pertengahan 2020, Bank Nagari Link sudah melayani masyarakat dengan 30 agen.  

Walaupun masih banyak warga yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan tidak bisa baca-tulis, Bank Nagari tidak menjadikan itu kendala. Petugas direkrut dari putra-putri daerah Mentawai. Jika nasabah tidak bisa baca-tulis, customer service maupun satpam akan membantu.

Enjelia Agustin, Customer Service Bank Nagari Mentawai, adalah putri Mentawai asal Siberut Barat Daya, Dusun Toloolago, Kecamatan Katurei. Ia bertugas sejak 2020.  

“Saya senang sekali dan beruntung sebagai putri daerah bisa kerja di Bank Nagari. Kalau ketemu nasabah warga asli yang tidak bisa baca-tulis, kami petugas yang bantu,” ujarnya.

Yang Kami Bawa Itu Kepercayaan

Prinsip itu sejalan dengan yang disampaikan Endang Kurnia Saputra: inklusi keuangan bukan proyek mercusuar, tapi kerja harian yang memastikan akses hidup sampai ke titik nol. Di Mentawai, “titik nol” itu berarti dermaga kayu yang goyang, sinyal yang hilang timbul, dan warga yang butuh kepastian bahwa tabungannya aman.  

Dampaknya pelan tapi nyata. Menurut data cabang, dalam tiga bulan terakhir, pembukaan rekening baru lewat Agen Bank Nagari Link terus naik.

Transaksi dari Bank Nagari Link di Mentawai mencapai 24.900 transaksi hingga akhir 2025. Angka boleh kecil untuk skala provinsi, tapi bagi Mak Ani itu atap baru dan usaha yang kembali jalan.

Endang menegaskan, peran Bank Nagari di daerah 3T sangat strategis dan patut diapresiasi.

“Sebagai Bank Pembangunan Daerah, mandat utamanya bukan sekadar cari profit, tapi mendorong pemerataan akses keuangan dan pembangunan daerah. Masuk ke wilayah 3T itu tidak mudah — infrastruktur terbatas, biaya operasional tinggi, SDM terbatas, literasi keuangan masih rendah.”  

“Secara umum di Indonesia, kualitas layanan di daerah 3T memang sering belum optimal. Tapi justru di situlah nilai Bank Nagari. Kalau mereka hadir dan konsisten melayani, itu bukan hanya bisnis — itu fungsi pembangunan,” ujar Endang yang 30 tahun bergelut di dunia perbankan.

Bagi David, ombak Mentawai boleh saja ekstrem, tapi tekad melayani negeri tak boleh surut. Karena selama masih ada warga di pulau terluar yang butuh dijangkau, Bank Nagari akan tetap datang — menantang ombak, menyambung asa.  

Sebab kadang, pengabdian memang harus berani basah

Bumi Sikerei, yang dikenal dengan ombak indah dan tato tertua di dunia, menguji cinta kita pada negeri ini dalam melayani masyarakat di pelosok yang masih penuh keterbatasan.  

Dengan semangat dan keberanian, Bank Nagari terus menjembatani kesenjangan keuangan di pelosok negeri, membuktikan bahwa jarak bukanlah halangan untuk melayani dan memberdayakan masyarakat.  

Bank Nagari hadir, menghubungkan harapan dan kesempatan, di Bumi Sikerei, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.(lia)