Bertahan Hidup dengan Merajut Kisah Silvia – Kartini Disabilitas Sumbar Award

Bertahan Hidup dengan Merajut Kisah Silvia – Kartini Disabilitas Sumbar Award
Foto: Silvia dengan kursi rodanya

TOPIKINI, BUKITTINGGI - Menjelang subuh, Kota Bukittinggi masih tertidur.  

Tapi di jalanan itu, takdir menampar hidup Silvia sekeras-kerasnya.

Umur 21 tahun. Baru pulang dari pesta pernikahan keluarga. Baru saja sempat memeluk nenek yang terbaring sakit. Gadis Minang itu cantik. Matanya penuh mimpi.  

Kakinya masih ringan menari, masih kuat berlari mengejar masa depan.

Lalu satu benturan. Tiga detik yang mengubah segalanya. Kaki Silvia terjepit.

Dokter hanya bisa menunduk, suaranya tercekat: "Maaf Dik...kakinya nggak bisa diselamatkan."

Subuh itu, Silvia kehilangan kaki. Tapi sejak subuh  itu juga, ia mulai belajar kehilangan dan bangkit sekaligus.

Coba bayangkan. Umur 21 tahun. Teman-temanmu tertawa bebas di luar sana. Kuliah, bekerja, jatuh cinta, berjalan tanpa beban.

Sementara Silvia...belajar duduk lagi. Belajar menerima bahwa dunia tak akan pernah sama.

Kini di usia 46 tahun, Silvia dan Amaknya Suyati yang sudah 68 tahun,  masih menumpang di rumah orang.  Makan seadanya.

Pasca kecelakaan, 4 kali operasi  decubitus mengiris tubuhnya.  

Tapi luka yang paling dalam bukan di daging...melainkan di hati yang sering berbisik, "Tuhan, kenapa aku?"

Di sela tangis itu, ada suara kecil yang menolak padam: "Kalau aku menyerah, siapa yang menjaga Amakku?  

Siapa yang akan berbisik ke teman-temanku yang patah semangat, bahwa kita masih bisa berdiri... meski tanpa kaki?"

Tahun 2008, di lorong RSUP M. Jamil Padang, di antara bau obat dan desah napas pasien, seorang perawat menghampiri Silvia dengan seuntai benang dan jarum rajut.

"Nak, coba ini. Biar hatimu nggak terlalu sepi."

Silvia tak mengira ...  bahwa benang tipis itu akan jadi tali yang menariknya keluar dari jurang kegelapan.

Waktu itu belum ada YouTube. Belum ad amedia sosial dan  tutorial gratis.  

Belajar merajut mahal. Tapi kebaikan orang asing membuka jalan.

Dari tangan yang masih gemetar, lahirlah satu per satu karya:  

tas yang kokoh, peci yang rapi, strap masker, sarung tumbler, gantungan kunci, hingga sepatu rajut menyelamatkan hidupnya.

Dari rasa sakit... lahirlah harapan.  

Dari air mata... lahirlah karya yang menghidupi.

Covid datang. Dunia runtuh.  Tapi rajutan Silvia tidak.  

Strap masker yang ia rajut dengan sabar,  jadi sesuap nasi  dia dan Amak untuk bertahan hidup. Tahun 2024, banjir datang lagi.  

Akhir 2025, banjir besar meluluh lantahkan sejumlah daerah di Sumbar. Termasuk di Padang, di jl Bali, tempat Silvia dan Amak berteduh.Air naik setinggi pinggang orang dewasa. Barang rajutan Silvia terendam banjir.Tapi banjir tak merendam semangatnya 

Hari ini, Silvia berdiri. Bukan dengan kaki. Tapi dengan karya yang tak pernah berhenti bicara.

Ia mengajar merajut di 5 Panti Asuhan Putri di Kota Padang.  

Ia berbagi ilmu dengan sukarela di Perpustakaan Sumbar. Untuk anak-anak perempuan Minang.

Dan dengan suara pelan tapi membakar, ia berkata: "Saya berharap teman-teman disabilitas jangan pernah berkecil hati.  Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbagi. Merajut itu bukan cuma membuat barang...Merajut itu adalah cara saya merajut kembali hidup saya yang hancur."

Dari kecelakaan yang merenggut kakinya, lahirlah dua tangan yang merajut masa depan banyak orang.

Dia bukan hanya pengrajut. Dia adalah Kartini zaman sekarang dari Ranah Minang.

Kartini yang membuktikan dengan hidupnya sendiri, bahwa keterbatasan fisik tak akan pernah bisa membungkam semangat perempuan Minang.

Atas keteguhan dan dampak nyatanya, Silvia dianugerahi "Kartini Disabilitas Sumbar Award" oleh PPDI Sumbar.  

Perempuan dari Nagari Piobang, Kabupaten 50 Kota, ini bangkit dari keterbatasan melalui Silvia Piobang Handycraft.

Ia memberdayakan perempuan dan penyandang disabilitas lewat pelatihan rajut, berbagi ilmu UMKM, dan aksi sosial.  

Aktif di HWDI Sumbar, mengadvokasi hak-hak difabel, hingga karyanya dikenal sampai luar negeri.

Tahun 2020, Pemerintah Kota Padang pun pernah menganugerahinya sebagai tokoh masyarakat penggerak sosial.  

Di atas kursi roda, ia tetap mandiri, berwirausaha, berorganisasi, dan tak pernah berhenti membantu.  

Saat pandemi dan bencana datang, ia ikut menggalang bantuan untuk pelajar SLB dan korban terdampak.

Silvia membuktikan, kursi roda tak pernah bisa membelenggu jiwa yang merdeka.  

Karena bagi perempuan Minang sejati, luka bukan akhir cerit. Ia adalah benang pertama untuk merajut harapan baru.

Selama masih ada tangan yang mau bergerak dan hati yang menolak menyerah,  tak ada badai, tak ada banjir, tak ada takdir yang bisa memadamkan semangat Ranah Minang.

Silvia berdiri bukan untuk dirinya sendiri, tapi agar setiap perempuan yang terjatuh tahu: "kau boleh patah, tapi kau tidak boleh padam".(Lia)