Dari Kota Pemalang, Dede Indra Permana Ajak Warga Jadi Garda Terdepan Penjaga Demokrasi

Dari Kota Pemalang, Dede Indra Permana Ajak Warga Jadi Garda Terdepan Penjaga Demokrasi

TOPIKINI, PEMALANG — Hari yang sama, semangat yang sama, namun cerita yang berbeda. Masih di Senin (16/3/2026), anggota MPR RI Dede Indra Permana Soediro dari Fraksi PDI Perjuangan kembali hadir di tengah masyarakat — kali ini di Kecamatan Pemalang, jantung Kabupaten Pemalang. Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan pun kembali bergulir, hangat dan penuh makna.

Jika sebelumnya warga di Watu Kumpul yang kebagian kesempatan berdialog langsung dengan wakilnya di MPR RI, kini giliran warga perkotaan Pemalang yang duduk bersama, berpikir bersama, dan merenungkan bersama — seberapa jauh kita, sebagai bangsa, sudah benar-benar menghidupi nilai-nilai kebangsaan yang kita warisi dari para pendiri negeri.

Bukan Soal Upacara, Tapi Soal Kehidupan Nyata.

Di hadapan para peserta yang memenuhi tempat kegiatan, Dede Indra tidak membuka dengan pidato panjang yang kaku. Ia justru membuka dengan pertanyaan sederhana yang langsung mengena:

"Seberapa sering kita merasakan Pancasila dalam hidup kita sehari-hari? Bukan waktu upacara saja. Tapi ketika kita bertetangga, ketika kita berbeda pendapat, ketika kita memilih pemimpin?"

Pertanyaan itu langsung membuat suasana mencair sekaligus mengundang renungan. Karena itulah inti dari Sosialisasi Empat Pilar — bukan menghafal, bukan sekadar seremonial, melainkan menghidupkan nilai yang sudah lama ada namun kadang terlupakan di tengah kesibukan dan derasnya arus informasi digital.

Kegiatan di Kecamatan Pemalang ini mengambil nuansa yang sedikit berbeda. 

Di tengah masyarakat perkotaan yang lebih akrab dengan gawai dan media sosial, Dede Indra menyentuh tema yang sangat relevan: bagaimana Empat Pilar Kebangsaan harus menjadi tameng di era digital yang penuh ujaran kebencian, hoaks, dan polarisasi.

Empat Pilar yang dimaksud tetaplah fondasi yang sama:

Pancasila — ideologi yang menyatukan, bukan memisahkan

UUD NRI 1945 — konstitusi yang melindungi hak setiap warga negara

NKRI — kesatuan yang harus dijaga dari ancaman, termasuk ancaman digital

Bhinneka Tunggal Ika — perbedaan bukan alasan untuk berseteru, justru kekuatan untuk bersatu

"Di media sosial, kita sering terpancing ribut soal hal-hal kecil. Padahal nenek moyang kita sudah mewariskan Bhinneka Tunggal Ika — berbeda-beda tapi tetap satu. Ini bukan slogan lama. Ini resep hidup yang masih sangat relevan hari ini," begitu pesan yang mengalir dalam diskusi tersebut.

Menariknya, antusiasme warga Kecamatan Pemalang tidak kalah dari saudara-saudaranya di Watu Kumpul. 

Justru di sinilah terlihat bahwa kebutuhan akan pendidikan kebangsaan tidak mengenal batas kota atau desa. 

Warga perkotaan pun rindu untuk diajak bicara, didengar aspirasinya, dan diingatkan akan jati diri bangsanya.

Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Ada yang bertanya soal bagaimana menyaring informasi di media sosial berdasarkan nilai-nilai Pancasila. 

Ada pula yang mengangkat isu toleransi antarwarga yang belakangan terasa semakin menipis. Semua ditanggapi dengan lugas dan penuh empati oleh Dede Indra.

Yang patut diapresiasi dari Dede Indra Permana Soediro adalah komitmennya untuk benar-benar turun ke lapangan. Dalam satu hari yang sama — Senin, 16 Maret 2026 — ia telah mengunjungi dua kecamatan sekaligus: Watu Kumpul dan Pemalang.

Dua karakter masyarakat yang berbeda, dua dinamika yang berbeda, namun satu pesan yang sama: Empat Pilar Kebangsaan adalah milik dan tanggung jawab semua orang.

Bagi Dede, tugas seorang anggota MPR RI tidak selesai di ruang sidang Senayan. Justru tugas terbesar adalah ketika ia bisa hadir, menyapa, dan mendengar langsung denyut nadi rakyat yang diwakilinya.

Sebelum kegiatan ditutup, ada satu pesan yang tampaknya paling diingat para peserta:

"Kalau kita semua mau jaga Pancasila, jaga konstitusi, jaga NKRI, dan jaga persatuan — maka tidak ada kekuatan apapun yang bisa memecah belah bangsa ini. Mulai dari diri sendiri, mulai dari keluarga, mulai dari Pemalang."

Kalimat sederhana, namun berat maknanya. Dan dari Kecamatan Pemalang hari itu, semangat itu pun dibawa pulang oleh ratusan warga yang hadir — semoga tidak hanya sampai di pintu rumah, tapi juga sampai ke dalam hati yang paling dalam.

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan merupakan program resmi MPR RI yang dilaksanakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia, sebagai bagian dari upaya memperkuat rasa cinta tanah air dan pemahaman konstitusional di kalangan masyarakat.(rls)