Jurnalis Sumbar Gelar Doa Bersama di Pantai Padang untuk 5 Rekan yang Hilang di Krakatau
TOPIKINI, PADANG - Suasana haru terasa di Tugu IORA, kawasan Pantai Padang, Sabtu (12/9/2026) sore. Puluhan jurnalis di Sumatera Barat dari berbagai lintas organisasi berdiri melingkar, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa.
Mereka berdoa bersama untuk keselamatan lima jurnalis serta tiga kru kapal yang hingga kini masih dinyatakan hilang di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kelima jurnalis dan tiga kru yang hilang tersebut adalah:
1. M. Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto LKBN Antara)
2. Arie Basuki (Pewarta Foto http://Merdeka.com)
3. Yudistiro Pranoto (Pewarta Foto http://iNews.id)
4. Firdaus Wajidi / Daus (Jurnalis Anadolu Agency Turki)
5. Donal Husni (Jurnalis freelance)
6. Warta (55) - Kapten Kapal
7. Surakman (60) - ABK
8. Heriyanto (49) - Pemandu
Aksi solidaritas ini menjadi tanda bahwa jika satu jurnalis berduka, maka rasa duka juga dirasakan jurnalis di Ranah Minang. Mereka berharap rekan-rekan seprofesi dapat ditemukan dalam kondisi selamat tanpa kekurangan satu pun.
Rasa Persaudaraan yang Mendalam
Ketua Umum PFI Padang, Arif Pribadi, menegaskan bahwa aksi bersama di tepi pantai ini lahir dari rasa persaudaraan yang mendalam.
"Doa bersama ini kita peruntukkan bagi lima orang jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda usai melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Arif di sela-sela kegiatan.
Harapan serupa disampaikan perwakilan AJI Padang, Afdal Afrianto. "Kita kehilangan lima orang jurnalis yang sedang bertugas. Kita berharap lima jurnalis dan tiga awak kapal bisa segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat."
Ia menambahkan, aksi solidaritas ini diharapkan dapat mengalirkan energi positif bagi keluarga korban serta mendukung penuh kerja keras tim pencari.
Perwakilan Jurnalis Perempuan Sumatera Barat, Zulia Yandani, mengingatkan bahwa risiko kerja jurnalistik di lapangan nyata. "Peristiwa seperti ini bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu, jurnalis harus solid dan siap siaga. Kita harus berangkulan meskipun berasal dari organisasi yang berbeda-beda."
Duka Bersama
Komisioner KPID Sumbar, Noval Wiska, menyebut insiden ini bukan hanya kabar duka bagi kalangan pers, melainkan duka seluruh masyarakat Indonesia.
"Hari ini kita berduka atas belum bertemunya lima jurnalis yang tengah melakukan misi peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau. Ini duka bersama, duka Indonesia. Tidak ada berita seharga nyawa. Ini jadi pelajaran berharga bagi kita," tuturnya.
Noval juga mengingatkan pentingnya mengutamakan keselamatan dalam peliputan berisiko tinggi.
Optimisme serupa disampaikan jurnalis senior tvOne, Wahyudi Agus. "Semoga para korban segera ditemukan dalam keadaan selamat."
Sementara itu, jurnalis senior PWI Sumbar, Pedo, menegaskan peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terkait mitigasi risiko peliputan bencana.
Dukungan dari Kepolisian
Solidaritas juga datang dari Tim Klewang Polresta Padang yang turut hadir menyampaikan rasa duka.
"Kami menyampaikan ucapan duka mendalam atas hilangnya lima orang jurnalis yang tengah bertugas di lapangan. Rekan jurnalis dari semua elemen merupakan saudara dan mitra kepolisian dalam menjaga Kamtibmas. Jurnalis pemburu berita dan Tim Klewang pemburu kriminal, tidak bisa dipisahkan, sejalan," ujar IPDA David Wewe, perwakilan Tim Klewang.
"Bagi rekan jurnalis lainnya, pelaksanaan tugasnya sangat berbahaya dan berisiko. Untuk itu keselamatan diri menjadi sangat penting, semoga jadi pembelajaran ke depannya," tambahnya.
Sebagai penutup, Ketua IJTI Sumbar, Defri Imung Mulyadi, menyampaikan bahwa gerak batin yang dilakukan di Pantai Padang menyatu dengan gelombang doa jurnalis se-Nusantara.
"Sampai saat ini saudara seprofesi kita masih dinyatakan _lost contact_ usai melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. Hari ini kita tengadahkan tangan dan bermunajat kepada Allah SWT, semoga lima orang jurnalis dan tiga kru yang membawa mereka bisa ditemukan dengan selamat dan bisa berkumpul dengan keluarga masing-masing," pungkasnya.(Lia)

