Saat Sosialisasi di Pemalang, Dede Indra Permana Bicara Soal Bangsa
TOPIKINI, PEMALANG — Tidak ada aula berpendingin udara. Tidak ada meja panjang berselimut kain hijau layaknya sidang resmi. Yang ada hanyalah hamparan kursi plastik merah, tenda sederhana di pinggirnya, dan langit terbuka yang menjadi atap pertemuan.
Namun justru di sinilah, di halaman kampung Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Minggu (29/3/2026), demokrasi terasa paling nyata.
Anggota MPR RI Dede Indra Permana Soediro, S.H., M.H. dari Fraksi PDI Perjuangan berdiri tegak di atas panggung kecil, mikrofon di tangan, berbicara langsung kepada ratusan warga yang duduk rapat memenuhi setiap sudut halaman.
Di belakangnya, spanduk Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI terpampang jelas — menjadi saksi bisu bahwa hari itu, negara hadir bukan dalam wujud gedung atau protokol, melainkan dalam wujud seorang wakil rakyat yang mau berpanas-panasan bersama konstituennya.
Ada ironi yang kerap terjadi dalam praktik demokrasi kita: rakyat yang seharusnya diwakili justru harus bersusah payah datang ke pusat kekuasaan untuk didengar.
Tapi tidak di Kecamatan Taman hari itu. Justru sang wakil rakyat yang datang — menyusuri jalan kampung, berdiri di halaman yang sama tempat warga biasa ngobrol sambil minum kopi setiap paginya.
Pilihan tempat ini bukan kebetulan. Ini adalah pesan. Bahwa kebijakan dan nilai-nilai kebangsaan bukan sesuatu yang hanya dibicarakan di balik tembok-tembok gedung DPR/MPR di Senayan. Ia harus hidup, harus bernafas, dan harus terasa sampai ke gang-gang kecil di Kecamatan Taman.
Di atas panggung sederhana itu, Dede Indra menyampaikan materi Empat Pilar Kebangsaan dengan gaya yang to the point namun tetap hangat — cara bicara yang cocok untuk masyarakat yang sudah terbiasa dengan kesederhanaan dan kejujuran.
Empat pilar yang menjadi fondasi bangsa ini kembali diurai satu per satu:
Pancasila — bukan ideologi yang usang, melainkan kompas moral yang justru makin dibutuhkan di zaman yang makin kompleks ini
UUD NRI 1945 — bukan sekadar teks hukum, melainkan kontrak sosial antara negara dan rakyatnya yang harus dijaga bersama
NKRI — bukan hanya soal batas wilayah di peta, tapi soal rasa memiliki dan tanggung jawab bersama atas tanah air ini
Bhinneka Tunggal Ika — bukan slogan di ekor Garuda, melainkan cara hidup yang harus terus dilatih setiap hari di tengah perbedaan yang ada
Yang menarik, penyampaiannya tidak melangit. Dede Indra memilih bahasa yang membumi — bahasa yang mudah dipahami oleh petani, pedagang pasar, ibu rumah tangga, hingga anak muda yang baru pertama kali melek politik.
Pemandangan ratusan warga duduk rapat di kursi plastik merah di bawah sinar matahari adalah gambaran yang tidak bisa dibuat-buat. Mereka hadir bukan karena diwajibkan.
Mereka hadir karena ingin — ingin mendengar, ingin berdialog, ingin merasa bahwa suara mereka penting dan didengar oleh orang yang duduk di Senayan.
Antusiasme itu terbaca jelas. Tidak ada yang sibuk dengan gawainya. Tidak ada yang berbisik-bisik tidak karuan. Semua mata tertuju ke panggung — ke sosok yang berdiri di sana dan berbicara tentang bangsa, tentang masa depan, tentang hal-hal yang sesungguhnya paling dekat dengan hidup mereka sehari-hari meski kerap tidak mereka sadari.
Minggu, 29 Maret 2026 adalah hari yang panjang bagi Dede Indra Permana Soediro. Pagi hingga siang di Warungpring, berlanjut ke Kecamatan Taman.
Dua karakter warga yang berbeda, dua suasana yang berbeda, namun satu benang merah yang sama: tekad untuk memastikan nilai-nilai kebangsaan tidak hanya terpajang di buku pelajaran, tetapi benar-benar meresap ke dalam kehidupan nyata masyarakat Pemalang.
Bagi sebagian orang, hari Minggu adalah waktu istirahat. Bagi Dede Indra, hari Minggu adalah waktu untuk hadir di tengah rakyat yang diwakilinya — dan itu, lebih dari sekadar kewajiban. Itu adalah panggilan.
Ketika panggung kecil di halaman kampung Kecamatan Taman itu selesai memainkan perannya, dan kursi-kursi merah perlahan mulai dikosongkan, ada sesuatu yang tertinggal — bukan brosur, bukan souvenir, bukan pula foto-foto seremonial.
Yang tertinggal adalah percakapan. Adalah kesadaran. Adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan terus terngiang di benak warga sepulang dari sana: Sudahkah saya benar-benar mengamalkan Pancasila? Sudahkah saya ikut menjaga NKRI dengan cara saya sendiri yang paling sederhana?
Dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang sejatinya menjadi tujuan utama dari seluruh rangkaian sosialisasi ini. Bukan seremoni. Bukan angka kehadiran. Tapi perubahan cara pandang — dimulai dari halaman kampung di Kecamatan Taman, menyebar ke seluruh penjuru Pemalang, dan semoga terus mengalir jauh ke depan.
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan oleh anggota MPR RI Dede Indra Permana Soediro, S.H., M.H. merupakan bagian dari program nasional MPR RI untuk memperkuat pemahaman dan pengamalan Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika di seluruh lapisan masyarakat Indonesia.(rls)

