PTP Non Petikemas Ubah Cara Jaga Laut Teluk Bayur, Pasca Tumpahan 2017

PTP Non Petikemas Ubah Cara Jaga Laut Teluk Bayur, Pasca Tumpahan 2017
Foto: Oil boom dipasang saat kapal tangker bersandar,yang akan membawa CPO

TOPIKINI, PADANG - Tak jauh dari Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Dewi Anggraini memperhatikan ombak yang pecah pelan di bibir pantai.  

“Kalau airnya keruh atau bau, tamu langsung komplain. Tapi kalau bersih, mereka betah berlama-lama,” katanya sambil menunjuk laut yang sore itu tenang berwarna biru kehijauan.  

Bagi Dewi, yang sudah puluhan tahun mengelola Penginapan Pesona Beach Travelodge, laut bukan hanya pemandangan. Laut adalah penghidupan.

Tamu mulai dari luar Sumatera Barat hingga dari Prancis, China, Korea, Jerman, dan Singapura datang karena airnya jernih dan ikan segar dari nelayan masih tersedia lewat tradisi "elo pulek", menarik ikan bersama-sama dari laut.  

Tapi Dewi juga ingat betul rasa takut itu, “semoga air laut selalu bersih, tak terulang lagi tumpahan CPO beberapa waktu yang silam,” gumamnya.

Ketakutan itu nyata. Jumat pagi, 28 September 2017, sekitar 50 ton CPO tumpah ke perairan Teluk Bayur, Padang, karena kebocoran tangki timbun akibat gempa. Air tercemar, hasil tangkapan nelayan berkurang, anak-anak yang biasa mandi di laut mengeluh gatal-gatal.

Sejak itu, menjaga laut tak lagi sekadar tugas pemerintah. PTP Non Petikemas yang mengelola Dermaga 7 mengubah seluruh cara kerja mereka.

(foto : Bule ikut "Maelo Pukek" bersama nelayan)

Sore di Dermaga 7

Sore itu, angin Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, datang pelan. Membawa bau asin laut bercampur hangatnya CPO yang baru dipompa dari darat.  

Aku berdiri di Dermaga 7, kawasan yang biasanya tertutup untuk umum. Kali ini aku diizinkan masuk bersama tim PTP Non Petikemas. Dari jarak 500 meter, aku menyaksikan bagaimana CPO dari pabrik dialirkan melalui pipa besar ke kapal tanker milik PT Wira Inno Mas. Kapal itu akan membawa 4.325 ton CPO ke Thailand.  

Di balik pemandangan yang tampak sederhana itu, ada kerja panjang yang jarang terlihat: menjaga agar laut tetap aman, agar kapal bisa berangkat, dan agar masyarakat pesisir tetap bisa hidup dari lautnya.

Ketika Dermaga Bekerja 24 Jam

Dermaga 7 bukan tempat yang sepi. Hari itu, dua tanker hampir bersamaan bersandar. Kadang dalam sehari bisa 4 sampai 5 kapal masuk ke Dermaga 7 Pelabuhan Teluk Bayur.  

“Kita melayani nonstop 24 jam, dibagi 3 shift,” cerita Fauzan, Leader PT POI yang bekerja sama dengan PTP Non Petikemas untuk menjaga lingkungan pelabuhan.  

Setiap kali kapal bersandar, hal pertama yang dilakukan adalah memasang _oil boom_ sepanjang hampir 100 meter yang ditarik satu kapal kecil mengelilingi kapal tanker yang baru bersandar. Bukan sekadar prosedur, tapi jaga-jaga jika terjadi tumpahan.  

PTP Non Petikemas menjadikan mitigasi tumpahan sebagai standar. Alat pengaman dipasang, tim disiagakan, dan SOP dijalankan tanpa kompromi.  

“Belajar dari kejadian 2017, kami memperkuat sistem pengamanan limbah,” ujar Sudirno, Deputy Manager Operasi dan Teknik PTP Non Petikemas.  

Latihan SOP _safety_ dan simulasi penanganan tumpahan CPO kini rutin dilakukan beberapa kali dalam setahun.

(Foto: Latihan gabungan menghadapi kebocoran saat pengisian CPO, FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dll.)

Antara Industri, Laut, dan Manusia

Di sisi lain, masyarakat pesisir menaruh harapan besar pada kerja-kerja itu.  

“Jangan sampai terjadi kembali. Bisa mengurangi hasil tangkapan ikan kami,” kata Natal Risman, 70 tahun, warga yang sejak kecil tinggal dekat pelabuhan dan juga Ketua Nelayan Kelompok Robin Gaung. Ia sudah 30 tahun melaut.  

Aidil, 55 tahun, Ketua RT 03 RW 03 Kelurahan Hates nan XX, juga menegaskan hal yang sama. Anak-anak di kampungnya menjadikan laut sebagai tempat bermain.

Setiap sore, anak-anak di daerah setempat selalu menyempatkan diri mandi dan berenang. Jika air tercemar sedikit saja, warga langsung merasakan gatal-gatal.  

Branch Manager PTP Non Petikemas Cabang Teluk Bayur, Fauzi, mengatakan PTP Non Petikemas menyadari bahwa pelabuhan tidak bisa berdiri sendiri.

Kawasan Pelabuhan Teluk Bayur adalah ruang pertemuan antara aktivitas industri, pelabuhan, permukiman, dan ekosistem laut.

Karena itu pengawasan dilakukan berlapis: berkoordinasi dengan KSOP, Dinas Kelautan dan Perikanan, DLH, hingga Pelindo.  

Direktur WALHI Sumbar, Tommy, mengingatkan bahwa risiko pencemaran CPO berpotensi cukup tinggi karena karakteristik limbahnya yang berkadar organik tinggi dan bisa membentuk lapisan di permukaan laut. Lapisan itu menghalangi cahaya matahari, mengganggu oksigen, dan merusak ekosistem pesisir.  

Tapi di sinilah peran pelabuhan diuji: bagaimana industri bisa berjalan tanpa mengorbankan laut.

Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi, M.Sc, Dosen dan Peneliti Kelautan & Perikanan Universitas Bung Hatta Padang, menambahkan:  

“Pemantauan dan pengelolaan lingkungan wajib dilakukan setiap 6 bulan sesuai aturan KLHK. Masyarakat juga perlu ikut memantau secara independen, karena pelabuhan juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi warga sekitar.”

(Foto : Pemasangan oil boom di kapal tangker)

Kinerja dan Komitmen Berjalan Beriringan

Di tengah upaya menjaga lingkungan, PTP Non Petikemas Cabang Teluk Bayur juga mencatat kinerja positif. Hingga Triwulan I 2026, throughput mencapai 1,51 juta ton atau 118,69% di atas target. Angka ini naik dibanding periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 1,36 juta ton.  

“Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan pengguna jasa. Dan kepercayaan itu harus kami jaga dengan operasi yang aman dan bersih,” kata Fauzi.

Penutup

Dermaga 7 mungkin hanya terlihat seperti hamparan besi, pipa, dan kapal besar. Tapi di baliknya ada kerja diam PTP Non Petikemas: memastikan setiap kapal berangkat dengan aman, setiap tumpahan dicegah, dan setiap risiko dijaga.  

Karena bagi masyarakat Teluk Bayur, laut bukan sekadar jalur logistik. Laut adalah dapur, tempat bermain anak, dan masa depan.  

Tumpahan 50 ton CPO pada 28 September 2017 adalah luka yang tidak boleh terulang. Karena itu, setiap _oil boom_ yang terpasang dan setiap SOP yang dijalankan di Dermaga 7 adalah janji PTP Non Petikemas: menjaga laut hari ini agar sejarah itu berhenti di masa lalu.

Dan di situlah kerja pelabuhan yang baik diukur: bukan hanya dari berapa ton CPO yang terkirim, tapi dari seberapa bersih laut yang ditinggalkan setelahnya.(Penulis: Zulia Yandani / Lia)