Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh Gelar Lokakarya Co-Kreasi Penyusunan Modul GAP Kakao Bersama Petani dan Generasi Muda
TOPIKINI, PAYAKUMBUH — Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh menyelenggarakan kegiatan Co-Kreasi Penyusunan Modul Good Agricultural Practices (GAP) Kakao pada Sabtu, 24 Oktober 2026, bertempat di Ruangan Oryza Sativa, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.
Kegiatan ini melibatkan 30 petani, 15 mahasiswa, dan 20 orang panitia, sebagai bentuk kolaborasi antara petani, generasi muda, akademisi, dan praktisi dalam pengembangan panduan praktik pertanian kakao yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Kegiatan co-kreasi ini bertujuan untuk menghimpun saran, masukan, serta pengalaman praktis dari berbagai pihak guna menyempurnakan modul GAP kakao.
Peserta yang terlibat berasal dari Kelompok Tani Taram Sejahtera, komunitas pemuda dan pemudi kakao di Kabupaten Lima Puluh Kota, serta dosen dan praktisi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan kakao.
Salah satu praktisi yang diundang sebagai narasumber adalah Bapak Edi Syafianto, petani kakao dari Nagari Balubuih, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Melalui diskusi dan pertukaran pengalaman, peserta memberikan berbagai masukan berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi petani dalam mengelola tanaman kakao.
Pendekatan co-kreasi ini diharapkan dapat memastikan bahwa modul yang disusun tidak hanya memuat aspek teknis pertanian, tetapi juga relevan dengan kebutuhan, pengalaman, dan tantangan yang dihadapi oleh petani serta pemangku kepentingan kakao.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan menghasilkan sejumlah saran serta masukan untuk penyempurnaan modul GAP kakao yang berfokus pada tiga aspek utama, yaitu budidaya, pascapanen, dan pengolahan limbah.
Aspek budidaya mencakup praktik pengelolaan tanaman kakao yang baik, sedangkan aspek pascapanen diarahkan pada peningkatan penanganan hasil untuk mendukung kualitas biji kakao.
Sementara itu, aspek pengolahan limbah menekankan pemanfaatan sisa hasil kegiatan pertanian kakao agar memiliki nilai guna dan dapat mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Hasil diskusi dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan modul GAP kakao agar dapat digunakan sebagai panduan praktik bagi petani dan stakeholder terkait.
Keterlibatan petani, generasi muda, akademisi, dan praktisi diharapkan mampu menghasilkan modul yang mudah dipahami, mudah diterapkan, serta sesuai dengan kondisi lokal pengembangan kakao di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Melalui kegiatan ini, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh berharap kolaborasi antara dunia pendidikan, kelompok tani, komunitas pemuda, dan praktisi kakao dapat terus diperkuat.
Dengan adanya modul GAP kakao yang disusun berdasarkan pengalaman dan masukan berbagai pihak, diharapkan praktik budidaya, penanganan pascapanen, serta pengolahan limbah kakao dapat semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi petani maupun pemangku kepentingan dalam mendukung pertanian kakao yang produktif, berkualitas, dan berkelanjutan.(rls)

