Petani Taram Belajar Fermentasi Kakao, Kulit Limbah Tak Lagi Sekadar Limbah
TOPIKINI, LIMA PULUH KOTA — Kualitas kakao tak hanya ditentukan dari cara budidaya di kebun, tetapi juga penanganan pascapanen. Guna meningkatkan mutu hasil panen, Pusat Studi Lingkungan (PSL) Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) memberikan edukasi fermentasi biji kakao dan pengelolaan limbah kulit buah kepada petani di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kegiatan bertajuk “Cocoa Connect: Masyarakat dan Ilmu GAP Bersinergi untuk Produksi Kakao Berkelanjutan” ini berlangsung di kebun Kelompok Tani Taram Sejahtera, Rabu (23/9/2026). Program bagian dari In-Saintek Semesta yang didanai Kemendiktisaintek ini diikuti sekitar 50 peserta, meliputi anggota kelompok tani, warga sekitar, BPP Kecamatan Harau, dan Pemerintah Nagari Taram.
Ketua Pelaksana Cocoa Connect, Dara Latifa, S.P., M.Si., menekankan pentingnya hilirisasi riset kampus agar berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kualitas kakao sangat ditentukan oleh apa yang dilakukan setelah panen. Kami ingin pengetahuan kampus tidak berhenti di laboratorium, tetapi diterapkan langsung di kebun sesuai kondisi petani,” kata Dara.
Hadir sebagai narasumber, Hendy Firmanto, S.T., M.Sc., memaparkan teknik fermentasi untuk pembentukan cita rasa dan mutu biji kakao, sekaligus pemanfaatan kulit buah yang selama ini terbuang.
“Jangan melihat kulit kakao sekadar limbah. Dalam konsep pertanian berkelanjutan, hasil samping ini adalah sumber daya yang punya potensi nilai tambah jika dikelola dengan baik,” ujar Hendy.
Rangkaian acara diawali pre-test, pemaparan materi, hingga diskusi interaktif tempat para petani berbagi kendala lapangan. Ketua Kelompok Tani Taram Sejahtera, Darwin, menyambut positif pelatihan ini.
“Selama ini kami fokus pada perawatan tanaman sampai berbuah. Lewat kegiatan ini, kami paham pentingnya fermentasi dan baru tahu kalau kulit kakao ternyata bisa dimanfaatkan,” ungkap Darwin.
Kegiatan diakhiri dengan post-test untuk mengukur pemahaman peserta. Dara berharap hasil pelatihan ini dapat diterapkan secara konsisten di tingkat kelompok tani demi mewujudkan ekosistem produksi kakao yang berkelanjutan.(art)

