Tunjang Pariwisata dan Kesuksesan PON 2024, Aceh Sudah Layak Milik Kereta Bandara

Oleh : Muhammad Ichsan

Mahasiswa Magister Asia Tenggara, Universitas Indonesia / Pegiat Sea Studies / Fokus Parlemen Institute.

Jakarta – Kereta Api Bandara menjadi tren baru transportasi di tengah ibukota provinsi di Indonesia.  Beberapa provinsi telah merampungkan Operasional  kereta api rute Bandara dimulai  dari Provinsi ; Sumatera Utara, 1. Rute (Bandara Internasional Kuala Namu – Kota Medan), 2. Sumatera Barat (Bandara Internasional Minangkabau – Kota Padang), 3. (Bandara Internasional Yogjakarta (Wojo) – Maguwo Kota ), 4. (Bandara Internasional Adi Soemarmo – Solo) , 5. (Bandara Internasional Mahmud Badaruddin II – Kota Palembang) yang rampung saat Pagelaran Asian Games 2018, serta 6. (Bandara Internasional Soekarno Hatta – Jakarta).

Serta, baru baru ini Kementerian Perhubungan akan memulai proses pembangunan stasiun untuk kereta bandara di Bandara Raden Inten II, Lampung, pada 2020. Setelah stasiun dan prasarana lain rampung, kereta bandara pertama di provinsi ini beroperasi pada 2022. Total sudah 6 Stasiun Bandara yang terkoneksi dengan jaringan transportasi di Ibukota , disusul Lampung dan Makassar.

Tren pembangunan stasiun bandara, ini semakin meningkat di tengah Kemajuan terlebih di ibukota provinsi yang memiliki jumlah kunjungan masyarakat dan promosi pariwisata.  Bagaimana dengan Provinsi yang menerapkan Syariah Islam di paling barat Sumatera, Aceh..?

Tren pembangunan stasiun kereta api Bandara sebagai moda transportasi modern penunjang pariwisata, selain hal tersebut juga mengukur kemajuan Infrastruktur sebuah kota dalam hal ini ketersediaan transportasi masa kini yang memudahkan para wisatawan baik lokal maupun Internasional.

Aceh sebagai provinsi yang menarik perhatian pariwisata lokal dan asing sudah selayaknya memiliki  stasiun kereta api bandara yang terhubung dengan Bandara Internasional, Aceh harus mencontohi Negara Malaysia, Peta Transportasi Kota Kuala Lumpur atau Dubai sebagai (Plan Model).

Menatap Kemajuan Transportasi Aceh yang nantinya akan menyelenggarakan PON pada tahun 2024. Pasalnya, Provinsi Aceh adalah pasangan Sumut sebagai tuan rumah harus berbenah salah satunya melalui ketersediaan layanan publik yang modern.

Aceh selain kaya akan lokasi wisata juga kaya akan ragam budaya, serta dari pada pemerintah membeli pesawat terbang minim penggunaan ke masyarakat luas lebih baik memperbaiki infrastruktur transportasi modern di darat seperti jalur kereta api khususnya bandara. Saat ini kebutuhan masyarakat kota modern, dalam hal ini Kota Banda Aceh, pusat Ibukota Provinsi harus cepat berbenah dari ketertinggalan.

Saat ini Aceh hanya memiliki Kereta Api  bernama Cut Meutia (sebelumnya bernama Kereta Api Perintis Aceh) adalah kereta api yang melayani perjalanan dari Stasiun Krueng Mane-Bungkaih-Krueng Geukueh yang ada di Provinsi Aceh dengan layanan Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) buatan PT Inka. Kereta api ini diuji coba mulai tanggal 1 Desember 2013.

Masyarakat diberi kesempatan naik secara gratis selama sebulan pada masa uji coba tersebut. Jarak jalur KA ini sejauh 11,3 km. Kereta api ini berjalan pada jalur rel selebar 1.435 mm, bukan 1.067 mm yang umumnya dipakai di Indonesia. (red)

Loading...