Tausyiah: Keterbatasan adalah Karunia

25

Oleh: Haidar Alwi Institute (HAI)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut kadar (yang telah ditentukan)”
(Al Qomar : 49)

Alam semesta disebut sebagai makrokosmos. Manusia disebut sebagai mikrokosmos karena demikian kompleksnya sistem dalam tubuh manusia…termasuk sistem saraf, kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), saluran cerna, saluran kemih, muskuloskeletal (alat gerak), darah, hormon, enzim, sistem imun, kromosom, DNA, dll…sedemikian hingga menyamai makrokosmos dalam bentuk kecil.
Demikian kompleks-nya manusia namun juga demikian rapuhnya manusia dihadapkan Tuhan Sang Pencipta.

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa segala proses dalam tubuh manusia diatur oleh zat pengatur (dapat berupa enzim, hormon, neurotransmitor, neuroendokrin, transporter, sitokin, dan yang lain) yang biasanya berupa ‘protein kompleks’. Zat ini diproduksi oleh ‘pabrik’ yang ada dalam sel melibatkan perangkat sel. ‘Pabrik’ tersebut dikontrol oleh DNA manusia. Bila terdapat SEDIKIT saja kesalahan atau tidak terbentuknya ‘protein’ zat pengatur tersebut, maka akan terjadi penyakit atau kelainan.

Tuhan menciptakan manusia dengan kadar (ukuran/keterbatasan) nya. Dan ini merupakan karunia yang tiada taranya.
Sedikit saja kelebihan atau kekurangan zat pengatur tubuh tersebut maka manusia akan menderita atau bahkan tidak bisa hidup.

Yang lebih mudah diamati bahwa indera manusia juga mempunyai keterbatasan tertentu. Penglihatan manusia sangat terbatas pada ukuran partikel dan jarak tertentu. Pendengaran manusia hanya peka terhadap gelombang suara dengan frekuensi 30-30.000 saja. Pengecapan dan hidung manusia hanya dapat membedakan rasa dan bau yang terbatas.

Dapat dibayangkan bila kita bisa melihat sampai benda ukuran mikro, melihat menembus dinding, melihat sangat jauh, melihat yang gaib… bukankah hal tersebut  malah sangat mengganggu?
Kita tidak akan tidur nyenyak bila dapat mendengar suara dengan frekuensi sangat tinggi, mendengar dari ribuan kilometer, mendengar suara-suara gaib. Kita tidak bisa menikmati makanan bila dapat mengecap dan mencium bau sampai sangat detil dan jauh.

Lebih jauh lagi… apakah kita masih tetap bisa tenang dan tenteram bila dapat mengetahui isi hati semua orang, termasuk istri/suami/anak kita? Apakah kita masih bisa tidur dengan tenang bila kita dapat melihat ke alam gaib, melihat makhluk halus, melihat neraka, dan yang lain.

Karena itu kita harus bersyukur dengan KETERBATASAN yang dikaruniakan kepada kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu… Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS 2:216)

Wallahualam bissawab
(HAI)

Loading...