SUKMAWATI, 212 DAN HTI

355

TOPIKINI – Sudah dua kali Sukmawati Sukarnoputri bersinggungan dengan “hukum”. Kasus yang pertama adalah saat membacakan puisi dengan judul “Ibu Indonesia” yang mendapatkan pro kontra dari masyarakat.

Ada yang merasa bahwa puisi tersebut menyakiti umat Islam karena membandingkan antara suara adzan dengan kidung, dan membandingkan cadar dengan konde.

Akhir dari kasus tersebut karena ada peran menteri agama yang berkuasa saat itu, Lukman Hakim yang menelepon Sukmawati, supaya minta maaf dan akhirnya dimediasi MUI oleh Ma’ruf Amin ketua MUI, yang sekarang menjadi wakil presiden.

Yang menarik dari kasus ini adalah ramai puisi ” Ibu Indonesia” banyak rakyat Indonesia yang tersadar seperti baru bangun tidur bahwa selama ini mereka disuguhi oleh penampilan ibu-ibu di desa, di kampung, kantor pemerintah, kantor BUMN, ibu-ibu TNI/Polri, perkumpulan arisan dll, kita lihat penampilan busana menggunakan jilbab, yang kalau kita amati, rasakan dan renungkan itu bukan dari gaya berpakaian Indonesia.

Jilbab atau cadar yang cocoknya memang dipakai di negara Timur Tengah yang memang berfungsi untuk menahan panasnya matahari yang menyengat, dinginnya udara waktu malam, angin kencang dan tidak jarang badai disertai pasir yang memang ciri khas iklim di daerah padang pasir. Cara berpakaian ini yang diadopsi ibu-ibu yang kalau kita amati kurang “pas” untuk digunakan di negara kita.

Kalau tidak percaya silahkan datang ke negara Timur Tengah, entah itu Arab, Uni Emirat Arab, Yordania, Iran, Irak dll…rasakan dan nikmati lalu renungkan.

Jadi kalau belum pernah kesana, jangan komentar ya….

Melihat kasus diatas, akhirnya terjadi fenomena, gelombang dari para ibu-ibu yang mencintai busana Indonesia, kembali diingatkan yang selama ini tertidur, kembali untuk memakai, mencintai, merawat dan membudayakan pakaian tradisional maupun nasional yang sesuai dengan gaya busana bangsa Indonesia.

Bahkan sekarang setiap hari selasa ibu-ibu menggunakan kebaya atau baju daerah atau batik yang merupakan ciri khas dan kekayaan budaya Indonesia.

Cara berpakain harusnya bercermin dan mencontoh dari para pemimpin nasional, yang cukup menggunakan “kerudung” pada saat acara-acara tertentu. Misal Fatmawati, Tien Suharto, Ainun Habibie, Sinta Nuriyah, Megawati, Ani Yudhoyono dan sekarang Iriana.

Makanya untuk calon presiden yang akan datang, boleh juga kita amati, jika istrinya menggunakan Jilbab, kita beri catatan dan menurut penulis lebih baik jangan dipilih.

Penulis sendiri akan memilih dan mendukung yang statusnya “Jomblo”. Kok Sri pilih yang Jomblo ? Karena yang jomblo istrinya “Ibu Pertiwi” jadi fokus urus bangsa dan negara.

Kembali ke ulekan. Sekarang ini Sukmawati bersentuhan lagi dengan “hukum” karena diduga menistakan agama Islam, membandingkan Alquran dengan Pancasila dan membandingkan Sukarno dengan Nabi Muhammad SAW.

Kalau kita amati di media sosial, baik di Youtube, FB, Twitter, Insta, banyak yang memberikan komentar mulai dari menyayangkan, prihatin hingga mengecam Sukmawati.

Anggota DPR/MPR dari PKS mulai dari Hidayat Nur Wahid, Nasir Djamil, Andi Akmal Pasluddin, Suhud Aliyuddin, Aboebakar Alhabsyi. Dari para Kyai Ustad, Habib, yaitu : Waliyul Amri, Oemar Mita, Hanif Al-Athos, Tengku Zulkarnaen, Edy Mulyadi, Yahya Waloni, Felix Siauw, Novel Bamukmin, Yusuf Martak, Yahya. Budayawan, Ridwan Saidi. Dari MUI, Anwar Abbas dan Cholil Nafis. Pakar hukum pidana, Mudzakir. Husain Syah, Sultan Tidore. Ahmad Khazimudin, ketua LBH Pelita Umat. Azyumardi Azra, Vasco (Macan Idealis). Juga ada demontrasi FPI Cianjur dan FPI Madura. Di FB ada yang mengedit foto Sukmawati menjadi tidak sopan, Appit Maskuri dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sukmawati dilaporkan di Polda Metro oleh Ratih Puspa Nusanti (Korlabi) dan Irvan Noviandra. Dan dilaporkan ke Mabes Polri oleh : Buya Abdul Majid (FPI) dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U).

Sukmawati sendiri dalam kasus ini berpendapat tidak akan meminta maaf, karena seperti yang dilansir di detik.com (senin 18/18/2019). ” Saya cuma bertanya dan sebetulnya saya hanya mengulang memberikan keterangan tentang info yang saya dapat, tentang info yang bukan dari saya, tapi dari perekrut calon-calon radikalis yang bertanya lebih baik Pancasila atau Alquran. Sukmawati menuturkan akibat video pidatonya diedit dan diunggah tak utuh di media sosial, timbul kesan buruk terhadap dirinya. Menurut dia, pertanyaan tentang Nabi Muhammad SAW dan Sukarno telah sesuai konteks. Lewat pertanyaan itu Sukmawati hendak mengingatkan sosok yang berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Dari media sosial, ternyata yang membela Sukmawati ada juga yaitu, Addarori Ibnu Wardi, Bambang Saputro (cendekiawan muslim), Buya Syakur, Hajar N. Tata, Abhi Yakta Alzena. Arsul Sani wakil ketua MPR, Hendrawan Supratikno (PDIP), dan Lutfi Attamimi dari Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) yang kalau kita lihat videonya akan membuka tabir selama ini, darimana dana-dana pergerakan mereka.

Untuk selanjunya bagaimana kasus ini berlanjut, kita akan lihat dan amati bersama-sama.

SRINARENDRA

Pengamat isu di Media Sosial

Loading...