Sosialisasi Program KB di Kabupaten Takalar Dihadiri Anggota DPR RI Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi (baju putih)

TOPIKINI, KAB. TAKALAR – Anggota Komisi IX DPR RI Ashabul Kahfi, hadir dalam acara sosialisasi Pendataan Keluarga dan Kelompok Sasaran Bangga Kencana Bersama Mitra Tahun 2021, Minggu (27/06/2021) di Mts Kanaeng, Kec Galesong selatan, Kab.Takalar.

Politisi partai PAN itu memberikan pemaparan tentang stunting serta manfaat program KB bagi masyarakat.

“Program KB itu bertujuan untuk mengatur atau menekan laju pertumbuhan penduduk agar jangan sampai tak terkendali. Tapi sekarang yang juga sangat penting, program KB itu juga bertujuan menciptakan keluarga yang berkualitas,” ucap Ashabul Kahfi saat menyampaikan narasinya di hadapan puluhan peserta yang hadir.

Menurut Ashabul Kahfi, hal pertama yang dilakukan pemerintah sebelum membuat program lebih lanjut tentang KB atau pembangunan keluarga, maka pemerintah terlebih dahulu mendata keluarga yang ada di tanah air ini.

“Sebelum dibuat program-program kesejahteraan oleh pemerintah, tentu terlebih dahulu semua keluarga yang ada di tanah air ini didata dulu, supaya program yang akan dibuat, bisa disesuaikan dengan kondisi penduduk saat ini, sesuai hasil pendataan yang kemaren dilakukan,” lanjutnya.

Sejak 1 April sampai 21 Juni 2021 kemaren, BKKBN menggelar pendataan keluarga di seluruh Indonesia, untuk mendapatkan angka pasti jumlah penduduk, serta kondisi terkini masyarakat Indonesia.

“Stunting adalah salah satu focus utama pemerintah untuk menguranginya. Dari pendataan tersebut kita sudah dapat angka pastinya, dan nanti program-program yang akan dibuat di suatu daerah, akan disesuaikan dengan apakah itu jumlah stunting di daerah itu, atau anak-anak yang putus sekolah, atau kondisi kesehatan serta kondisi social masyarakat setempat. Makanya data itu penting,” tambahnya.

Dilanjutkan Kahfi, perkawinan diusia muda juga menjadi salah satu penyebab stunting di tanah air. Sehingga ia menyarankan usia perkawinan harus disesuaikan dengan undang-undang perkawianan yang berlaku di Indonesia yaitu diatas 19 tahun.

“Menikah dibawah umur, akibatnya ibu atau calon ibu kurang mengerti bagaimana mencukupi gizi calon bayinya, sehingga bias memicu bayinya lahir dengan kondisi stunting atau kondisi gizi parah. Makanya jangan nikah terlalu cepat, tunggulah sampai siap berumah tangga dulu,” kata Kahfi.

Hal senada juga dikatakan Dra. Hj. Andi Ritamariani, M.Pd, kepala perwakilan BKKBN provinsi Sulsel yang juga hadir pada acara sosialisasi itu. Menurutnya, stunting juga bias disebabkan factor jumlah anak yang dilahirkan seorang ibu tak sebanding dengan kemampuan ekonomi keluarga.

“Kondisi perekonomian masyarakat kita yang berada pada kondisi menengah kebawah, maka membatasi anak cukup dua saja, akan lebih efektif mengantisipasi stunting. Sebab dengan anak banyak, tentu kebutuhan dan biaya hidup jauh meningkat, iya kalau bapaknya mampu, kalau tidak kan gizi anak yang tak bias terpenuhi,” kata Andi Ritamariani melengkapi.(rizki)