Sejak Pandemi Covid-19, Janda Sumenep Meningkat 927 Orang

683

Sumenep – Angka perceraian di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur cukup tinggi. Buktinya, selama 7 bulan terakhir angkanya rata-rata perbulan sekitar 132 kasus. Kabar ini dilansir dari limadetik.com, Senin (26/10/2020) yang mengabarkan data perceraian di Pengadilan Agama (PA) Sumenep, sejak Januari hingga Juli.

Adapun perkara perceraian yang diputus adalah berjumlah 927 kasus, terdiri dari Cerai talak 351 dan cerai gugat 576.

Panitera Muda PA Sumenep, HM. Arifin mengatakan, total laporan yang diterima selama 7 bulan tersebut sebanyak 1.028 perkara, namun yang diputus 927 perkara.

“Jadi sisanya selama 7 bulan terakhir yang belum diputus itu adalah 101 perkara,” katanya.

Menurutnya, paling tinggi angka perceraian terjadi pada Juli. Dia merinci pada Januari 112 perceraian, Februari 163, Maret 138 , April 110 , Mei 79, Juni 150, dan Juli sebanyak 175 perceraian.

Perceraian tersebut dilatarbelakangi beberapa faktor. Di antaranya, perselingkuhan, poligami, ditinggalkan sepihak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan ekonomi.

“Dari beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya perceraian yang paling dominan karena perselisihan secara terus menerus, seperti cek-cok, tidak sejalan, dan tidak terbuka satu sama lain,” tukasnya. (red)

Editor: RB. Syafrudin Budiman SIP

Foto: salah satu perempuan yang resmi menjadi setelah menenima akte cerai dari Pengadilan Agama. (Istimewa)

Loading...