Sejak adanya Listrik Bio Masa Bambu, 3 Desa di Siberut Mentawai kini Terang

33

TOPIKINI – Sebanyak 1223 keluarga di 3 desa di Siberut kabupaten kepulauan Mentawai, mendapatkan pasokan aliran listrik dari 3 pembangkit tenaga bio masa bahan bakar bambu dengan kapasitas listrik 700 kilo watt (KW).

Ketiga pembangkit listrik tersebut, Selasa lalu (17/09/2019)  diresmikan oleh menteri perencanaan pembangunan nasional, Bambang Brodjonegoro, di desa Saliguma kecamatan Siberut Tengah.

Tiga pembangkit listrik tenaga bio masa bambu tersebut, merupakan suatu teknologi pembaharuan yang baru pertama kali dibuat di Indonesia.

Sumber energi dari pembangkit listrik ini, berasal dari bambu kering, yang dicincang dan dijadikan bahan bakar penggerak turbin pembangkit listrik.

Listrik yang dihasilkan pembangkit ini, dapat menyuplai aliran listrik ke tiga desa yang berada di kepulauan Siberut. Yaitu desa Saliguma dengan kapasitas 250 KW, desa Matotonan 150 KW, dan desa Madobag dengan kapasitas 300 KW. Untuk masing masing rumah warga mendapatkan listrik dengan daya 450 watt.

“Yang paling penting, hari ini 3 desa di Siberut yang selama ini belum mendapatkan listrik, kini sudah mendapatkan listrik karena kehadiran listrik bio masa bamboo. Pembangkit ini menggunakan bahan bakarnya bamboo yang sumbernya juga berasal dari masyarakat, sehingga mereka mendapatkan manfaat, tidak saja mendapatkan listrik tapi juga mendapatkan penghasilan dari memasok bamboo kepada pembangkit,” jelas Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional BAPPENAS.

Keberadaan pembangkit listrik bio masa ini secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan perekonomian bagi masyarakat Siberut kabupaten kepulauan Mentawai.

Warga masyarakat desa Saliguma mengatakan, sebelumnya masyarakat di tiga desa di kepulauan Siberut Mentawai, belum mendapatkan pasokan aliran listrik.

“Masyarakat bersyukurlah sekarang sudah ada listrik, sebelumnya kami memakai lampu minyak tanah, jadi anak-anak ndak bisa belajar kan, tapi sekarang ada persoalan masyarakat harus membayar, dan belum ada persetujuan masyarakat untuk membayar,” kata Erbin, warga Saliguma.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pembangkit bio masa bambu tersebut, akan didapatkan dari masyarakat yang sudah menanam bibit bambu dilahan mereka, dan nantinya akan dijual kepihak PLTBM.(Benni Ekaputra)

Loading...