Saung Pancasila Nusantara: Pendidikan Pancasila di Sekolah Semakin Ditinggalkan, Kultur Budaya Mulai Dilupakan

54
Acara dialog Saung Pancasila Nusantara dengan tema 'Pancasila Hari Ini, Esok dan Akan Datang Apakah Masih Ada?', Sabtu (31/8/2019) di Cikini, Jakarta Pusat. Foto: KMI/dok.

Jakarta – Pemerhati Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bayu Neneng Wahyuni mengatakan, gangguan terhadap Pancasila yang semakin massif dan terang-terangan serta maraknya ide-ide puritanistik-primordial. Hal ini menunjukkan sikap yang tak tahu malu dan ingin memaksakan dengan dogma-dogmanya tersebut.

“Jika dibiarkan dan tidak dilawan dengan tindakan-tindakan pencerahan, maka akan berpotensi merusak dan menyerah di masyarakat, sehingga menjadi racun yang berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Bayu sapaan akrabnya, dalam acara dialog Saung Pancasila Nusantara dengan tema ‘Pancasila Hari Ini, Esok dan Akan Datang Apakah Masih Ada?’, Sabtu (31/8/2019) di Cikini, Jakarta Pusat.

Menurut perempuan berparas cantik ini, hingga saat ini Pancasila dirasakan oleh bangsa Indonesia semakin terkoyak. Dimana bisa dilihat dari hilangnya Pendidikan Pancasila di sekolah serta semakin ditinggalkannya kultur dan budaya yang dilupakan.

“Sudah 20 tahun lebih Pancasila tidak diajarkan di dunia pendidikan. Padahal pelajaran Pancasila harus tetap ada walaupun presidennya ganti,” tandasnya.

Kata Ketua Umum Love Jo ini, meskipun Pancasila tidak hilang, namun saat mulai berkurang keinginan untuk menggali nilai-nilai Pancasila dan pengamalkannya. Pancasila yang semakin tergerus, nantinya akan berdampak pada hilangnya kebersamaan.

Sementara itu, Eko Sriyanto Galgendu berpendapat, jika melihat kondisi saat ini, dibutuhkan sebuah revolusi pola pikir dan landasan dasar yang kuat dalam memahami Pancasila.

Menurutnya, pola pikir dan landasan dasar Pancasila terdapat pada spirit kebangsaan. Jika spirit kebangsaan lemah maka spirit kenegaraannya pun akan lemah.

“Dengan demikian tidak ada cara lain kita harus merevolusi spirit kebangsaan,” ujarnya.

Selanjutnya, Adi Bunardi, sosok Intelektual Publik pada kesempatan ini mengatakan, Pancasila memang pernah dirumuskan, akan tetapi tidak pernah menjadi kenyataan sosial. Meskipun katanya, sudah terjadi perubahan politik mulai dari rezim orde baru hingga saat ini.

“Untuk mewujudkan agar Pancasila menjadi kenyataan sosial, ini menjadi tanggung jawab bersama. Seharusnya Pancasila itu tumbuh melalui percakapan publik agar muncul sebuah kesadaran dan tumbuh revolusi berfikir,” tandas Adi. (red)

Acara dialog Saung Pancasila Nusantara dengan tema ‘Pancasila Hari Ini, Esok dan Akan Datang Apakah Masih Ada?’, Sabtu (31/8/2019) di Cikini, Jakarta Pusat. Foto: KMI/dok.
Acara dialog Saung Pancasila Nusantara dengan tema ‘Pancasila Hari Ini, Esok dan Akan Datang Apakah Masih Ada?’, Sabtu (31/8/2019) di Cikini, Jakarta Pusat. Foto: KMI/dok.
Loading...