Saatnya Bersatu Membangun Bangsa

19
Suasana Pemilihan Umum 17 April 2019. (Istimewa)

Hery Sucipto
(LHKI-PP Muhammadiyah)

Pileg Pilpres serentak untuk pertama kalinya telah dilaksanakan, 17 April lalu. Hasil resmi KPU memang baru akan dirilis sebulan kemudian.

Namun dari hitung cepat, dapat diketahui hasil dan pemenangnya. Untuk Pileg, dapat dipastikan juara satunya adalah PDIP, sementara juara duanya Gerindra, partai besutan Prabowo Subianto. Untuk posisi tiga, masih bersaing ketat antara Golkar dan PKB.

Sementara itu, untuk pilpres dapat dipastikan pemenangnya paslon 01 Jokowi-Amin, versi hitung cepat semua lembaga survei utama, dengan angka 54-55%, dan untuk Prabowo-Sandi 44-45%.

Melihat perkembangannya dua hari pasca pilpres, eskalasi politik nampaknya meningkat, terutama kubu 02 Prabowo-Sandi yang tidak terima dengan kekalahan versi hitung cepat tersebut.

Suhu politik kian panas setelah Prabowo (tanpa didampingi Sandi dan beberapa elit ketum parpol koalisi 02), mendeklarasikan diri menang dengan klaim 62%. Bahkan anggota BPN, Eggy Sujana, dalam video viral mengajak publik melakukan gerakan rakyat atau people power, untuk menurunkan pemerintahan Jokowi-JK, dan mengakui kemenangan Prabowo-Sandi.

Tentu perkembangan ini miris dan mengkhawatirkan kita semua sebagai bangsa. Pesta demokrasi yang demikian rumit dan lancar, ternyata belum bisa diterima dengan baik oleh elit parpol pendukung paslon capres-cawapres, terutama pihak yang kalah versi hitung cepat.

*Inisiatif PP Muhammadiyah*

Mencermati dinamika yang mengkhawatirkan tersebut, PP Muhammadiyah mengambil inisitif untuk menjadi mediator atau memediasi kedua pihak paslon untuk dapat bertemu mencari jalan keluar.

PP Muhammadiyah dalam konferensi persnya kemarin di kantor PP Yogyakarta, tegas mengajak semua anak bangsa menahan diri dan menjaga suasana agar tetap kondusif.

Selain itu, PP Muhammadiyah menawarkan diri untuk mempertemukan Jokowi dan Prabowo. Setidaknya, dengan pertemuan kedua capres tersebut dapat meredam suasana di bawah sehingga dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Seperti ditegaskan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir, persatuan dan keutuhan bangsa jauh lebih penting dan di atas segalanya, ketimbang urusan politik lima tahunan yang sudah berlangsung dengan baik.

Seharuanya, inisiatif PP Muhammadiyah ini ditangkap sebagai upaya positif dan dapat dilaksanakan untuk kepentingan lebih besar, yakni persatuan bangsa.

Di sinilah diperlukan kedewasaan berpolitik. Saya melihat, elit politik kita sebagian memang belum dewasa dan matang dalam berpolitik. Mereka belum siap kalah. Mereka hanya siap menang.

Kenyataan demikian tentu tidak baik dan merugikan kita semua. Karena akibat ulah segelintir elit, suasana kehidupan berbangsa dan bernegara terganggu. Stabilitas keamanan terancam.

Padahal, dua hari ini, saya kebetulan di daerah di Jawa Tengah, dan menyempatkan berbincang-bincang dengan warga. Semuanya merasa pemilu sudah selesai, apapun hasilnya. Mereka tampak damai dan aman saja. Tidak mempersoalkan hasilnya. Tidak pula gaduh seperti yang di Jakarta.

Tersirat jelas, masyarakat di bawah saja menunjukkan kedewasaan dalam melihat dan menyikapi perkembangan. Juga kenyataan hidup.

Masyarakat kecil, tentu ingin segera kembali menjalani hidup normal. Setelah 7 bulan lebih melalui hiruk pikuk politik penuh kecurigaan. Penuh intrik. Dan penuh ketidaknyamanan.

Apa yang saya lihat, saya tangkap, masyarakat Indonesia ingin semua bersatu, semua kembali normal. Apa yang menjadi harapan publik itu tentu hal yang sangat wajar.

Ya. Saatnya bersatu. Saatnya membangun bangsa, melaju membawa negeri ini kepada kemajuan dan kesejahteraan. Pilihan boleh beda. Dan perbedaan itu kini usai sudah.

Tinggal kita tunggu hasil resmi KPU. Siapapun pemenangnya, apapun hasilnya, kita musti terima dengan lapang dada.
Salam Indonesia Maju. ()

Loading...