Opini: Wayahe Nata Klaten

51

TOPIKINI – Pada awalnya, Klaten adalah kota metropolis, pusat kekuasaan, yang bersinar menerangi peradaban tanah Jawa karena merupakan ibukota kerajaan Medhang Matriam (Mataram Kuno) yang didirikan Rakai Sanjaya Dyah Saladu dari Dinasti Badra, setelah memindahkan kekuasan dari Temanggung usai menundukkan Dinasti Syailendra pada tahun 732 Masehi (654 Saka). Demikian bukti yang tertera pada prasasti Ngupit (866 M) yang ditemukan di Desa Ngupit Ngawen.

Sisa-sisa peradaban pada masa Rakai Sanjaya memegang tampuk kekuasaan yang kemudian dilanjutkan Rakai Pikatan hingga Rakai Kayu Wangi, hingga kini masih dapat dilihat dan dinikmati berbentuk candi, diantaranya; Plaosan (Bugisan Prambanan), Lumbung, Bubrah dan Sewu (Tlaga Prambanan), Sojiwan (Prambanan), Merak (Karangnangka), Gana (Sanggrahan Prambanan) serta candi Prambanan (Bokoharjo) dengan pintu masuk di Desa Tlaga Prambanan wilayah administratif Kabupaten Klaten.

Di mana candi Prambanan merupakan simbol kemegahan peradaban kerajaan Medhang Matriam Prambwana Mamratipura yang dibangun oleh Rakai Pikatan yang dikenal sebagai Mpu Mamrati atau Mpu Manuku.

Berikutnya, pada masa kekuasaan kerajaan Mataram Islam, sejak runtuhnya Pajang kemudian hadirnya kraton Mataram di Kota Gedhe hingga palihan nagari (Perjanjian Giyanti) yang membagi kraton trah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta, maka Kabupaten Klaten berada pada posisi strategis sebagai penghubung antara kedua kraton trah Mataram itu.

Seiring perkembangan peradaban, Yogyakarta dan Surakarta menjadi pusat kota di pulau Jawa. Namun ternyata, Kabupaten Klaten tidak juga menemukan kembali masa keemasannya sejak Indonesia merdeka.

Hal ini terjadi karena –nampaknya– para pemegang tampuk kepemimpinan di Kabupaten Klaten tidak mampu mengeksploitasi keunggulan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang menjadi potensi kabupaten dengan 27 kecamatan itu.

Apakah keadaan itu akan terus berlanjut ketika putaran pilkada serentak menghampiri Kabupaten Klaten pada tahun 2020 ini? Apakah diantara tiga pasangan calon yang maju pada pilkada tidak ada yang mumpuni untuk melakukan perubahan?

Pertanyaan yang sebenarnya layak diapungkan kepada masyarakat ‘Kota Seribu Candi’ untuk menjadi pintu pembuka bagi perubahan di Kabupaten Klaten. Sadar ataupun tidak, pilkada 2020 akan menjadi penentu bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Klaten.

Sebenarnya ada satu calon Bupati Klaten yang layak dijagokan untuk menjadi pembeda di antara ketiga calon tersebut.

Ya, calon itu adalah Dr Arif Budiyono ST MT (ABY), seorang pakar infrastruktur dari jajaran Kementrian PUPR. ABY telah malang melintang sebagai Kepala Setker sejak tahun 2010, sebuah jabatan strategis di lingkungan PUPR.

Kepakaran ABY di bidang infrastruktur tidak perlu diragukan lagi. Sebuah modal strategis sebagai calon Bupati.

Dalam sebuah kesempatan ABY menegaskan bahwa sudah waktunya Kabupaten Klaten mengembalikan masa keemasannya.

“Peluang membangun Kabupaten Klaten lebih terbuka karena berada pada posisi strategis, memiliki dukungan sumber daya melimpah serta memiliki kondisi geografis yang ideal. Dukungan anggaran dari pusat juga cukup. Tinggal dibutuhkan sebuah komitmen kepala daerah untuk memberi sentuhan khusus, maka Kabupaten Klaten akan menjadi Kabupaten unggulan,” paparnya.

Bahkan, sahabat karib Ridwan Kamil, gubernur Jawa Barat itu meyakini bahwa Kabupaten Klaten layak mereplikasi pembangunan tata kota model eropa sebagai daya dukung pelayanan masyarakat sekaligus menjadi kekuatan wisata pendukung bagi Kota Surakarta maupun Yogyakarta.

Bila dirunut ke belakang, sebenarnya keyakinan ABY dalam memutuskan kesediaan maju menjadi calon Bupati Klaten sempat berjalan alot. Banyak rekan yang menyarankan dirinya menerima lamaran beberapa partai untuk maju, termasuk dorongan dari Ridwan Kamil agar bersedia mengambil keputusan itu. Tetapi lamaran dan dorongan dari sahabatanya itu tidak juga direspon.

Berkali-kali utusan partai pengusung menemui dirinya untuk mengambil kesempatan itu. Hingga pada detik-detik akhir, batulah dirinya mengambil sebuah keputusan tegas untuk maju menjadi bakal calon bupati Klaten karena terdorong sebuah kenyataan; bahwa Kabupaten Klaten harus melakukan perubahan.

Ada kejadian khusus yang menambah keyakinan dirinya menerima lamaran partai pengusung untuk maju dalam pilkada Klaten 2020.

Bulan Agustus 2020. Kota hingga gang-gang kampung telah dipercantik dengan umbul-umbul, rontek serta spanduk-spanduk. Jalan-jalan dan pagar di perkotaan serta perdesaan telah dicat rapi. Bendera merah putih berkibar dengan gagah di seantero negeri.

Masyarakat tetap antusias menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-75 walaupun dalam masa pandemi Covid-19. Warga tidak surut dalam memaknai kemerdekaan bagi keberlangungan bangsa dan negara Indonesia.

Malam itu tanggal 16 Agustus 2020 atau dalam tradisi masyarakat Soloraya diistilahkan malam tirakatan 17 Agustus, karena esok paginya merupakan puncak peringatan HUT RI.

Setelah beraktifitas di lingkungan Kementerian PUPR termasuk mempersiapkan upacara peringatan HUT RI, ABY pulang ke rumah agak terlambat. Setelah sejenak bercengkrama dengan keluarga, dia segera beristirahat agar esok pagi kembali fit menjalani rutinitas.
Dalam tidurnya, ABY bermimpi. Dirinya dengan kepala tertunduk, oleh seorang ajudan dipersilahkan memasuki sebuah ruangan kosong dan ditunggu seseorang yang berdiri sambil memegang kursi, sosok yang mengenakan peci dan baju PDL lengan panjang itu berdiri membelakangi kedatangannya. Dia segera duduk di kursi yang tersedia, di depan kursi yang diduduki terdapat meja kecil dan sebuah buku cukup tebal.

“Selamat datang, anak muda,” sapa orang itu sambil membalikkan badannya dan tetap berdiri di samping kursi.

Sepontan ABY menatap wajah orang yang ada di depannya. Betapa kagetnya dia ketika mengetahui wajah orang yang berdiri dengan gagah itu. Seraut wajah berwibawa dan sangat familiar bagi masyarakat Indonesia.

“Bapak Ir Sukarno….!” pekik ABY seketika, tidak menduga kalau akan bertemu dengan sosok legendaris bagi Indonesia itu. Dirinya tidak menyangka dapat berhadapan dengan presiden pertama. Ya, Sang Proklamator, Sukarno…!!!

“Ya, aku Sukarno. Tidak banyak waktuku untuk menemuimu. Aku hanya ingin menunjukkan sebuah buku kepadamu. Bukalah buku yang ada di hadapanmu itu,” perintah Sukarno tegas.

Dengan tangan gemetar karena terkejut dan tidak menduga akan berkesempatan bertemu dengan Sukarno, ABY membuka sampul tebal buku itu.

Di halaman pertama terlihat photo Ir Sukarno dengan baju kebesaran seorang presiden Republik Indonesia. Di halaman berikutnya terdapat photo-photo Bung Karno dengan berbagi aktifitasnya. Halaman berikutnya masih juga photo beliau.

Secara acak, ABY membuka halaman tengah buku tebal itu. Terlihat photo Suharto dengan baju kebesaran seorang presiden. Halaman berikutnya juga masih tampak photo-photo Pak Harto dengan kegiatannya. Entah berapa halaman yang telah dibukanya, masih menampakkan photo Bapak Pembangunan Indonesia itu.

“Coba kamu buka halaman terakhir,” terdengan suara Bung Karno ketika dirinya asyik melihat photo-photo Pak Harto.

Serta merta, ABY menuruti perintah Bung Karno untuk membuka halaman terakhir dari buku tebal itu.

Di halaman terakhir buku tebal itu, terlihat sebuah photo yang tampak muskil menurut pandangan matanya. Terlihat photo dirinya tengah tersenyum, mengenakan seragam kepala daerah. Mengenakan topi dan baju putih dengan sebuah emblem cukup besar tergantung di saku baju.

“Mengapa photo saya ada di sini, Pak?” tanya ABY memperjelas, sambil mendongakkan wajah.

Betapa kagetnya dirinya, ternyata sosok Sukarno yang tadi berdiri di samping kursi itu telah lenyap. Pandangan ABY menyapu sudut ruangan dan mencari keberadaan sosok Sukarno yang baru saja menemui dirinya. Tetap tidak ada.

Sayup-sayup terdengar jago kluruk memecah sunyi tengah malam. ABY terbangun dan secara sepontan mencari keberadaan buku yang tadi dijumpainya. Bantal dan selimut pun disingkirkan, istri yang tengah tertidur pulas pun dibangunkan dan disuruh menyingkir untuk mencari keberadaan buku.

“Ayah mencari, apa?” tanya istrinya.
“Buku. Mana buku tadi…” sergah ABY yang tetap clingukan mencari keberadaan buku yang memuat photo-photo tadi.
“Ayah bermimpi, ya…?”
“Masya Allah…. Aku bermimpi ya…?”
“Ayah mimpi apa sampai ribut mencari buku..?” lanjut istrinya.

ABY pun menceritakan mimpi yang baru saja terjadi kepada istrinya, dari awal hingga akhir.

“Itu tandanya kalau ayah terlalu letih memikirkan persiapan peringatan HUT RI besok pagi…” timpal istrinya.

Waktu menunjukkan jam 03.03 WIB, ABY segera turun dari tempat tidur untuk menjalanakan sholat malam. Dalam kekhusukan sholatnya, ABY memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memberi ampunan kepada dirinya, orang tuanya, keluarganya serta senantiasa memberi kesehatan dan kakuatan kepada dirinya dan keluarganya.

Dalam kekhusukan doanya; terlintas wajah ibundanya yang teduh, tengah terbaring sakit di Tulung Klaten.

Mimpi itu terus bergelayut dalam benaknya. Berhari-hari menjadi perenungan berkepanjangan.

Hingga suatu hari, dirinya kembali di telepon oleh salah satu ketua partai pengusung, menanyakan kesanggupannya untuk bersedia dilamar. Dengan keyakinan bulat, akhirnya ABY memutuskan menerima lamaran ketua partai pengusung itu untuk menjadi bakal calon Bupati Klaten.

Arif Budiyono (ABY) akhirnya berpasangan dengan Harjanta (HJT), salah seorang kader PDI Perjuangan dari unsur Banteng Giras, didukung empat partai parleman yaitu: PKB, PAN, Nasdem dan PPP serta lima partai non parleman diantaranya: Hanura, Perindo, Berkarya, Garuda dan PSI.

Nata Klaten
Sambutan masyarakat atas majunya ABY-HJT dalam kontestasi pilkada Kabupaten Klaten terus mengalir seiring kesadaran bahwa sudah waktunya Kabupaten Klaten melakukan perubahan di berbagai sisi kehidupan tata pemerintahan dan tata kehidupan bermasyarakat.

Adalah Darwin Adinegoro, seorang seniman dari Jogonalan Klaten, notabene anak angkat dalang fenomenal Ki Narto Sabdo, memberikan dukungan dan sedikit memberikan paparan atas keberadaan pasangan calon Bupati Klaten nomer urut 3 itu.

“Coba perhatikan; nama Budiyono itu akhirannya no dan Harjanto itu akhirannya to, digabung menjadi Noto. Semesta alam mendukung (mestakung) bahwa ABY-HJT wis wayahe nata Klaten. Sudah waktunya Kabupaten Klaten ditata dan dipimpin oleh pribadi yang memiliki kapasitas dan kapabilitas pinunjul seperti Mas Arif Budiyono. Sudah terlalu lama Klaten berada di bawah bayang-bayang kepemimpinan keluarga yang nyata-nyata tidak memberi kemajuan. Bukannya semakin maju, tetapi justru semakin tertinggal dengan kabupaten lain,” tegas Darwin Adinegoro ketika ditemui di sanggar seni Bandung Bondowoso Jogonalan.

Darwin menambahkan bahwa dahulu Kabupaten Klaten itu dapat berbangga ketika dibandingkan dengan Kabupaten Boyolali, Sukoharjo atau Wonogiri maupun kabupaten lain di Soloraya. Tapi kini, Klaten semakin tertingal jauh dengan kabupaten lain di Soloraya.

Padahal, jaman dahulu kala, Klaten merupakan wilayah pusat pemerintahan pada masa wangsa Rakai Sanjaya saat Mataram Kuno. Lalu pada masa Mataram Islam, Klaten merupakan wilayah yang makmur dan menjadi wilayah strategis dalam tata pemerintahan Mataram.

“Wis tekan titi mangsane; Klaten pulih mulanira dadi pancere bebrayan agung ing bumi Mataram. Mengko kuasane Gusti Allah lan kekuatane jagat raya sing bakal ndunungake,” pungkas Darwin Adinegoro.

Penulis : Kun Prastowo

Loading...