Opini: Operasi Senyap? Gimana Sih?

3078

Oleh: Andre Vincent Wenas

Kalau dulu Bu Susi melakukan Operasi Berisik (dinamit! tenggelamkan!) yang menggelegar-gelegar memberi efek jera. Maka sekarang menteri Edhy melakukan Operasi Senyap yang sunyi dan belum jelas apa maksud dan dampaknya?

Netizen memang nakal, di laman Kumparan mereka pun berceloteh, “Yang melakukan operasi senyap itu KKP atau malingnya Pak?” (Toto Wanto). Atau ini lagi, “Saking senyapnya tidak ada suara kapal yang berpatroli, membuat para pencuri ikan berpesta pora di Perairan Natuna. Hebat!” (Mosa).

Makin gelap sewaktu wartawan Kumparan bertanya ke Menteri Edhy soal operasi senyap ini. “Kalau saya jelaskan, mereka tahu dong. Gimana sih?” katanya sambil berlalu.

Iya gimana sih?

Maling ikannya beroperasi terang-terangan, sementara patrolinya (katanya) diam-diam alias tak nampak. Lha wong… malingnya sampai bisa berjumpa dengan (dipergoki) para nelayan di perairan Natuna bahkan sampai dibuatkan film dokumenternya kok. Filmnya pun beredar luas, thanks to medsos!

Nilai ekonomis hasil kekayaan laut kita sudah tak perlu dipertanyakan lagi berapa harganya. Kalau dulu mantan Menteri Susi Pudjiastuti mengaku pernah ditawari duit segede gaban (kabarnya 5T!!!) supaya mundur, maka logika berpikir sederhana sudah bisa mengira berapa besar aset kelautan yang bakal (dan telah) mereka raup dari laut Indonesia.

Pak Edhy, yang lebih mengenaskan adalah saat nelayan ini melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib termasuk ke PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) Batam. Laporan masuk tapi tak ada respon tindakan yang memadai nih. Kapal-kapal asing pencuri ikan itu tetap bebas mengeruk hasil laut kita. Bahkan beginilah tanggapan petugas kantor itu saat terima laporan, “…anggaran operasi akhir tahun sudah tidak ada lagi.” Duh!

Entahlah apakah memang begitu, atau ini sekedar gaya lama petugas yang pingin minta uang jalan/transpor atau uang kopi alias pungli. Wallahualam! Yang jelas tak ada aksi pengusiran atau pun pencegahan lagi. Senyap!

Operasi senyap sebagai respon untuk menghadapi operasi pencurian terang-terangan di depan mata yang melotot nampaknya tidak adekuat. Maaf, pernyataan Pak Edhy Prabowo, “Sesuai tupoksinya, begitu ada, kelihatan di alat kontrol, enggak perlu disuruh. Langsung tindak lanjut. Dikejar, ditangkap. Ini operasi senyap, enggak boleh kita ngomong,” cuma sekedar retorika, asal bunyi dan jadi indikasi perilaku inkonsisten!

Venire contra factum proprium: prohibition of inconsistent behavior.  A party cannot set itself in contradiction to its previous conduct vis-à-vis another party if that latter party has acted in reasonable reliance on such conduct.

Perilaku inkonsisten, mencla-mencle, tidak taat asas kabarnya bisa disebabkan beberapa hal. Salah satunya sedang menutupi hal lain yang jadi kepentingannya. Ada lobster di balik batu, begitu kira-kira.

Soal pencurian ikan di laut tidak perlu ada rahasia-rahasiaan kok. Semuanya terlalu gamblang. Tidak perlu senyap-senyapan, suara kapal motor para pencuri ikan sudah meraung-raung dengan nyaring. Jaring pukat mereka sedang ditebar mengeruk trilyunan aset laut kita.

Operasi rahasia bin senyap justru biasanya dilakukan oleh para maling yang mengendap-endap masuk ke kantor pejabat, atau ngajak ketemuan di sebuah cafe, lalu kasak-kusuk sambil bisik-bisik, “…how much?”.  Semoga yang terjadi bukan begitu ya. Insya Allah.

Masih senyap juga? Gimana sih!

27/12/2019

Andre Vincent Wenas, DRS,MM,MBA. Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

Loading...