Langkah Penurunan Stunting akan Berat, Banyak Ibu-ibu di Padang tak Tahu Stunting

TOPIKINI, PADANG – Berdasarkan data Dinas Pengendalian Penduduk Perlindungan Anak Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana kota Padang, stunting di kota Padang berada diangka 24%. Itu artinya, dari 100 anak yang lahir, 24 diantaranya mengalami stunting. Stunting yaitu kondisi gagal tumbuh yang diderita anak, akibat kekurangan gizi kronis sejak masih dalam kandungan.

Secara nasional, angka stunting di Indonesia yaitu 27,4%. Pemerintah menargetkan, pada tahun 2024 nanti angka stunting turun menjadi 14%. Namun masyarakat sendiri, terutama ibu-ibu masih belum tahu dan belum mengerti apa itu stunting.

“Tidak, tidak tahu, belum pernah diberi tahu,” ucap Cici dan Yana, warga Parak Karakah kecamatan Padang Timur kota Padang.

Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang stunting, dikhawatirkan, pemerintah akan sulit mencapai target penurunan angka stunting sebesar 13% dalam tiga tahun mendatang. Sebab berdasarkan data Laporan Pembangunan Jangka Menengah Daerah Sumatera Barat, dalam satu tahun angka stunting hanya bisa diturunkan 0,3 persen.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, bersama anggota Komisi IX DPR RI, berupaya terus mensosialisasikan upaya penurunan angka stunting di tanah air ini, seperti yang dilakukan Sabtu lalu di kecamatan Bungus Teluk Kabung kota Padang. Berbagai strategi dan program sedang disusun pemerintah bersama DPR Ri, agar angka stunting bisa turun atau setidaknya tidak bertambah.

“Pertama konvergensi menyamakan persepsi target pusat dengan target tingkat pedesaan, mengkolaborasikan kekuatan yang ada, jadi konvergensi kedua satu fisi semua sampai kelapangan, kemudian memanfaatkan potensi dinas, potensi kementrian kementrian terkait, serta masyarakat luas,” kata Nofrijal, penyluh KB ahli utama BKKBN RI, saat sosialisasi pendataan keluarga kelompok sasaran bangga kencana bersama mitra tahun 2021, Sabtu (23/10/2021) di halaman kantor Camat Bungus Teluk Kabung kota Padang.

Anggota Komisi IX DPR RI Darul Siska, ikut mendorong program-program yang dilakukan pemerintah dalam upaya penurunan angka stunting di tanah air ini.

“Kami di DPR sudah menganggarkan berbagai kegiatan untuk di masyarakat namanya tim pendamping keluarga, dan itu sudah dimasukkan dalam perpres no 72 tahun 2021, kan nanti ada tim pendamping disetiap desa dan jorong. Kemudian yang kedua kita mendorong juga ada dapur sehat untuk penurunan stunting,” kata Darul Siska, anggota Komisi IX DPR RI.

Stunting menjadi perhatian khusus pemerintah, karena menyangkut masa depan bangsa ini. Jika banyak anak-anak di Indonesia mengalami stunting, dikhawatirkan Indonesia tidak mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Sebab stunting bisa mengakibatkan generasi penerusnya, kurang produktif.(art)