KMI Gelar Diskusi Publik “Membongkar Infiltrasi Dakwah HTI Melalui Rekrutmen Mahasiswa di Kampus”

190

Jakarta – Tak Mau HTI Bangkit Lagi? Yuk Hadiri Diskusi Publik “Membongkar Infiltrasi Dakwah HTI Melalui Rekrutmen Mahasiswa di Kampus”

Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dinilai masih eksis dan tetap menjalankan aktifitasnya meski Pemerintah secara resmi telah mengeluarkan PERPU perihal pembubaran dan pelarangan Ormas yang berideologi transnasional-radikal (anti pancasila) tersebut.

Kaukus Muda Indonesia (KMI) menilai ormas berideologi transnasional semakin meresahkan dan tentu mengancam integrasi dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“HTI masih eksis walaupun status badan hukumnya telah dicabut pemerintah, namun diam-diam HTI justru semakkn masif melakukan aktivitas kegiatan dakwahnya,” kata Ketua KMI Edi Humaidi di kantornya, Jl Salemba Tengah, Jakarta Pusat, Selasa (20/8/2019).

“Setelah tidak legal, HTI justru mengubah orientasi dan haluan dakwahnya yaitu dengan cara “infiltrasi” ke berbagai Kampus untuk tetap berdakwah mempengaruhi anak-anak muda,” papar Edi.

Menurut Edi, tujuannya tidak lain adalah mewujudkan agenda utamanya yaitu mendirikan khilafah.

“Selain infiltrasi ke kampus-kampus, mereka (kelompok transnasional-radikal alias HTI) kerap berlindung dibalik kelompok tertentu semacam forum umat Islam atau partai politik yang dianggap memiliki garis perjuangan politik dan kesamaan flatform, paling tidak sama-sama mempunyai cita-cita khilafah,” ujar Edi.

Atas dasar itu, Edi menyebut KMI akan mengadakan diskusi pubik untuk membongkar gerakan HTI tersebut.

“Temanya Membongkar Infiltrasi Dakwah HTI Melalui Rekrutmen Mahasiswa di Kampus,” ujar Edi.

Edi mengatakan Diskusi Publik tersebut akan diadakan pada hari Kamis 22 Agustus Jam 13.00 WIB yang bertempat di Hotel Sentral Jl Pramuka, Jakarta Pusat.

Diskusi itu akan menghadirkan beberapa narasumber sebagai berikut:
1). Dr. Ainur Rofiq al- Amin (Mantan Aktivis HTI)
2). Nasir Abbas (Mantan Panglima Jamaah Islamiyah)
3). Dr. Bakir Ihsan (Pengamat politik Islam).

(Red)

Loading...