KEM Tikalak, dari Nelayan Jadi Petani Kebun

75

TOPIKINI.COM – Senyum Agus Rama Doni, 35 tahun, mengembang. Di depannya ratusan batang pohon papaya sudah masak dan siap dipanen. Ini adalah panen yang ke sekian kalinya, semenjak dia dan puluhan warga masyarakat Tikalak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, beralih profesi, dari nelayan menjadi pekebun. Sudah terbayang rupiah yang bakal masuk untuk menghidupi keluarganya. Sudah tidak ada lagi kegamangan dalam diri Agus Rama Doni.

Padahal, hampir tiga tahun lalu, dia dan puluhan warga Tikalak lainnya resah menghadapi kondisi perekonomian mereka. Sebab dulunya mereka adalah nelayan. Mata pencarian mereka dari menangkap ikan di Danau Singakrak. Namun hasil tangkapan ikan mereka setiap tahun terus berkurang. Penyebabnya karena polusi Danau Singkarak yang semakin menjadi.

Polusi tersebut berasal dari limbah karamba yang banyak dibangun di pinggiran danau tersebut. Lama-kelamaan, hasil tangkapan menyusut. Otomatis, pendapaan mereka pun menurun drastis.

“Ada diantara kami sampai harus banting stir, bekerja serabutan. Ada yang jadi buruh sawah, kuli bangunan, ada yang kerja di pasar sebagai kuli pasar, dan macam-macam lagi,” kata Doni, nama panggilan Agus Rama Doni.

Untunglah ada dewa penolong. Pertamina Region Wilayah Sumbagut melalui program CSR-nya, datang untuk membangun Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM). Wujudnya berupa perkebunan papaya. Sebab, lahannya dan struktur tanahnya memenuhi syarat untuk itu.

Warga setuju. Akhirnya dibangunlah KEM Tikalak pada tahun 2016 lalu. Sebagai sebuah proyek percontohan, diawali dengan menanam ratusan batang pohon papaya di atas lahan seluas 5 hektar. Ternyata, beberapa bulan kemudian, papaya pun siap dipanen. Dan hasilnya, memuaskan.

Satu KEM atau Kelompok Ekonomi Masyarakat terdiri dari 25 orang anggota, yang merupakan warga setempat. Lahan yang dipakai untuk menanam buah-buahan tersebut juga sekaligus berfungsi sebagai penghijauan, sehingga bisa mencegah longsor.

Agus Rama Doni saat memetik buah pepaya

Papaya yang sudah dipanen itu, kemudian dijual kepada penampung. Pada awalnya, nilai jualnya tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp10 juta. Itu tahap awal. Selanjutnya berkembang dan berkembang terus. Sekarang hasil panennya sudah lebih dari Rp100 juta rupiah. Saat kini, tiap warga yang menjadi anggota kelompok mendapat penghasilan Rp3 juta-Rp5 juta per bulan. Sisanya masuk kas KEM Tikalak, yang menjadi milik bersama.

KEM yang dibentuk Pertamina Region Wilayah Sumbagut ini bukan hanya memberikan bibit untuk ditanam, tetapi juga memberikan pelatihan kepada warga. Sebab tidak mudah bagi mereka untuk beralih profesi, dari nelayan menjadi pekerja kebun.

Kerja sama dengan Flipmas

Program ini berhasil, salah satunya karena kerja sama dengan para dosen dari berbagai perguruan tinggi di Padang, dari berbagai disiplin ilmu. Ketua bidang pendidikan dan pelatihan Flipmas KEM Tikalak Singkarak, Ramaiyulis mengaku kesulitan awal adalah mencoba mengubah masyarakat Tikalak yang semula bermata pencarian nelayan untuk menjadi petani.

“Kami terus mencoba mendorong dan memberi pelatihan-pelatihan hingga akhirnya berhasil seperti sekarang,” ujarnya. Profesi awal mereka sebagi nelayan masih tetap dijalani pada malam hari, dan pagi hingga siang harinya mereka menjadi petani.

Ia menambahkan sebelum menentukan tanaman yang tepat untuk dibudidayakan di Tikalak yang kondisinya gersang, Flipmas Minangkabau yang beranggotakan dosen baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta ini, melakukan penelitian hampir setahun.

“Dahulu lahan tempat program ini sebelumnya gersang menjadi bisa menghasilkan nilai ekonomis,” ungkap Ramaiyulis.

Sementara Unit Manager Communication and CSR PT Pertamina MOR I, Rudi Arifianto, menyebutkan Pertamina sebagai BUMN di bidang energi mencoba hadir di tengah masyarakat untuk memberikan manfaat. Melalui CSR dan Small Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP), sebutnya Pertamina bersama Flipmas berkeinginan membangun Nagari Tikalak, Kecamatan X Koto Singkarak.

Bantuan KEM kawasan Singkarak diserahkan sebesar Rp300 juta untuk pengembangan lahan pertanian dan peternakan agar lebih produktif. Nagari Tikalak, Kecamatan X Koto Singkarak merupakan wilayah perdesaan di tepi Danau Singkarak yang telah menjadi binaan Pertamina sejak tahun 2015.

“Dalam rangka membina masyarakat menuju kemandirian, Pertamina memberi bantuan pembinaan pemanfaatan lahan kepada kelompok binaan sampai penyediaan alat pertanian, peternakan dan pembibitan lahan di kawasan KEM,” jelasnya.

Inilah wujud kerjasama yang harmonis antara Pertamina MOR I dengan masyarakat. Semenjak hasil tangkapan ikan di danau Singkarak menurun drastis beberapa tahun terakhir, mereka kemudian beralih profesi menjadi petani kebun. walau sempat terseoak-seok, akhirnya masyarakat sukses, dan menjadi penyuplai pepaya terbesar, bukan saja di Kabupaten solok, tapi juga di daerah lain di Sumatera Barat, bahkan sudah dipasarkan di propinsi tetangga seperti Jambi dan Sumatera Selatan. (juhardio anse)

Loading...