Kangker Tulang Mengubur Impian Alvaro Menjadi Seperti Asnawi Mangkualam

22

TOPIKINI, PADANG – Seorang pemain bola junior di Padang Sumatera Barat, mesti mengubur mimpinya menjadi pesepakbola terkenal, seperti idolanya Asnawi Mangkualam, karena menderita kangker tulang. Sudah setahun lebih, ia tak bisa lagi bermain bola, dan bahkan kini hanya terbaring di tempat tidur. Kaki bagian lututnya, terus membesar membuat ia tak lagi kuat berjalan.

Kali terakhir Radhitya Alvaro ikut mengharumkan nama Sumatera Barat, yaitu di piala menpora Palembang September 2019 lalu. Saat itu, kesebelasannya meraih juara tiga, antar sekolah sepakbola se Indonesia.

Kini, nasib malang tengah menghampirinya. Sudah setahun lebih, remaja 16 tahun ini divonis menderita osteosarcoma atau kangker tulang oleh dokter. Kaki bagian lututnya membengkak hingga sebesar buah kelapa. Bahkan sudah satu minggu ini, ia hanya bisa digendong ayahnya Amrizal, untuk keluar kamar di rumahnya di daerah Sungai Lareh kelurahan Lubuk Minturun kecamatan Koto Tangah kota Padang.

Menurut Amrizal, sepulang bertanding di Palembang, anaknya merasakan sakit di lututnya, dan dibawa berobat ke dokter. Namun tiga bulan setelah itu, bengkaknya semakin membesar, sehingga ia sulit berjalan.

Setelah diperiksa ke rumah sakit di Padang, dokter menyatakan Alvaro menderita kangker tulang. Kemo dan amputasi adalah saran dari dokter. Ia kemudian memilih kemoteraphi, yang hanya sanggup ia jalani dua kali.

“Kemo sudah diikutinya, Cuma sampai dua kali, karena ia tak sanggup lagi, kakinya semakin membesar, badannya bertambah kurus, kami juga kasihan melihatnya,” ucap Amrizal , ayah Alvaro.

Alvaro, pemain bola junior berprestasi

Amputasi adalah hal yang paling menakutkan bagi Alvaro. Sebab ia ingin menjadi pemain bola seperti idolanya Asnawi Mangkualam, yang kini tengah merumput di Korea Selatan.

“Asnawi kecepatannya membawa bola, dan skilnya juga hebat. Saya ingin seperti dia,” ucap Alvaro lirih.

Cita-cita Alvaro menjadi pemain terbaik, hanya bisa terwujud jika ada dermawan yang mau membantunya. Sebab untuk berobat ke rumah sakit yang lebih presentatif, ia tak punya biaya. Orang tuanya hanya sebagai penjaga depot isi ulang air bersih milik orang lain, dan tinggal di rumah kontrakan.(art)