ISMAFARSI Lakukan Audiensi ke Kemenristekdikti Tuntut Moratorium Prodi S1 Farmasi.

2092

Jakarta – Semakin menjamurnya program studi S1 Farmasi di Indonesia dengan data terbaru berjumlah 242 prodi S1 Farmasi yang mengalami kenaikan 21% sejak desember 2019. Sedangkan jumlah prodi profesi apoteker berjumlah 42 prodi yang mengalami kenaikan hanya 5%.

Hal tersebut menunjukan berbagai institusi yang dengan mudahnya membuka prodi S1 farmasi dan mengakibatkan kesenjangan antara kuantitas prodi S1 Farmasi dan Apoteker. Itulah yang membuat semakin mengkhawatirkannya kondisi Pendidikan Tiggi Farmasi di Indonesia.

Tentu ini menjadi perhatian oleh berbagai pihak termasuk Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI). ISMAFARSI selaku penyambung aspirasi mahasiswa farmasi langsung melakukan audiensi pada hari jumat (21/6) di kantor Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi, Jakarta.

Audiensi tersebut bermaksud meminta kejelasan kepada Kemenristekdikti sebagai penyelenggara Pendidikan Tinggi terhadap meningkatnya jumlah prodi S1 Farmasi yang kian drastis tersebut. Termasuk menindaklanjuti langkah yang dilakukan KEMENRISTEKDIKTI terhadap permohonan moratorium prodi S1 farmasi dari Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan ISMAFARSI.

Aspirasi mahasiswa Farmasi ini disambut baik oleh Dirjen Kelembagaan Dikti Bapak Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc. Beliau mengatakan, bahwa moratorium ini memang sudah diketahui dan dia sudah mendengarkan pandangan dari berbagai pihak termasuk dari kajian APTFI dan ISMAFARSI. Dimana saat ini dilihat sudah dirasa cukup melihat jumlah prodi S1 Farmasi tersebut.

“Saat ini saya sudah mengirimkan nota dinas ke pak menteri, bahwa dirjen kelembagaan dikti merekomendasikan dan menyetujui bahwa prodi S1 Farmasi di moratorium. Kami tinggal menunggu respon dari pak menteri dan setelah itu akan dibuatkan peraturan menteri atau berupa surat edaran, kira-kira begitulah proses yang sedang kami lakukan,” ucap pak Patdono.

Menyikapi hal tersebut, ISMAFARSI menyatakan sikap lewat pernyataan sikap yang disampaikan bahwa menuntut menteri ristekdikti untuk ikut bertanggung jawab atas banyaknya permasalahan yang terjadi di Pendidikan Tinggi Farmasi dan menuntut Menteri Ristekdikti untuk memoratorium prodi S1 Farmasi secepatnya.

“ISMAFARSI akan tetap mengawal proses yang dilakukan kemenristekdikti ini hingga prodi S1 Farmasi benar-benar dimoratorium. Jika tidak dipenuhi kami akan melakukan gerakan yang lebih massif,” tuntut Doni setiawan selaku Staf Ahli Kajian Strategi Advokasi ISMAFARSI.

Kata Doni, kedua belah pihak sepakat akan mengevaluasi institusi yang tidak patuh pada peraturan dan juga sepakat akan visi peningkatan kualitas Pendidikan Tinggi Farmasi. ISMAFARSI mengajak seluruh anggota ISMAFARSI dan seluruh masyarakat farmasi untuk tetap mengawal isu ini hingga tuntas.

“Kita akan terus kawal tuntutan ini, agar bisa terlaksana dengan baik demi peningkatan dan pengembangan dunia farmasi yang lebih proposional dan profesional,” pungkas Doni. (red)

Loading...