Indonesia Masuk Lima Besar Negara Penyumbang Stunting di Dunia

Drg. Putih Sari, anggota Komisi IX DPR RI

TOPIKINI, KARAWANG – Berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan Bappenas tahun 2020, tercatat jumlah penduduk di kabupaten Karawang Jawa Barat sebanyak 2,4 juta jiwa. Dari 2,4 juta tersebut, 2.250 diantaranya adalah ibu-ibu yang sedang hamil.

Hal itu diungkap Direktur Pemaduan Kebijakan Pengendalian Penduduk BKKBN RI, Ir. Milarahmawati. MS, saat menggelar sosialisasi penguatan pendataan keluarga dan kelompok sasaran bangga kencana bersama mitra tahun 2021, Rabu (03/11/2021) di desa Pancawati kecamatan Klari kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Menurut Mila, ada peningkatan ibu hamil selama pandemic covid-19 melanda tanah air ini.

“Dari hasil pendataan sensus penduduk tahun 2020 yang dilakukan Bappenas, jumlah penduduk yang ada di Karawang ada 2,4 juta. Dari 2,4 juta itu, 2.250 ada ibu-ibu yang hamil, kenapa? Pandemi bisa meningkat. Ibu hamil itu biasanya mual-mual, muntah-muntah, kondisi ibu sedang lemah, makanya seharusnya jangan hamil, tapi kalau hamil, bapak-bapaknya harus menjaga ibunya baik-baik, kenapa, karena hamil itu benar-benar harus sehat, harus dijaga makananannya, karena mempengaruhi anaknya didalam kandungan, karena anaknya nanti bisa stunting” kata Milarahmawati dihadapan para peserta sosialisasi.

Ir. Milarahmawati. MS, Direktur Pemaduan Kebijakan Pengendalian Penduduk BKKBN RI

Stunting yaitu kondisi anak yang mengalami gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, sejak dalam kandungan sampai usia dua tahun.

“Masalah stunting bukan hanya di Indonesia, dari data dunia tahun 2018 ada 151 juta balita yang tengah stunting, 55% ada di Asia Tenggara, nah Indonesia penyumbang nomor lima terbesar dunia,karena jumlah penduduk Indonesia 273 juta jiwa, itu nomor empat terbesar didunia, jadi penyumbang terbesar stunting,” katanya lagi.

Mila meneruskan, tahun 2022 nanti, para kader KB, kader PKK dan Bidan akan ditugasi memantau setiap keluarga yang akan memiliki keturunan, agar bisa diantisipasi kondisi yang berpotensi anak stunting.

“Jadi tugas para kader, ibu-ibu PKK serta bidan, untuk memantau ditempatnya masing-masing, siapa yang sedang hamil, ini yang dilakukan program BKKBN. Kenapa kita harus memantau, karena dengan memantau kita mengetahui yang mana yang beresiko tinggi, yang mana yang perlu mendapat prioritas karena akan terjadi beresiko stunting. Karena stunting sangat mengerikan, karena stunting itu yang paling berbahaya mengganggu kecerdasan. Pada saat anak dilahirkan, satu jam setelah melahirkan anak harus didekatkan pada puting susu ibunya, karena itu yang pertama kali yang harus diberikan oleh ibu, karena itu buat meningkatkan kekebalan tubuh bayi,” beber Mila lebih lanjut.

Elma Triyulianti,S.Psi.,MM.,psikolog, Koordinator bidang KSPK BKKBN provinsi Jawa Barat

Koordinator bidang KSPK BKKBN provinsi Jawa Barat, Elma Triyulianti,S.Psi.,MM.,psikolog, menyampaikan beberapa program yang tengah dilakukan BKKBN Jawa Barat.

“Jawa Barat menjadi provinsi terbaik pelaksanaan pendataan keluarga tahun 2021, tentang hasil pendataan keluarga kita masuk kedalam provinsi pelaksanaan terbaik, bersama tujuh provinsi lainnya. Disamping kita sudah juara, pada bulan Agustus lalu, Jawa Barat meraih MURI (Museum Record Indonesia) pelaksanaan pendataan keluarga dengan lintas sector seluruh kabupaten kota serentak,” ucap Elma.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI, Drg. Putih Sari, mengajak masyarakat Karanwang untuk meningkatkan kualitas keluarga.

“Kualitas keluarganya diperbaiki, seperti apa keluarga itu yang berfungsi dengan baik secara internal maupun keluarga ditengah masyarakat, agar nantinya juga menghasilkan atau meluluskan generasi-generasi penerus yang lebih baik dari kondisi bapak ibu sekarang,” tutur Putih Sari.

Selain mengatur kelahiran, Putih Sari juga mengajak warga untuk juga mengatur usia perkawinan sesuai dengan undang-undang perkawinan yang berlaku di negara kita.

“Diatur juga usia pernikahan minimal, perempuan 21 tahun laki-laki 25 tahun, kalau lebih muda dikhawatirkan masa reproduksinya lebih panjang, kesempatan memiliki anak juga lebih besar, tapi juga disamping itu juga ada faktor kesehatan, faktor kesiapan secara mental, secara ekonomi juga, secara ilmu juga, ilmu berkeluarga di usia-usia tersebut sudah siap,” tutupnya.(art)