Harga Sawit di Dharmasraya Terjun Hingga Rp 740 perkilo, Petani Mengeluh

TOPIKINI.COM – Harga komoditi Tandan Buah Sawit (TBS) di Kabupaten Dharmasraya, beberapa hari ini anjlok tajam. Akibatanya petani di daerah itu yang selama ini terkenal dengan daerah petro dolar, saat mengalami kesulitan dengan turunnya harga panen sawit.

Salah seorang petani sawit Yanto (39), kepada awak media mengatakan, saat ini TBS sangat jauh sekali turunnya dengan harga perkilonya mencapai Rp 910 dan senin siang (19/11/2018) sudah mencapai Rp740 per kilogram. Belum perna harga Tandan Buah Sawit (TBS) sampai rendah seperti ini.

“Yang mana kebutuhan hidup saat ini sangat susah belum lagi operasional panen Tandan Buah Sawit (TBS) yang cukup tinggi perawatanya kebun tetap saja besar,” katanya sembari mengernyitkan kening.

Disebutkannya, mulai dari upah pemanenan, ongkos mobil untuk ketempat penjualan tetap saja mahal. Belum lagi biaya perawatanya kebun seperti pemebersihan lahan serta pemupukan.

“Pokoknya susah saat ini, ongkos produksi tinggi sementara harga jatuh. Belum lagi perawatanya yang berat itu membeli pupuk yang harga nya makin mahal saja,” ujar petani sawit tersebut.

Harga TBS yang murah saat ini tidak di barengi harga pupuk yang justru makin tinggi. Jikalau lahan tak dipupuk hasil juga diyakini tidak akan memadai.

“Rata-Rata kenaikan harga pupuk non subsidi itu dikisaran Rp30-40ribu, Jika membeli pupuk satu karung berat 50Kilogram memang uangnya tak seberapa sementara kita beli pupuk satu ton. Jika dulu harga satu karung pupuk jenis KCL cuma Rp270 ribu, saat ini sudah diangka Rp320ribu per karung 50 Kilogram,” imbuhnya.

Itu baru bicara seputaran kebun, sebut saja untuk membayar cicilan keredit di Bank, saat ini petani harus memutar otak untuk menyisihkan uang hasil penjualan Tandan Buah Sawit (TBS).

“Dulu teringat tahun 2008-2013 harga cukup bagus dikisaran Rp1800 per kilogram, ekonomi masyarakat memang mantap, tentu saja kami petani ingin kembali keharga tersebut,”pintahnya.

Sementara di tempat yang berbeda Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya Adlisman, mengatakan, bahwa peranan pemda agak terbatas, hanya bisa menyuarakan ketingkat atas mengenai harga sawit.

“Peranan kita minim, barangkali yang bisa intervensi harga itu adalah pemerintahan pusat,”ujarnya.
Disisi lain, pihaknya akan mencoba mencarikan solusi kesulitan ekonomi, karena rendahnya harga TBS yang dipastikan akan berdampak pada kesulitan lainnya misalkan kesulitan membayar cicilan utang di bank.

“Nanti kita carikan solusi-solusi melalui rapat koordinasi daerah, lalu mengenai cicilan bank masyarakat kita akan coba koordinasikan ke pihak Otoritas Jasa Keuangan(OJK),” ucap sekda Dharmasraya. (mas ek)

Loading...