Diskusi Publik Foreder, Haidar Alwi: Jokowi adalah Presiden Yang Berani Melawan Radikalisme

1466

Jakarta – Dewan Pimpiman Pusat Forum Relawan Demokrasi (DPP FOREDER) menggelar seminar diskusi kebangsaa yang bertema “Sinergitas” Penanganan Gurita Radikalisme, Intoleransi, Terorisme, Sabtu (30/11/2019) di Jl. Layur 10, Rawamangun, Jakarta Timur. Diskusi ini dihadiri oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat FOREDER Aidil Fitri sebagai tuan rumah, Ketua Dewan Pembina FOREDER Haidar Alwi dan Mantan aktivis 98 Faisal Assegaf. Selanjutnya juga hadir Deputi tenaga ahli KSP Rawanda W. Tutorang (Binyo) dan HN Zandy Ketua BMI (Banteng Muda Indonesia).

Ketua DPP FOREDER Aidil fitri dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi yang dilakukan untuk pertama kali ini adalah seri diskusi, yang artinya akan ada seri diskusi-diskusi lanjutan.

“Intinya kita DPP FOREDER tidak akan berhenti dengan diskusi publik saat ini saja, untuk bagaimana kita menyikapi hal-hal kecil dan hal-hal besar terpenting dan bagaimana juga kita menyikapi hal-hal sosial dalam situasi politik saat ini,” ucap Aidil Fitri sapaan akrabnya.

Pada pembukaan seminar tersebut Haidar Alwi menceritakan, pengalaman pribadinya saat diminta menjadi pembicara mewakili umat Islam Indonesia dalam seminar dan pembentukan tim untuk penanganan radikalisme selama 3 hari di Teheran Iran. Kata Haidar disanalah, semua tokoh dunia islam ikut hadir. Dalam seminar itu mereka tokoh dunia Islam sepakat mendukung dan membantu presiden Jokowi dalam upaya pemberantasan radikalisme terutama HTI dari bumi indonesia.

“Tokoh Islam dunia juga mengatakan, Pak Jokowi satu-satunya presiden yang berani membubarkan HTI pada masa jabatan yang dua tahun itu, Selama presiden sebelumnya Soeharto sampai 10 tahun kepemimpinan SBY,” terang Haidar Alwi.

Menurutnya, saat berkuasa SBY pernah mengirim tuan guru bajang sebagai utusan menghampiri kantor ormas HTI masuk dan laporan kemudian tidak ada tindak lanjut, menurut laporan TGB di kantor HTI tersebut tidak didapatkan foto presiden dan lambang garuda. Saat TGB menanyakan, soal tersebut mereka mengatakan bahwa mereka tidak mengakui pemerintah, tidak mengakui Pancasila dan mereka menyatakan akan berperoses untuk mendirikan negara khilafah.

Lanjut Haidar Alwi, Indonesia saat ini terlalu seksi, dengan berbagai sumber kekayaan alam dan energi yang berlimpah. Maka tak heran dari sebagian mereka yang setiap kali mengintai negara Indonesia, sehingga (invisible hand) yang kerap ingin membuat kerusuhan.

“Ada kepentingan-kepentingan asing, agar negara ini menjadi terpecah belah, sehingga kemudian dari kekacauan tersebut mereka mengambil kesempatan dan keuntungan,” tandas Haidar Alwi.

Sementara itu HN Zandy yang merupakan Aktivis 88 mengatakan, bahwa saatnya pemerintah tegas melawan kaum radikalisme. Katanya, kalau bukan sekarang kapan lagi untuk menguatkan benteng Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
“Jokowi harus tegas dan perlu kita dorong untuk memberangus paham radikalisme. Bibit radikalisme sudah ada sejak 20 lalu dan saatnya gerakannya kita hadang dan jangan sampai membesar,” katanya.

Menurutnya radikalisme adalah ancaman nyata yang meronrong 4 Pilar NKRI. Jika dibiarkan maka, tidak mungkin Indonesia akan terpecah-pecah seperti negara Balkan/Yugoslavia, Syuriah, Yaman dan negara lainnya.

“Paham ideologi bangsa Indonesia tidak ada lagi, kecuali Pancasila dan UUD 1945. Pertahanannya NKRI Harga Mati dan Bhineka Tunggal Ika perlu dijaga dan dipertahankan,” ujar HN Zandy.

Dalam kesempatan yang sama Faisal Assegaf Aktivis 98 ini menyampaikan pujian. Katanya, hanya ada beberapa relawan Jokowi yang memiliki tradisi diskusi yaitu ada di Foreder. Menurutnya banyak organisasi yang mengundang tapi saya tolak.

Menurutnya banyak kelompok relawan yang kontruksi berfikirnya sekedar royalitas dalam kekuasaan, tapi kali ini Faisal Assegaf khusus buat Haidar Alwi dan kawan-kawan untuk hadir dalam seminar ini.

Menaggapi isu radikalisme Faisal Assegaf berpesan kepada presiden, rakyat dan semua elemen masyarakat harus memerangi hawa nafsu. Baik itu isu intoleran dan radikalisme,  semua itu hanyalah hawa nafsu yang ada di dalam diri manusia.

“Semua umat beragama, semua suku, etnis dan semua golongan. Jadi semua pemintaan saya kepada pak Jokowi dan para penyelenggara untuk bangkit bersatu memerangi hawa nafsu. Selai itu perlu memastikan kita sebagai anak bangsa untuk solid dan kompak menjaga kebinekaan,” katanya.

Fasial Assegaf menambahkan, semoga kedepan semangat kesadaran semangat persaudaraan dan kebinekaan harus terus dipupuk dan dijaga. Kita juga berharap kepada kawan-kawan foreder konsisten dalam mendukung pemerintahan Jokowi terus mendorong perubahan kearah yang lebih baik, maju dan sejahtera.

Terakhir Deputi Tenaga Ahli KSP Rawanda W. Tutorang (Binyo) menyampaikan pesan bahwa, kita perlu ikut serta membuat agenda setting untuk bangsa ini. Katanya, sekarang adalah saat yang paling tepat karena sebetulnya 100 tahun Indonesia itu sudah di depan mata 26 tahun lagi dari sekarang.

“Hal itu akan terjadi jika kita desain dari sekarang, sebab anak-anak muda itu akan berada pada usia-usia yang matang 100 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2045. Saat itulah mereka mengambil posisi-posisi penting dan strategis pada usia 40-50th, berdialog kepada mereka membicarakan visi dan misi kedepan maka Indonesia maju itu akan terwujud,” ucap Binyo.

Selanjutnya menurut Binyo, generasi muda yang paling berhasil dalam sejarah republik ini dan sampai saat ini adalah generasi 1908 dan 1928. Sebab mereka itu sebelum jamannya sudah membicarakan Indonesia merdeka, padahal mereka tidak punya referensi, tidak punya pengalaman tentang kemerdekaan itu seperti apa.

“Karena wacana dapat mempengaruhi perilaku seseorang, dapat membuat marah orang, dapat membuat orang positif menjadi mudah. Sebarkan konten-konten positif di timeline seperti facebook di linimasa kita, sebab kalau disebar berita-berita positif, maka orang yanf membacanya juga akan berperilaku positif,” tukasnya. (red/rahmat)

Loading...