Caveat dari Paris: Pendidikan Sebagai Serum Anti-Rapuh!

20

Oleh: Andre Vincent Wenas

“We have been fragilizing the economy, our health, political life, education, almost everything…by suppressing randomness and volatility.”– Nassim Nicholas Taleb, ‘Antifragile: How to Live in a World We Don’t Understand’, Penguin Books, 2012.

Lingkungan Ekonomi Dunia.

Bulan November lalu di Paris OECD (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2020 dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Caveatnya: ada risiko stagnasi panjang, konflik perdagangan, lemahnya investasi bisnis, dan ketidakpastian politik yang tak kunjung henti.

Laurence Boone, Kepala Ekonom OECD mengingatkan, ketika bicara prospek 2020 di Paris, “Adalah kesalahan jika mempertimbangkan perubahan ini sebagai faktor sementara yang dapat diatasi dengan kebijakan moneter atau fiskal: mereka adalah struktural. Tanpa koordinasi untuk perdagangan dan perpajakan global, arah kebijakan yang jelas untuk transisi energi, ketidakpastian akan terus membayangi dan merusak prospek pertumbuhan.” Kita sebut saja ini Caveat dari Paris!

Peringatan dini sudah disampaikan, tinggal kita semua mengantisipasinya. Bagaimana caranya?

Menyikapi persoalan struktural, diperlukan tindakan radikal yang berani. Demi mengatasi tingginya tingkat ketidakpastian yang dihadapi bisnis akibat perubahan mendasar di tataran ekonomi global.

Gambaran besarnya rada suram. Pertumbuhan lokomotif ekonomi thn 2020 yaitu AS diprediksi melambat jadi 2%, bahkan sampai 2021. Di kawasan Eropa dan Jepang, pertumbuhan diperkirakan sekitar 1% saja. Eropa yang bergantung pada ekspor, perdagangannya bakal menurun. Pertumbuhan Jerman diproyeksikan sekitar 0,4%. Prancis dan Italia masing-masing sebesar 1,2 % dan 0,4%. Secara global, volume perdagangan barang dan jasa diprediksi melambat ke level terendah selama dekade ini, cuma sekitar 1%.

Penyebabnya, “Setiap peningkatan lebih lanjut dari konflik perdagangan akan mengganggu jaringan pasokan dan membebani kepercayaan, pekerjaan dan pendapatan. Ketidakpastian tentang hubungan perdagangan UE-Inggris di masa depan menimbulkan risiko lebih lanjut untuk pertumbuhan seperti halnya tingkat tinggi utang perusahaan saat ini,” tandas Laurence Boone.

Lingkungan Ekonomi Lokal.

Dampak ketidakpastian dan lesunya perekonomian global berimbas ke tataran lokal. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan tumbuh pesimis. Di tahun 2020 potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sekitar 4,9% – 5,1%. Artinya sama atau bisa lebih rendah daripada tahun 2019.

Laporan BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% secara tahunan (year on year) pada kuartal III 2019. Angka ini beda tipis dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 yang mencapai 5,05% (yoy).

Memang yang terpenting ialah pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen tersebut masih dapat tetap mendukung berjalannya ekonomi dan pertumbuhan permintaan dalam negeri. Aspek penting yang Perlu dijaga adalah confidence level kita bahwa ekonomi Indonesia bisa bertahan.

Perlu pendekatan lebih aktif dan persuasif kepada para pelaku usaha. Program stimulus bagi dunia usaha perlu diperluas, termasuk inisiatif omnibus-law yang bisa memberi kepastian hukum. Ini semua bisa menjaga bahkan meningkatkan level keyakinan para pelaku usaha.

Perang dagang antara AS vs RRT memang ditengarai kuat pengaruhnya terhadap melesunya pertumbuhan ekonomi global maupun lokal. Namun kita toh tidak bisa terus-menerus menyalahkan lingkungan luar, don’t just blame it on the rain! Siap sedia payung sebelum hujan, begitu pesan nenek moyang kita.

Resesi ekonomi bisa saja menjalar ke krisis sosial tatkala dampak kebijakan (mis: pemangkasan anggaran dan peningkatan pajak) justru semakin meresahkan masyarakatnya. Akhirnya belakangan ini banyak pemerintah di berbagai belahan dunia lebih mengedepankan kebijakan yang pro pertumbuhan ketimbang sekedar penurunan defisit anggaran.

Restrukturisasi ekonomi domestik dan pertumbuhan perdagangan adalah dua resep ganda untuk keluar dari tekanan resesi.

Ada pemikiran menarik yang disampikan Arif Satria yang rektor IPB baru-baru ini. Saat menyampaikan pidato refleksi akhir tahun bertajuk “Kebebasan Akademik dan Transformasi Demokrasi” di Jakarta, ia memaparkan, “Indeks inovasi global Indonesia berada di urutan 85, bandingkan dengan Singapura yang berada diurutan 8, Malaysia ke 35, Thailand ke 43, Vietnam ke 42, Filipina ke 54, dan Brunai urutan ke 71.”

Selain soal ketertinggalan dalam hal inovasi, Indonesia mengalami ketertinggalan juga dalam hal daya saing. Indeks daya saing global Indonesia berada di urutan ke 50 dunia dan urutan ke empat di Asia Tenggara di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Lalu soal pangan. Indeks ketahanan pangan global kita nomor 62 dunia dan kelima di Asia Tenggara. Dalam Food Sustanability Indexs (FSI) 2018 Indonesia mendapat skor 59,1, tertinggal dari Ethiopia yang skornya 86,5. Padahal Ethiopia pernah dikenal sebagai negara busung lapar.

Ironisnya, dalam hal food lose and waste atau FLW kehilangan dan pemborosan pangan Indonesia tergolong tinggi. Menurur FAO, FLW kita sekitar 300 kg/kapita/tahun, ini nomor dua dunia setelah Arab Saudi! FLW ini menjadi perhatian dunia karena sepertiga produksi pangan dunia hilang akibat pemborosan.

Sebetulnya, hanya dengan mengatasi FLW ini saja, maka ketersediaan pangan Indonesia akan jauh meningkat. Indeks kelaparan global versi IFPRI menyebut bahwa skor indeks Indonesia sebesar 21 dan skor negara maju kurang dari 5. Pada tahun 1992 skore kita 35,8 dan selama 22 tahun hingga 2016 turun 12,9 persen, atau rata-rata turun 0,6 poin pertahun.

Penanggulannya butuh usaha khusus, sistematis dan serius. Menurut Arif Satria, dengan penurunan 0,6 poin pertahun itu maka diperlukan 27 tahun untuk menyamakan posisi Indonesia dengan negara maju. “Tentu kita mengapresiasi langkah pemerintah untuk mengatasi masalah stunting, karena stunting ini menjadi variabel penting dalam indeks kelaparan global. Bila masalah ini ditangani dengan kerja ekstra keras, maka waktu yang diperlukan untuk setara negara maju maka akan lebih cepat lagi,” katanya.

Dari soal ketertinggalan inovasi, daya saing dan pangan yang kenyataan banyak terbuang-buang itu, apa pelajaran yang bisa kita tarik?

Artinya, kita ditantang jangan hanya berpikir dari sisi permintaan (demand). Ekonomi selalu bicara soal keseimbangan sisi demand dengan sisi supply (penawaran/ pasokan)nya.

Agaknya sejak lama kita hanya dipacu untuk berpikir semata dari sisi permintaan, maka kini kita juga mesti seimbang dengan melihat dan mengusahakan sisi penawarannya. Produktivitas yang dipacu daya inovasi jadi kunci.

Diharapkan agar Indonesia bisa menjadi eksportir berbagai macam produk dan jasa. Produk pertanian, manufaktur, jasa, budaya, kreativitas, dan lain sebagainya. Jadi produsen yang kreatif dan inovatif di pasar global.

Maka pola pikir dan sikap mental mesti diubah. Bahwa selama ini semangat untuk swasembada produk pertanian (pangan) adalah bagus saja, namun tidak cukup. Dalam jangka panjang targetnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi bagaimana bisa ekspor.

Korea sebagai contoh sukses negara yang tidak hanya ekspor produk teknologi/ manufaktur, tetapi juga ekspor budaya. Korea Selatan berhasil mengubah pemikiran dari permintaan ke penawaran.

Tantangan industri dan perdagangan global semakin intense, juga kaotik. Aspek kesadaran hukum internasional sangat imperatif, disamping kemampuan menciptakan produk (penawaran) baru. Daya inovasi bangsa mesti dipacu kencang, sambil juga mengamankan hak kekayaan intelektualnya lewat ekslusivitas paten yang diakui dunia internasional.
Soal paten ini misalnya, PCT (Patent Cooperation Treaty) lembaga dibawah WIPO (World Intelectual Property Organization) dalam Yearly Review 2019 The International Patent System mencatat untuk tahun 2017 Indonesia mendaftarkan 8 patent, tahun 2018: 7 patent. Bandingkan dengan Jepang yang 2017: 48.205 patent, dan 2018: 48.702 patent!

Friksi yang sering kita alami dengan negeri jiran Malaysia soal hak cipta produk budaya seyogianya bisa jadi pelajaran pahit. Malaysia di tahun 2017 mendaftarkan: 141 patent, dan tahun 2018: 143 patent. Dua puluh kali lipatnya Indonesia!

Untuk mengubah pemikiran dari sisi permintaan ke sisi penawaran haruslah didukung pendidikan. Ini seperti software-nya dalam sistem ekonomi penawaran. Proses konsientisasi bangsa lewat jalur pendidikan merupakan imperatif, tak bisa ditawar.

Bisa dengan mengirim sebanyaknya orang Indonesia yang cerdas untuk sekolah di universitas terbaik di segala penjuru dunia. Sambil terus perbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Upside factors semacam inilah yang mesti terus digalang untuk menjadikan bangsa ini anti-rapuh.

Kita sangat berharap banyak pada upaya Menteri Pendidikan Nadiem Makarim yang sedang berupaya menyiapkan Blue Print Pendidikan Indonesia. Ini bisa jadi semacam serum anti-rapuh buat kelangsungan hidup bangsa.

Kabarnya, penyiapan Blue Print atau cetak biru pendidikan Indonesia dan pemeriksaan kualitas bangunan sekolah menjadi sejumlah program yang bakal dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020. Semoga segera terealisasi.

Nadiem menyebutkan, konsep Merdeka Belajar yang baru diluncurkan adalah salah satu bagian dari cetak biru pendidikan Indonesia. Lalu konsep Pendidikan Masyarakat yang menjadi salah satu fokus dalam blue print di tahun 2020 dimana orangtua berperan penting dalam proses pembelajaran anak. Dan faktor infrastruktur, seperti kualitas bangunan sekolah, dll.

Kerapuhan (fragility) mesti dilawan dengan obat anti-rapuh (antifragility), begitu kira-kira usulan Nassim Nicholas Taleb. Dalam kajiannya ia bilang, “…we can almost always detect antifragility (and fragility) using a simple test of asymmetry: anything that has more upside than downside from random events (or certain shocks) is antifragile; the reverse is fragile.”

Selamat berinovasi, fokus pada upside factors, demi meningkatkan daya saing. Caveat dari Paris kita jawab dengan pendidikan sebagai serum anti-rapuh. #SDMUnggulIndonesiaMaju

30/12/2019
Andre Vincent Wenas, DRS,MM,MBA. Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

Loading...