Catatan Perjuangan dan Doa oleh Gus Nuril di Acara Jokowers Jakarta

336
dr. Wendy Setiawati Ketua Umum Jokowers Jakarta dan Dewi Motik Pembina Jokowers Jakarta, RM Suryo Atmanto Ketua Umum Sinergi Nawacita Indonesia (SNCI) dan Ketua Umum Patriot Garuda Nusantara (PGN) Gus Nuril dan para Ketua Umum relawan yang lain. (17/05/2019). Foto: JJ/dok.

TOPIKINI – Inilah pesan dan catatan Gus Nuril tokoh basis Nahdlatul Ulama, seorang Gusdurian dan mantan Panglima Pasukan Berani Mati Gus Dur. Berikut pesan dan catatan Gus Nuril di bawah ini saat disampaikan pada acara Jokowers Jakarta (kerJA KARya nyaTA) bersama SNCI dengan tema Doa untuk Bangsa, Buka Puasa dan Santunan Anak Yatim, Jumat (17/05/2019).

Acara dilaksanakan di Kawasan Taman Kebon Jeruk Intercon, Sekretariat Jokowers Jakarta Boulevard Blok E1/19 Jakarta Barat. Kegiatan ini merupakan wujud syukuran atas kemenangan capres-cawapres Jokowi – KH Ma’ruf Amin dari rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Perjuangan dan Doa

Memang mirip lagu ndangdut.. ya . Tetapi semua ini memang benar benar di lakukan oleh dr Wendy dan Jokowersnya.

Selama tujuh bulan lebih dokter ini tidak kenal lelah . Dia mengikuti cara Jokowi, Blusukan “njajah deso milangkori.”

Melakukan Bhakti sosial, melakukan sentuhan kasih .
Lewat pemberian santunan, hingga merehab rumah ibadah dan gubug penduduk.

Melakukan pengobatan gratis dimana-mana. Apalagi dengan biaya sendiri, ditambah dari iuran temen temen seperjuangannya.

Srikandi satu ini banyak mendapat simpati dari para Sosiawan, seperti Agus Hasan Hanifah dan yang lain, yang merasa tersentuh hatinya menyaksikan saudaranya hidup di bawah garis kelayakan.

Jumat malam kemarin, saya bersama mbak Dewi Motik dan mas Suryo Atmanto, MBA., di undang untuk memberi apresiasi sekaligus doa syukuran. Sekaligus menyaksikan hasil perjuangannya, yang saat ini mulai mengajak orang untuk melupakan 01 dan 02 tetapi memilih 03. Yaitu persatuan Indonesia.

Luka demokrasi tidak boleh dibiarkan menga-nga.
Apalagi terus di korek-korek, karena hanya akan melahirkan kepedihan dan duka.

Bangsa ini musti move on. Berani berangkulan dan saling memaafkan.

Dan sudah saatnya kita kembali berkarya untuk bangsa dan negara.

(Syafrudin Budiman)

Loading...