Bung Adian Napitupulu

Adian Napitupulu (Istimewa)

Jakarta – “Kemenangan bukan saja untuk mereka yang turut berperang. Juga, bagi mereka yang bekerja dalam ketenangan”

Panggilannya Adian. Politisi PDI-P yang belakangan kembali menjadi buah bibir. Kali ini, agak berbeda. Bukan soal debat, bukan soal pandangan politik, tetapi soal foto yang tersebar seantero republik.

Foto yang mungkin diambil dengan kamera telefon genggam biasa, menjadi luar biasa. Foto yang menceritakan dua kejadian dalam waktu yang bersamaan. Kerumunan massa dan seorang yang berdiri sendiri. Itulah awal cerita, dari foto yang tersiar.

Presiden Jokowi memimpin secara langsung pembubaran Tim Kampanye Nasional pemenangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Ini menjadi ajang yang digunakan banayak pihak untuk menatapkan muka kepada Presiden. Tentu, menatapkan muka kepada Presiden adalah barang langka sekaligus penting.

Bagi sebagaian orang, menatapkan muka kepada Presiden menjadi satu alat legitimasi untuk mengatakan ; *I’m the President man*. Bagi sebagian lain, juga tak kalah penting. Berharap, bahwa Presiden mengiat wajah dan namanya. Barangkali, namanya dimasukan kedalam catatan calon mentri, duta besar atau komisaris BUMN. Atau, ada alasan lain yang sulit kita terka karena itu menyangkut kepada kepentingan masing-masing.

Dalam kondisi perang semua orang bekerja dengan penugasan dan keahlian yang dimiliki. Ada yang gugur, depresi atau promosi. Itu biasa.

Nama Adian Napitupulu, begitu jelas ditelinga anak-anak millenial. Memang, dia bukan satu-satunya yang menjadi referensi politik anak millenial. Tetapi, Adian punya satu keahlian. Dia berbicara dalam frekuensi “rakyat biasa”. Politik bagi anak-anak muda Indonesia bukan lagi dipandang dalam ruang ‘formalisme’. Politik dalam struktur sosial menjadi begitu cair dalam pembicaraan publik. Tetapi menjadi begitu beku ketika unsur teologi masuk dengan kepentingan manipulasi elektoral.

Banyak alih-alih politik meletakan laboratorium keilmuannya dalam publik yang berisik. Ada betulnya, tetapi politik sebagai kebiasaan tua manusia dia tidak sepenuhnya bertranformasi akibat teknologi.

Adian bukan semata-mata lahir ditengah publik yang berisik. Dia telah lama menjadi komponen atas gelora perubahan zaman. Atas dasar itu, membicarakan tentang Adian, juga berarti membahas manusia yang hidup dalam peralihan transformasi politik nasional.

Dia, bukan siapa-siapa kecuali seorang ayah sekaligus suami yang mencintai keluarganya melampaui kasak-kusuk politik.

Dia juga bukan siapa-siapa, kecuali seorang aktivis pembela rakyat yang konsisten sejak di jalan hingga di parlemen.

Jika orang bertanya, kenapa Adian tidak lekas berbanjar dibelakang Presiden Jokowi, padahal itu mungkin?

Gue bantu jawab! Karena Adian, mewakilkan banyak orang yang bekerja untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf, yang dengan tulus. Tanpa pernah berharap terkenal, tanpa pernah berharap jabatan. Apalagi, berharap diingat namanya oleh Presiden Jokowi. Mereka yang selalu bekerja dengan ketenangan dalam setiap ketegangan. Mereka yang mungkin bukan siapa-siapa.

Kita tidak pernah tau mereka ada dimana. Mungkin disekitar kita, mungkin juga kerabat kita. Tapi yang pasti, mereka jauh lebih banyak dari jumlah yang mungkin kita tahu.

Salam Akal Sehat 🙏

Dari, oleh dan untuk…
#RakyatAkalSehat

-Tulisan ini beredar di Grup What Apps Ketua Umum Relawan Jokowi-

Gus Din atau Syafrudin Budiman SIP Ketua Umum Presidium Pusat Barisan Pembaharuan (PP BP) bersama Adian Napitupulu politisi PDI Perjuangan dan H. Bustan dalam acara Pembubaran TKN di Restoran Seribu Rasa Jl. H. Agus Salim 128, Menteng Jakarta Pusat, Jumat (26/07/2019). Foto: topikini.com/dok.
Loading...