BKKBN: Angka Perkawinan Usia Dini di Kabupaten Karawang Tinggi

Drg. Putih Sari

TOPIKINI, KARAWANG – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama anggota Komisi IX DPR RI Drg. Putih Sari, Senin (15/11/2021) menggelar sosialisasi penguatan pendataan keluarga dan kelompok sasaran bangga kencana bersama mitra tahun 2021, di desa Jayamukti kecamatan Banyusari kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Saat menyampaikan pemaparannya, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat, DR, Drs Wahidin,M.Kes mengungkap tingginya angka pernikahan usia dini di kabupaten ini. Menurutnya, kebanyakan wanita Karawang menikah di usia 19 tahun.

“Saya punya catatan, yang pertama ternyata di kabupaten Karawang usia kawin pertamanya masih rendah, sekitar 19 tahun. Jadi di kabupaten Karawang rata-rata atau sebagian besar perempuan perempuannya menikah di usia 19 tahun. Padahal program BKKBN 21 perempuan, 25 untuk laki-laki,” kata Wahidin dihadapan para peserta sosialisasi.

Akibat tingginya angka perkawinan usia dini, juga memicu tingginya angka kematian ibu melahirkan.

“Akibatnya angka kematian ibu cukup tinggi. Berapa angkanya, di kabupaten Karawang angka kematian ibunya 109/100.000 kelahiran. Dibandingkan dengan Jawa yang hanya 78, di kabupaten lain ada yang dibawah 20. Jadi bapak/ibu sekalian ingatkan anak kita yang mau menikah, jangan di usia dini,” lanjutnya.

DR, Drs Wahidin,M.Kes

Wahidin mengingatkan bagi remaja yang belum menikah agar merencanakan pernikahan minimal di usia 21 tahun.

“Ingat 21, kenapa 21? Nah ini, kebetulan ada yang belum menikah, jadi ada dua hal yang perlu diketahui, yang pertama perempuan yang kena CaCervick atau yang disebutkan kanker mulut Rahim, itu sebagian besar disebabkan karena sudah berhubungan seksual sebelum umur 20 tahun. Apakah suami istri apalagi hubungan yang tidak sah, sama saja, itu berpeluang kedepan kena penyakit kanker mulut Rahim. Yang kedua yang penting bahwa perempuan itu pertumbuhan tulangnya sampai umur 20 tahun. Maka kalau sebelum umur 20 tahun dia sudah hamil, pertumbuhan tulangnya akan berhenti. Akibatnya apa, dimasa yang panjang cenderung akan terkena osteoporosis,” lengkapnya.

Deputi Bidang Adpin BKKBN RI, Drs.Sukaryo Teguh Santoso M.pd yang juga hadir sebagai narasumber menjelaskan tentang bahaya stunting. Unkapnya, anak stunting di Indonesia saat ini juga banyak. Satu dari empat balita, mengalami stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis sejak dari kandungan hingga usia dua tahun.

“Jadi jumlahnya banyak, dan ini nanti akan tumbuh menjadi remaja menikah dan menjadi orang tua. Jadi sepetiganya balita yang ada di Negara kita mengalami stunting. Selain jumlahnya yang banyak, ini balitanya akan tumbuh mengalami gangguan, selain itu anak balita rawan terkena penyakit tertentu. Dan yang ketiga stunting ini harus kita tangani serius karena apa, karena cirinya stunting ini adalah adanya gangguan pertumbuhan, gangguan di dalam daya berfikirnya, jadi kecerdasannya terganggu, karena dalam masa pertumbuhannya sel otak lebih kurang dua tahun, tidak terpenuhi gizinya dengan baik sehingga akan mengganggu kecerdasannya,” lengkap Sukaryo.

Drs.Sukaryo Teguh Santoso M.pd

Anggota Komisi IX DPR RI, Drg. Putih Sari dalam pemaparannya mengatakan penduduk Indonesia saat ini sudah sangat banyak, yaitu 270 an. Ia mengungkap, di masa pandemi malah terjadi penambahan kehamilan sekitar 800 orang yang sedang hamil baru.

“Dimasa pandemi selama PPKM justu banyak yang hamil, kenapa tuh, 800 ribu penambahan ya, artinya jumlah kehamilan baru selama pandemic kemaren, gak ada kerjaan ya dirumah mulu. BKKBN tidak melarang bapak ibu memiliki keturunan tapi bagaimana kita sama sama mengendalikan memberikan pembatasan secara jumlah, tentu yang sudah terlanjur banyak ini bisa tumbuh menjadi modal pembangunan, menjadi sumber daya manusia yang berkualitas yang bisa mengubah kondisi bangsa menjadi lebih baik, karena penambahan penduduk yang tidak diiringi kualitasnya tentu nannti akan menjadi beban Negara,” ucap Putih Sari.

Putih Sari juga mengatakan Komisi IX DPR RI bersama BKKBN terus hadir memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk mensosialisasikan program BKKBN yaitu bangga kencana (pembangunan keluarga kependudukan dan keluarga berencana) untuk meningkatkan kualitas keluarga-keluarga yang ada di Indonesia.(art)