Ayu dan Spirit Hajar

63

Seperti diceritakan ibu Siwi Tri Puji Budiwiyati dalam catatan perjalanannya meliput haji tahun 2009, mengenai spirit sosok perempuan bernama Hajar. Hajar, seperti disebut pada banyak literatur, adalah simbol wanita yang teralineasi lingkungan sosialnya. Ia seorang manusia yg ditolak oleh sistem sosial di zamannya, tanpa kelas, hidup mengelana jauh dari negeri asalnya, dan sebatang kara. Ia perempuan hitam, simbol manusia kasta terendah pada eranya. Dia seorang asing yg terbuang dan dibenci.

Spirit hajar adalah spirit perlawanan terhadap segala sekat yg membatasi dan mengungkung dirinya. Dia ibu baru-Ismail adalah anak pertamanya-yang tiba tiba harus menjadi single parent di padang pasir yg tandus pula. Tak ada makanan dan pepohonan untuk berteduh. Hanya ada sekantong air yg mulai menipis, bahkan habis tak lama setelah kedatangannya, dan bayi merah buah cintanya bersama Ibrahim AS.

Perintah Allah membuat Ibrahim meninggalkannya bersama Ismail AS di sebuah lembah tandus tak berpenghuni bernama BAKKAH atau MAKKAH. Satu satunya “tetangganya” saat itu adalah sisa sisa pondasi yg diyakini sebagai Rumah Tuhan, Baitullah.

Hajar ihlas menerima takdirnya, tapi tidak lantas menjadi cengeng dan mengasihani diri sendiri. Ia tidak duduk termangu, menangis dan menghujat Tuhannya. Atau mentang-mentang merasa dicintai Tuhannya, maka diam terpaku menunggu keajaiban turun dari langit. Tidak demikian.

Cintanya kepada Allah membawanya pasrah pada kehendak-NYA yg mutlak, tapi tanggung jawabnya sebagai ibu membuatnya harus melakukan satu langkah untuk menyelamatkan diri dan terlebih, anak yg menjadi titipan Tuhannya.

Maka ia berlari mencari air, sumber hidup. Benda ini sungguh menjadi barang mewah di tengah padang pasir yg tandus. Tangis bayinya menyemangati langkah bergegas kakinya, hingga tak sadar, ia bolak-balik pada rute yg sama antara Bukit Shafa dan Marwah-hanya demi menemukan setitik air. Dia dahaga, bayinya juga. Air susunya telah lama mengering.

Pada putaran ketujuh, ia lelah. Bayinya masih meronta. Tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh dari lembah tempat ia meninggalkan Ismail. Dia berlari menuju anaknya, dan mendapati mata air memancar dekat buah hatinya berbaring. Ia berteriak penuh suka cita, _“zummi, zummi!”_, (berkumpullah air, berkumpul)”.
Di lembah gersang itu, Allah mengirimkan sumber kehidupan; air. Kelak kemudian hari, pancaran airnya tidak pernah kering hingga hari ini, sumur Zamzam.

Melalui Hajar, Allah menyodorkan bukti bahwa sekat sosial tak ada artinya. Iman dan ketakwaan, lebih di atas segalanya. Dari seorang budak hitam, lahirlah seorang muliah. Berkat Hajar pula, lembah sunyi *Bekkah* menjelma menjadi sebuah kota. Budak Ethiopia itu menjadi titik mula sebuah peradaban.

Hajar adalah sosok perempuan yg menerima keputusan Tuhan menghadapi cobaan hidup dengan keteguhan hati luar biasa. Dia pejuang hak hidup manusia yg paling gigih yg pernah ada di zamannya.

Lain halnya dengan Ayu, tetangga kami di rumah dinas, ia puteri pertama dari empat bersaudara yg kini duduk di kelas empat sekolah dasar. Kemarin, jumat, (9/8) ia berlari-lari kecil lebih dari 7 kali mengitari lorong menenteng tabung gas 3 kg kosong. Ia mendapat tugas dari ibunya yg sedang menyusui untuk mencari tabung gas guna memasak air dan makanan buat anak-anaknya. Sepanjang sore itu, Ayu belum menemukan tabung berisi gas.

Namun, tabung hijau yg berisi gas itu serentak menjadi barang langkah, sulit di dapat menjelang lebaran haji. Kalaupun menemukan, harganya naik dua kali lipat. Sementara kebutuhan memasak di rumahnya dan persiapan memasak daging kurban (bila dapat bagian) memerlukan cadangan gas yang lebih dari biasanya.

Menjelang malam, kami tidak mendengar aktifitas riuh dari bilik dapur rumah kontrakan adik Ayu, kecuali tangis bayi mungil itu.

Semoga Ayu terus tumbuh menjadi kakak yang tangguh, lincah, dan peduli.

Selamat berlebaran ria bagi yg merayakannya. Bila merebus daging kurban, jangan lupa berbagi kepada tetangga dan orang terdekat Anda.

Kampung Jawa Msb, 10/08/ 2019

_bahar makkutana_

Loading...