APEDI Harapkan Program Kegiatannya Dinikmati oleh Seluruh Elemen Masyarakat Desa

TOPIKINI -Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia (Apedi), menggelar deklarasi nasional di Gedung SMESCo, Jakarta, Kamis (30/01/2020). Organisasi tersebut sebagai bentuk dari kepedulian para pelaku usaha di seluruh Indonesia untuk mempercepat proses pembangunan desa sejahtera dan mandiri.

Presiden Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia (Apedi) M. Irfantoro mengatakan, sebagai organisasi yang independen non-politik, APEDI terpanggil meningkatkan kontribusinya di dalam membangun ekonomi masyarakat di perdesaan.

Apedi memiliki cita-cita luhur yang dituangkan ke dalam visi, misi dan program aksi nyata bersama-sama masyarakat desa dan seluruh instansi lembaga pemerintah dan non pemerintah, mengabdi pada bangsa dan negara.

Dalam waktu 1 tahun 2020 ini tidak akan ada Agenda Kegiatan yang lain kecuali Pembentukan Pengurus-Pengurus Daerah (PD) APEDI di Seluruh Indonesia bahkan harapannya bisa terbentuk sampai tingkat Ranting agar Seluruh Program bisa menyentuh Masyarakat Desa

“Yakni melalui suatu aksi nyata yang jelas, terukur, terkoordinir secara profesional, di dalam suatu sistem networking yang menyeluruh, terintegrasi secara horizontal dan vertikal, mulai dari pusat sampai ke tingkat desa,” ujarnya.

Adapun Visi Apedi, lanjut Irfantoro, adalah mensejahterakan masyarakat desa dan mengentaskan kemiskinan. Misi Apedi diimplementasikan dalam bentuk dukungan diantaranya menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan ekonomi desa dalam bentuk kegiatan, yaitu asistensi, pelatihan dan pendampingan, kerjasama usaha/kemitraan dan investasi dengan menganut prinsip-prinsip berusaha yang saling menguntungkan, saling melengkapi. Setara dan adil proporsional. Kemudian penelitian&pengembangan potensi ekonomi desa serta monitor dan evaluasi dan supervisi lembaga-lembaga penggerak ekonomi di pedesaan dalam suatu sistem tata kelola yang terkoneksi dengan teknologi informatika.

Sebagaimana tuntutan perkembangan kebutuhan pemanfaatan industri 4.0 di wilayah pedesaan. Sehingga secara kolektif partisipatif pelaku usaha mulai dari pusat sampai ke desa-desa, diharapkan dapat mewujudkan desa-desa yang mampu menghasilkan produk-produk unggulan yang berdaya saing di pasar domestik dan pasar internasional.

Serta desa yang memiliki lembaga sosial-ekonomi- budaya yang aktif (Desa sebagai Subyek pembangunan Indonesia). Desa yang memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dan keswadayaan masyarakat yang tinggi di dalam berproduksi dan melibatkan peran serta masyarakatnya secara aktif di dalam setiap mata rantai produksi produk desa. Kemudian desa yang mampu menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) desa.

“Sehingga cita-cita Pemerintah untuk membangun Indonesia dari wilayah pinggiran, betul-betul menjadi fakta, dan hasil-hasil pembangunan tersebut betul-betul dinikmati oleh masyarakat di perdesaan secara merata,” tegas Irfantoro.

Dia menambahkan, peran Apedi pada prinsipnya mengupayakan agar program-program pembangunan di wilayah perdesaan tidak hanya dilihat dari aspek keterbatasan finansial rakyat miskin saja. Namun seyogyanya dipandang diarahkan ke program-program yang menggerakkan roda perekonomian desa.

Diantaranya meningkatkan kerjasama dengan masyarakat desa dan seluruh stakeholders terkait di pusat dan daerah, dalam mengatasi masalah masalah keterbatasan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat pelaku usaha di desa dalam mengelola berbagai potensi sosial ekonomi desa, mengakses faktor-faktor produksi, modal usaha, teknologi produksi, distribusi, dan pemasaran.

“APEDI berperan sebagai mitra pemerintah pusat dan daerah, dan mitra lembaga ekonomi desa,” jelas Irfantoro.

Dia menambahkan, APEDI juga berperan sebagai mediator dan katalisator dalam memberi masukan kebijakan, masukan program afirmatif, dan menjadi bagian dari pelaksana publik private partnership sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat desa.

“Beberapa program unggulan yang akan dilaksanakan oleh APEDI diantaranya, Program JaDOel (Jaringan desa online) dimana utamanya adalah meningkatkan pendapatan desa melalui layanan desa online,” jelas Irfantoro.

Kemudian kata dia, Program AWSEM (antar-warung sembako murah) yaitu program warung sembako murah bagi masyarakat desa khususnya yang berada di wilayah desa-desa yang memiliki ketimpangan harga sembako yang cukup tinggi, dan penyediaan angkutan murah bagi desa. Diantaranta melakukan kerjasama dengan PT ESEMKA (mobil ESEMKA) buatan dalam negeri, membangun jaringan warung grosir dan ekspedisi di setiap desa mitra APEDI.

“Juga program DEMEN (desa mandiri energi) yaitu memanfaatkan sumber daya alam perdesaan untuk kebutuhan energi listrik di wilayah perdesaan yang belum tersentuh aliran listrik PLN. Misalnya berupa program-program wireless electricity, listrik tanpa transmisi menggunakan energi matahari (solar energy), angin dan sebagainya. Dimana nantinya layanan kebutuhan listrik masyarakat desa dikelola secara bersama-sama antara Apedi dengan lembaga ekonomi desa, sehingga menjadi sumber pemasukan profit bagi desa,” jelas Irfantoro.

Program Dividen (Desa Investasi dan Ekspor Nasional) yaitu program yang mengupayakan pengembangan potensi produk-produk unggulan desa yang ditujukan untuk menangkap peluang permintaan pasar internasional (ekspor).

“Melalui penguatan economic of scale produk unggulan kawasan perdesaan, meningkatkan standarisasi produk, sertifikasi produk, penguatan tata kelola rantai suplai komoditi dari
hulu sampai hilir, meningkatkan investasi pihak ketiga untuk membangun dan memperkuat sistem agribisnis produk unggulan desa sesuai potensi desa masing-masing baik berupa produk unggulan tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, kehutanan,” pungkasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Conrad Hendarto mengapresiasi kehadiran APEDI. Serta berharap APEDI dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di desa. (red)

Loading...