Apa Yang Membanggakan Dari Seorang Menag Fachrul Razi? Hanya Sensasi dan Kontroversi!

40

Oleh: Haidar Alwi (Ketua Dewan Pembina Haidar Alwi Institute), Pegiat Anti Radikalisme dan Anti Intoleransi

Selama 100 hari pemerintahanya Jokowi-Ma’ruf dan kabinet Indonesia Maju, banyak hal yang sudah dilakukan dan tidak sedikit pula yang mesti dievaluasi serta dibenahi.

Satu di antaranya yang harus disoroti adalah mengenai kinerja Menteri Agama Fachrul Razi.

Sejak dilantik pada Rabu (23/10/2019) yang lalu, sensasi dan kontroversi yang dilakukan Fachrul Razi lebih menonjol ketimbang kerja nyata yang dilakukannya.

Fachrul Razi yang awal penunjukannya sebagai Menteri Agama diharapkan dapat menumpas intoleransi, radikalisme dan terorisme, justru mencerminkan hal sebaliknya.

Tidak hanya penunjukannya yang sempat menjadi pro-kontra, tapi juga pernyataan, kebijakan maupun tindakannya selama menjabat sebagai Menteri Agama seringkali menuai polemik dan kegaduhan.

Menteri Agama yang seharusnya menjadi Menteri bagi semua agama di Indonesia, hanya sibuk mengurusi hal-hal tidak berfaedah mengenai tetek bengek suatu agama.

Bayangkan! Pejabat negara setingkat Menteri mengurusi cara berpakaian kelompok tertentu yang dikaitkan dengan kadar paparan radikalisme? Sungguh tidak berdasar dan sebuah kebijakan konyol.

Pun dengan bangganya Menteri berlatar belakang militer ini merestui perpanjangan izin ormas radikal yang ditentang banyak pihak.

Beruntung terkait hal ini bukan semata wewenang Menteri Agama, tapi juga Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam).

Andaikan tidak di-rem oleh Mendagri Tito Karnavian dan Menkopolhukam Mahfud MD, mungkin Fachrul Razi telah dikutuk oleh sebagian besar bangsa Indonesia yang anti terhadap intoleransi, radikalisme dan terorisme.

Mungkin juga arwah para pahlawan yang gugur demi NKRI dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, meneteskan air mata karena perjuangannya dinodai begitu saja.

Selepas itu, ada pula kontroversi Fachrul Razi tentang do’a berbahasa Inggris, khotbah tanpa salawat dan yang terakhir soal pemulangan WNI eks-kombatan ISIS dari Timur Tengah.

Memang bukan isu dan wacana baru, tapi kasus terakhir sangatlah serius dan tidak boleh sembarangan karena yang dipulangkan itu bukan barang melainkan manusia yang telah dicuci otaknya dengan paham-paham radikal bahkan telah menjadi teroris.

Bukankah Fachrul Razi sendiri pernah mengatakan bahwa hanya butuh dua jam untuk membangun radikalisme. Sedangkan untuk mengembalikan orang-orang radikal yang otaknya telah diracuni, dua tahun pun tidak akan cukup.

Seakan lupa entah tak paham apa yang telah diucapkannya, atau merasa dirinya memegang kendali atas semua kewenangan, hingga Fachrul Razi dengan gampangnya ceplas-ceplos masalah yang menjadi tanggungjawab beberapa kementerian dan instansi.

Jangan karena seorang Jenderal (purnawirawan) lantas seenaknya saja berbicara melangkahi BNPT, POLRI, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sosial dan lembaga atau instansi lainnya.

Fachrul Razi yang notabene berlatarbelakang militer seyogyanya menyadari potensi ancaman di balik kebijakan pemulangan 600 WNI eks-kombatan ISIS ini.

Dengan situasi sekarang ini saja, apa yang sudah anda lakukan untuk menghantam paham dan kelompok yang bertentangan dengan Pancasila? Apa yang telah anda perbuat untuk harmonisasi kehidupan antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara?

Konflik SARA yang dalam beberapa tahun terakhir menggerogoti kebhinnekaan, bahkan ada yg sdh hampir sepuluh tahun,kasus Syiah Sampang dll, sudahkah mereda? Tidak sedikit saudara-saudara kita minoritas tidak bisa beribadah laiknya warga negara yang merdeka, sudahkah ada solusinya? Apalagi masih hangat kasus pengrusakan mushalla di Minahasa. Anda bisa apa?

Yang ada malah ancaman terorisme di sejumlah titik tidak terhitung lagi. Bahkan, se-elit Wiranto pun telah merasakan perihnya tusukan kelompok radikal tersebut. Ideologi radikal bukan menyangkut keamanan satu atau sekelompok orang saja. Akan tetapi menyangkut segenap bangsa dan rakyat Indonesia.

Kini, setelah pemulangan 600 WNI eks-kombatan ISIS viral dan terlanjur menuai kegaduhan, barulah anda mengklarifikasinya secara lengkap.

Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada arti. Pikir itu pelita hati, Pak Menteri.

Mustahil mewujudkan Visi Indonesia Maju yang menjadi cita-cita Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, bila cara berpikirnya “se-level” Fachrul Razi.

Jika saat ini Presiden Jokowi diharuskan mencopot menterinya karena ketidakbecusan, nama Fachrul Razi laik berada pada urutan paling depan.

Tak ada kinerja yang membanggakan, hanya penuh dengan kekecewaan. Kalau pun ada, hanya sensasi dan kebanggaan seorang Facrul Razi atau loyalisnya sendiri, bukan kebanggaan rakyat dan kontroversi bangsa Indonesia. (HAI)

Loading...