Anggota Komisi IX DPR RI, Putih Sari: Tingginya Angka Stunting Dipengaruhi Pola Asuh yang Salah

drg, Putih Sari, anggota Komisi IX DPR RI saat menyampaikan materi dihadapan peserta sosialisasi

TOPIKINI, PURWAKARTA – Tingginya angka stunting di Indonesia saat ini, membuat pemerintah harus bekerja keras untuk menurunkannya. Dari data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka stunting di Indonesia saat ini 27,4%. Presiden Joko Widodo memberikan beban berat tersebut kepada BKKBN sebagai ketua penurunan angka stunting yang ditargetkan turun ke angka 14% di tahun 2024 nanti.

Salah satu upaya yang dilakukan BKKBN adalah gencar melakukan sosialisasi dengan melibatkan anggota Komisi IX DPR RI sebagai mitra kerjanya. Rabu (13/10/2021), BKKBN dan Komisi IX DPR RI melaksanakan sosialisasi penguatan pendataan keluarga kelompok sasaran bangga kencana bersama mitra tahun 2021 di Desa Parakanlima Kecamatan Jatiluhur kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Tema besar yang selalu disuarakan adalah bahaya stunting terhadap masa depan bangsa.

Dalam acara tersebut, hadir drg. Putih Sari, anggota Komisi IX DPR RI sebagai narasumber. Dihadapan para peserta yang sebagian besar adalah kader-kader KB dan kader posyandu juga masyarakat umum, Putih Sari mengajak agar masyarakat selalu hidup berencana. Yaitu merencanakan pernikahan, merencanakan punya anak, merencanakan jarak kelahiran anak, hingga merencanakan pendidikan anak.

“Yang namanya membentuk keluarga harus terencana, kenapa, karena memang banyak hal yang harus disiapkan, supaya membentuk keluarga-keluarga yang baik, rencana nikahnya seperti apa, mau punya anaknya berapa, jarak antara anak pertama dengan kedua berapa, idealnya berapa, lima tahun, kenapa harus lima tahun, paling tidak anak pertama disiapkan betul betul, karena ini ada hubungannya dengan stunting,” ucap Putis Sari saat menyampaikan materinya.

Putih Sari juga menjelaskan, angka stunting di Indoensia saat ini masih tinggi, sehingga bisa membahayakan masa depan bangsa dan Negara ini.

“Stunting itu bukan hanya karena asupan gizi yang kurang, tapi juga dipengaruhi oleh pola asuh, pola asuh yang salah, nah pola asuh ini  ditentukan lagi oleh pengetahuan dari si orang tuanya baik sibapak maupun si ibu, bagaimana menjaga tumbuh kembangnya, memberi asupan gizi yang baik, menjaga ia dari janin dalam perut sampai dia melahirkan bayi sampai dengan usia dua tahun minimal itu asupan gizinya harus diperhatikan,” lanjutnya.

Setelah anak lahir, orang tua juga mesti selalu menjaga pola asuh, perhatian terhadap si anak, supaya tumbuh kembangnya baik.

“Kenapa harus diberikan jarak, supaya orang tuanya bisa memberikan waktu, kadang-kadang papanya sibuk kerja, ibunya hari gini banyak ibu-ibu rumah tangga yang sambil membantu perekonomian keluarga ada yang usaha, ada yang kerja, tetapi bagaimana tetap bisa memperhatikan tumbuh kembang si anak,” beber Putih Sari.

Apa yang disebutkan Putih Sari, seperti menjaga jarak kelahiran, serta menjaga pola asuh anak, merupakan salah satu upaya untuk menghindari anak mengalami stunting.

“Stunting ini mempengaruhi intelektualitas, perkembangan otak, tidak hanya dilihat secara fisik, tapi juga dilihat kecerdasannya. Kalau kecerdasannya sudah terganggu otomatis kedepannya pada saat dia sekolah nantinya tidak akan maksimal, tidak berprestasi, sulit bersaing, tidak bisa berkompetisi dengan yang lainnya, jadi ini yang harus dipersiapkan benar-benar,” lengkap Putih Sari.

Sosialisasi ini juga dihadiri Drs.Eli Kusnaeli ,M.Pd, Penyuluh KB Utama BKKBN RI. Eli membeberkan angka stunting di Indonesia yang  tergolong tinggi, yaitu dari 100 bayi yang lahir, 27 diantaranya mengalami stunting.

“Berapa jumlahnya seluruh Indonesia yang stunting saat ini, dari 100, 27 lahirnya stunting atau pendek. Ada yang lahirnya tidak stunting, tapi karena pemberian asupan gizinya tidak betul di dua tahun pertama, menjadi stunting,” ucap Eli Kusnaeli.

Dijelaskan Eli, stunting juga sangat berkait dengan kuantitas anak di Indonesia. Ia membandingkan jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu tahun 70an rata-rata 5 sampai 6.

“Kalau dulu tahun 70an di Indonesia, rata-rata anak yang dilahirkan seorang ibu itu 5-6, tapi sekarang rata-ratanya 2,4, dan di Purwakarta angkanya 2,38, jadi sama dengan angka nasional. Itu karena apa, karena keberhasilan kita semua untuk mengatur jarak kelahiran. Nah sekarang aspek kualitas, satu-satunya cara untuk meningkatkan kualitas yaitu dengan menurunkan angka stunting, tadi disebutkan 27%, kita punya target tahun 2024 paling banyak hanya 14% saja, kalau bisa lebih kecil lagi bagus,” lengkap Eli Kusnaeli.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Dr. Drs. Wahidin, M.Kes, dalam pemaparannya menjelaskan upaya pencegahan stunting juga dimulai dari memperhatikan bibit, atau sperma yang baik dan berkualitas saat membuahi indung telur.

“Caranya ternyata tidak susah, tiga bulan sebelum melakukan hubungan pasangan selalu minum vitamin C, tidak merokok. Calon bapak sperma bagus dan calon ibu tidak anemi, apa lagi ditambah doa, maka bibitnya akan joss yang unggul. Karena stunting itu dimulai dari situ, pabriknya, maka kalau pabriknya bagus bibitnya bagus, tinggal ketika hamil pastikan ibunya mendapat gizi yang cukup, pemeriksaan yang rutin, insya Allah lahirnya tidak stunting,” terang Wahidin.

Stunting itu sendiri adalah kondisi anak yang mengalami kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu panjang, di seribu hari pertama kehidupan, mulai dari pembuahan sampai anak berusia dua tahun. Dampak stunting, tubuh anak menjadi pendek, kemampuan konsentrasi belajarnya rendah, dan anak rentan terserang penyakit.(art)