28 dari 100 Anak di Sumatera Barat, Mengalami Stunting

Ade Reski Pratama, anggota Komisi IX DPR RI

TOPIKINI, AGAM – Sumatera Barat adalah daerah di Indonesia dengan angka stunting yang cukup tinggi. Dari hasil riset kesehatan dasar tahun 2019, angka pravelensi stunting di Sumbar 27,7 %. 0,3 % lebih tinggi dibanding angka stunting naisonal yaitu 27,4 %.

Tingginya angka stunting di Sumbar, terungkap saat acara sosialisasi pendataan keluarga kelompok sasaran bangga kencana bersama mitra tahun 2021 yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Komisi IX DPR RI, Sabtu (25/09/2021) di nagari Simarasok kecamatan Baso kabupaten Agam.

Stunting adalah kondisi gizi buruk berat yang diderita anak sejak dari dalam kandungan. Akibatnya, pertumbuhan fisik anak menjadi terganggu atau bahkan cebol, tingkat fokus belajarnya rendah, bahkan cenderung autis, serta mudah terserang penyakit.

Daerah yang paling tinggi angka stuntingnya di Sumbar yaitu kabupaten Pasaman Barat. Menurut Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar, Fatmawati, penyebabnya karena kurangnya tersedia septiteng di daerah tersebut.

“Kenapa angkanya ini sangat tinggi terutama di Pasaman Barat karena ketersediaan saptitank, sehingga bakteri Ecoli saat orang buang air besar tercampur ke makanan itu menyebabkan. Jadi itu adalah penyebab pertama terjadinya angka stunting yang sangat tinggi,” kata Fatmawati, Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar.

Tugas tersebut bagi Sumatera Barat dirasa cukup berat, karena berdasarkan catatan BKKBN, angka stunting hanya mampu diturunkan sebasar 0,3% pertahun, sehingga dalam lima tahun stunting bisa diturunkan hanya 1,5%.

Pemerintah dan berbagai instasni termasuk anggota Komisi IX DPR Ri, dikerahkan untuk sosialisasi penurunan angka stunting di Indonesia karena menjadi perhatian khusus presiden Joko Widodo.

“Kami sangat menghawatirkan bila hampir dua tahun terdampak pandemic covid ini, kita mengkawatirkan angka stunting ini semakin tidak terkendali, karena begitu banyaknya kemerosotan kesejahteraan atau kemampuan sebuah rumah tangga memenuhi kebutuhan gizi yang cukup bagi anak-anak merekasot,’ kata Ade Reski Pratama, anggota Komisi IX DPR RI.

Presiden memberikan tugas kepada BKKBN sebagai koordinator penurunan angka stunting di Indonesia. Jokowi menargetkan, tahun 2024 angkanya turun menjadi 14%, sesuai dengan angka yang di harapakan organsiasi kesehatan dunia WHO.(art)