topikini.com@gmail.com

Pertarungan Pamungkas Jusuf Kalla VS Luhut Panjaitan

Ditulis oleh: Yon Bayu Wahyono

TOPIKINI.COM – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kian gencar menginisiasi gelaran Munaslub Partai Golkar untuk mengganti Setya Novanto. Namun faksi Luhut Binsar Panjaitan (LBP) belum mau menyerah. Siapapun pemenangnya, dipastikan tidak akan mengganggu tiket Presiden Joko Widodo menuju Pilpres 2019.

Jika melihat posisi saat ini, LBP masih unggul jauh atas JK. Saat LBP berhasil mendudukkan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali, 2016 lalu, sepertinya rivalitas keduanya akan selesai.

JK menyadari jika Jokowi mendukung langkah LBP sehingga menyulitkan dirinya untuk melangkah terlalu jauh. Deklarasi dini pencapresan Jokowi oleh Golkar (baca: Setya Novanto), membuat JK semakin salah-tingkah karena mengkritisi Golkar akan ditafsirkan sebagai sikap tidak loyal kepada Jokowi.

JK paham betul, Jokowi seorang petarung Jawa yang sanggup menyingkirkan siapa saja- termasuk pendukungnya sendiri, sambil tersenyum. Masuknya Rizal Ramil ke dalam kabinet adalah bukti saat itu Jokowi mulai gerah dengan kekuatan JK di Istana. Rizal pun sukses memotong langkah JK, antara lain dengan menggagalkan skenario penguasaan Blok Masela yang kaya migas ke kelompok JK. Rizal juga sukses menghempaskan RJ Lino- mantan Dirut Pelindo II, yang merupakan orang dekat JK.

JK sempat dirumorkan hendak mundur karena posisinya benar-benar dijepit oleh kekuatan LPB. Untuk menetralisirnya, Jokowi kemudian mencopot Rizal. Ingat, Rizal dicopot hanya 2 bulan setelah Setya Novanto menjadi Ketua Umum Golkar. Jokowi memanfaatkan isu moratorium reklamasi di pantai utara Jakarta sehingga publik publik tidak melihatnya sebagai bagian dari strategi Jokowi menyeimbangkan kekuatan di lingkar dalam (inner circle) Istana.

Memasuki akhir tahun 2016, JK mendapat suntikan semangat ketika Jokowi membutuhkan dukungan kuat di tengah terpaan badai isu sektarian sebagai imbas memanasnya politik proses politik terkait Pilkada DKI Jakarta. Aksi Bela Islam yang semula membidik Gubernur Jakarta (saat itu) Basuki Tjahaja Purnama, berpindah ke Istana. Tudingan Jokowi melindungi Ahok melalui LBP, menjadi alas pembenarnya. Jokowi yang sebenarnya memainkan dua kaki dengan menyodorkan Anies Rasyid Baswedan sebagai penyimbang Ahok, dibuat kalang-kabut.

JK memanfaatkan situasi itu dengan menjadi penyambung dukungan Jokowi ke kubu Anies. Melalui JK, tim Jokowi- termasuk Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, bergerak ke pesantren-pesantren untuk mencari dukungan sekaligus mematahkan jaringan Susilo Bambang Yudhoyono yang ditengarai mendompleng isu Ahok untuk merusak skenario Jokowi.

Setelah berhasil menenangkan kelompok Islam yang tersinggung dengan ucapan Ahok, Jokowi tanpa ampun “menghabisi” SBY. Kelompok-kelompok yang sempat mempunyai pikiran untuk menjungkalkan Jokowi, akhirnya menarik diri dan sebagian masuk Istana, termasuk Bachtiar Nasir- salah satu tokoh sentral di balik Aksi Bela Islam. Demi karir politik putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, SBY pun menghindari perang puputan dan memilih jalan yang lebih soft.

Setelah Anies duduk sebagai Gubernur Jakarta, JK kembali membuka front dengan kubu LBP yang tengah limbung. JK menjadikan isu korupsi e-KTP yang tengah disidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai jalannya. Satu-satunya hambatan untuk bisa mengendurkan ikatan Jokowi dengan LBP dan Setya Novanto adalah jaminan Golkar tetap akan berada di gerbong Istana sekalipun terjadi pergantian kepemimpinan.

JK meyakinkan Jokowi, Golkar tidak akan meninjau ulang dukungannya sekali pun terjadi pergantian pucuk pimpinan. JK juga menjamin tidak akan menggunakan Golkar untuk menekan Jokowi agar kembali dijadikan Wakil Presiden, apalagi maju sebagai calon Presiden di 2019 mendatang.

Awalnya Jokowi tidak menanggapi manuver JK. Jokowi terkesan membiarkan ulah Setya Novanto menghindar dari proses hukum. Bagaimana pun lebih nyaman tidak mengutak-atik sesuatu yang sudah fix. Terlebih Nasdem juga sudah mendeklarasikan dukungannya. Namun kuatnya tekanan publik yang menghendaki proses hukum terhadap Novanto, memaksa Jokowi berbalik arah. Jokowi tidak ingin kesan dirinya melindungi Novanto karena ada imbal-balik politik, berkembang semakin liar. Jokowi akhirnya “melepas” Novanto yang kemudian diikuti sikap tegas KPK.

Bukan LBP jika mendiamkan manuver JK. Sambil tetap memperkuat faksinya agar bisa mempertahankan posisi Novanto untuk sementara waktu, LBP bergerak cepat dengan menyodorkan nama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebagai pengganti Novanto kepada Jokowi, seperti dikutip dari detik.com (20/11/17).

Airlangga yang dulu ditugaskan merusak dukungan Ade Komaruddin di arena Munaslub Bali, kini dijadikan tumpuan oleh LBP untuk menghadang jagoan JK. Sementara JK belum memunculkan kandidatnya. Namun diprediksi JK tidak akan mendukung Ade Komaruddin, kecuali situasinya memaksa. Sepertinya JK lebih sreg mendukung calon baru yang terbebas dari rivalitas selama kepemimpinan Setya Novanto tetapi memiliki kedekatan dengan Jokowi.

Salah satu nama yang miliki kans paling besar untuk mendapat dukungan JK adalah Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK). Putra politisi senior Ginanjar Kartasasmita tersebut saat ini menduduki posisi Ketua DPP Golkar Bidang Pengabdian Masyarakat. AGK pernah dipecat dari Golkar karena memilih mendukung pasangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014 lalu sementara Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie secara resmi mengusung pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. AGK sempat berada di kubu Agung Laksono saat terjadi dualisme kepemimpinan. Namun AGK tetap diakomodir dalam kepengurusan Setya Novanto sebagai bagian dari kompromi politik di tubuh Golkar.

Rivalitas JK – LBP di di tengah kemelut yang dihadapi Golkar saat ini, akan menjdi pertarungan pamungkas. Meski keduanya tetap aman di Istana, tetapi situasinya akan berubah manakala jagoannya menang. Jika LBP yang menang, maka posisi keterwakilan Golkar di kabinet akan tetap. Tetapi andai JK mampu mempecundangi LBP, konstelasi politik di lingkar Jokowi ikut berubah. Di samping menarik loyalis LBP, JK diyakini akan meminta tambahan kursi Golkar di kabinet.

Salam @yb Penulis Yon Bayu Wahyono

Loading...

Tinggalkan Balasan